STRUKTURALISME

Dian Nuzulia

I. Pendahuluan

Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi seorang pengarang terhadap gejala-gejala sosial di lingkungan sekitarnya. Karya sastra diciptakan pengarangnya untuk menyampaikan sesuatu kepada penikmat karyanya. Sesuatu yang ingin disampaikan pengarang adalah perasaan yang dirasakan saat bersentuhan dengan kehidupan sekitarnya.

Namun, pengarang bukanlah sekadar memindahkan apa yang disaksikan dalam kehidupan ini ke dalam karyanya, lebih dari itu. Pengarang memberikan isi dan sekaligus menafsirkan sesuai dengan keyakinan dan cita-citanya. Dengan karyanya, pengarang berusaha mengungkapkan manusia dengan penderitaannya, nafsunya, perjuangannya, cita-citanya dan sebagainya (Suharianto, 1982:11).

Karya sastra hendaknya dapat memberikan nilai estetis yang menyenangkan dan memberikan manfaat yang dapat memperkaya pengalaman batin pembaca. Hal ini senada dengan hakikat dan fungsi karya sastra yang dikemukakan Horrace (dikutip Suharianto, 1982:19), yaitu dulce et utile, artinya menyenangkan dan berguna, bukanlah merupakan suatu tujuan, melainkan merupakan suatu akibat.

Hal ini berarti bahwa karya sastra di samping menyenangkan harus berguna, atau sebaliknya. Dengan kata lain, kesenangan yang ditimbulkan oleh setiap karya sastra haruslah kesenangan yang berguna. Kegunaan yang mampu menjadikan para penikmatnya peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan, mendorong lahirnya perilaku-perilaku yang mendatangkan manfaat bagi kehidupan.

Salah satu bentuk karya sastra yang membicarakan manusia dengan segala perilaku dan kepribadiannya dalam kehidupan adalah novel. Membaca karya fiksi berupa novel berarti kita menikmati cerita, menghibur diri untuk memperoleh kepuasaan batin, memberikan kesadaran mengenai gambaran kehidupan dan belajar untuk menghadapi masalah yang mungkin  akan kita  mengenai gambaran  kehidupan  dan belajar  untuk menghadapi masalah yang mungkin akan kita alami.

Sebagai karya, novel merupakan hasil ungkapan, ide-ide, gagasan dan  pengalaman pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Sebagai karya imajiner, novel menawarkan berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan dan kemudian diungkapkan kembali melalui sarana sastra dengan pandangannya.

Untuk menganalisis suatu karya sastra, terutama karya fiksi berupa novel diperlukan orientasi yang menentukan arah atau corak kritik sastra. Menurut Abrams (dikutip Pradopo, 2007:140) bahwa ada empat pendekatan terhadap karya sastra, yaitu pendekatan (1) mimetik yang menganggap karya sastra sebagai tiruan alam (kehidupan), (2) pendekatan pragmatik yang menganggap karya sastra itu adalah alat untuk mencapai tujuan tertentu, (3) pendekatan ekspresif yang menganggap karya sastra sebagai ekspresi perasaan dan pikiran pengarang, (4) pendekatan objektif yang menganggap karya sastra sebagai otonomi, yang terlepas dari alam sekitarnya, pembaca dan pengarang.

Dalam mengkaji karya sastra berdasarkan teori strukturalisme hanya mementingkan karya sastra itu sendiri, terutama struktur intrinsik. Hal ini dikarenakan teori strukturalisme tergolong pendekatan objektif, sehingga peneliti hanya memusatkan perhatian pada karya sastra itu sendiri, khususnya unsur intrinsik sebagai unsur pembangun karya sastra dan latar belakang sosial budaya. Hal ini sejalan dengan pendapat Teeuw, tak ada karya sastra yang lahir dalam kekosongan budaya (dikutip Pradopo, 2007:57). Dengan kata lain, sastra lahir dalam budaya yang tercermin dari kehidupan manusia. Terlebih lagi, sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah kegiatan karya seni (Wellek dan Warren, 1990:3).

Masalah yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu apakah strukturalisme itu dan bagaimanakah unsur intrinsik atau unsur pembangun karya sastra yang meliputi tema, latar, plot, tokoh dan penokohan, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Penulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai strukturalisme dan unsur intrinsik atau unsur pembangun karya sastra yang meliputi tema, latar, plot, tokoh dan penokohan, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat.

II. Strukturalisme

A. Pengertian Strukturalisme

Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi unsur dalam suatu karya sastra (cerpen, novel, roman dan sebagainya) (www.wikipediaindonesia.com). Hawkes (dikutip Pradopo, 2007:75) mengatakan bahwa strukturalisme adalah struktur yang unsur-unsurnya saling berhubungan erat dan setiap unsur itu hanya mempunyai makna dalam hubungannya dengan unsur lainnya dan keseluruhannya.

Menurut Jabrohim (2003:55) dalam menganalisis strukturalisme suatu karya sastra, hanya memusatkan perhatian pada otonomi sastra sebagai karya fiksi. Artinya, penyerahan pemberian makna karya sastra yang dimaksud terhadap eksistensi karya itu sendiri, tanpa mengaitkan dengan unsur-unsur di luar signifikansinya. Hal ini dikarenakan strukturalisme tergolong pendekatan objektif yang hanya mengkaji karya sastra itu sendiri.

Sejalan dengan pendapat itu, Teeuw (dikutip Jabrohim, 2003:55) menyatakan bahwa analisis struktural merupakan tugas prioritas bagi seorang peneliti sastra sebelum ia melangkah pada hal-hal lain. Hal itu berdasarkan anggapan bahwa pada dasarnya karya sastra merupakan “dunia dalam kata” yang mempunyai makna intrinsik yang hanya dapat digali dari karya sastra itu sendiri. Jadi, untuk memahami makna karya sastra secara optimal, analisis strukturalisme yaitu unsur pembangun terhadap karya sastra adalah suatu tahap yang sulit dihindari atau secara lebih ekstrem hal itu harus dilakukan.

B. Kajian Strukturalisme dalam Karya Sastra

Penulis menggunakan pendekatan struktural karena pendekatan ini memandang karya sastra sebagai teks mandiri. Dengan pendekatan ini penulis bermaksud untuk menjaga keobjektifan sebuah karya sastra, sehingga untuk memahami maknanya, karya sastra harus dikaji berdasarkan strukturnya sendiri, lepas dari latar belakang sejarah, lepas dari diri dan niat penulis dan lepas pula dari efeknya pada pembaca (Jabrohim, 2003:54).

Strukturalisme dalam penelitian sastra yang memusatkan perhatiannya pada elemen atau unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Elemen itu disebut unsur intrinsik, yaitu unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur itu menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita (Nurgiantoro, 2004:23).

Stanton (dikutip Nurgiyantoro, 2000:207—243) menyatakan bahwa unsur pembangun dalam sebuah karya sastra sebagai berikut.

a. Tema

Tema (theme), menurut Stanton dan Kenny (dikutip Nurgiyantoro, 2000:67), adalah makna yang terkandung oleh sebuah cerita. Namun, ada banyak makna yang dikandung dan ditawarkan oleh cerita itu, maka masalahnya adalah makna khusus yang mana dapat dinyatakan sebagai tema.

Menurut Hartoko dan Rahmant (dikutip Nurgiyantoro, 2000:67), untuk menentukan makna pokok sebuah cerita, kita perlu memiliki kejelasan pengertian tentang makna pokok ,atau tema itu sendiri. Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka ia pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita. Tema bisa berupa persoalan moral, etika, agama, sosial budaya, teknologi, tradisi yang terkait dengan masalah kehidupan.

b. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi, sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita, sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut penokohan (Aminuddin, 2004:79). Penokohan atau perwatakan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita; baik lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa: pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat-istiadatnya dan sebagainya (Suharianto, 1982:31).

Teknik pelukisan tokoh dalam suatu karya sastra naratif/fiksi dibedakan menjadi teknik ekspositoris, atau teknik analitik dan teknik dramatik (Nurgiyantoro, 2000:90). Teknik analitik adalah pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh hadir dan dihadirkan oleh pengarang kehadapan pembaca secara tidak berbelit-belit melainkan langsung mendeskripsikan sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau ciri fisiknya. Teknik darmatik merupakan pelukisan tokoh dilakukan secara tidak langsung. Pengarang tidak mendeskripsikan secara langsung sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh cerita.

c. Plot / Alur

Salah satu elemen terpenting dalam membentuk sebuah karya fiksi adalah plot cerita. Dalam analisis cerita, plot sering pula disebut dengan istilah alur. Menurut Nurgiyantoro (2000:110), plot/alur adalah rangkaian peristiwa yang tersaji secara berurutan sehingga membentuk sebuah cerita. Plot atau alur merupakan cerminan atau perjalanan tingkah laku para tokoh dalam bertindak, berpikir dan bersikap dalam menghadapi berbagai masalah dalam suatu cerita. Suharianto (1982:28) mengatakan plot/alur adalah cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat, sehingga merupakan kesatuan yang padu, bulat dan utuh.

Plot/alur suatu cerita terdiri dari 5 bagian, yaitu:

  1. Pemaparan atau pendahuluan, yakni bagian cerita tempat pengarang mulai melukiskan suatu keadaan yang merupakan awal cerita.
  2. Penggawatan, yakni bagian yang melukiskan tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita mulai bergerak.
  3. Penanjakan, yakni bagian cerita yang melukiskan konflik-konflik mulai memuncak.
  4. Puncak atau klimaks, yakni bagian yang melukiskan peristiwa mencapai puncaknya. Bagian ini dapat berupa bertemunya dua tokoh yang sebelumnya saling mencari, atau dapat pula berupa terjadinya “perkelahian” antara dua tokoh yang sebelumnya digambarkan saling mengancam.
  5. Peleraian, yakni bagian cerita tempat pengarang memberikan pemecahan masalah dari semua peristiwa yang terjadi dalam cerita atau bagian-bagian sebelumnya.

d. Latar/Setting

Latar/Setting yaitu tempat atau waktu terjadinya cerita. Kegunaan latar atau setting dalam cerita, biasanya bukan hanya sekedar sebagai petunjuk kapan dan dimana cerita itu terjadi, melainkan juga sebagai tempat pengambilan nilai-nilai yang ingin diungkapkan pengarang melalui ceritanya tersebut (Suharianto, 1982:32)

Nurgiyantoro (2000:230) mengatakan unsur-unsur setting dibedakan menjadi tiga unsur pokok, yaitu setting tempat, setting waktu dan setting sosial. Setting tempat adalah settingyang menggambarkan lokasi atau tempat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Setting waktu adalah setting yang berhubungan dengan masalah “kapan” waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Setting sosial menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Setting sosial dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan dalam sebuah cerita.

e. Sudut Pandang

Sudut pandang atau point of view adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya (Aminuddin, 2004:90). Sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Abrams dikutip Nurgiyantoro, 2000:24).

Menurut Suharianto (1982:36) ada beberapa jenis pusat pengisahan, yaitu:

1)    Pengarang sebagai pelaku utama cerita. Dalam cerita dengan jenis pusat pengisahan ini, tokoh akan menyebut dirinya sebagai aku. Jadi seakan-akan cerita tersebut merupakan kisah atau pengalaman diri pengarang.

2)    Pengarang ikut main, tetapi bukan pelaku utama. Dengan kata lain, sebenarnya cerita tersebut merupakan kisah orang lain, tetapi pengarang terlibat di dalamnya.

3)    Pengarang serba hadir. Dalam cerita pengisahan jenis ini, pengarang tidak berperan apa-apa. Pelaku utama cerita tersebut orang lain; dapat dia atau kadang-kadang menyebutkan namanya, tetapi pengarang serba tahu apa yang akan dilakukan atau bahkan apa yang ada dalam pikiran pelaku cerita.

4)    Pengarang peninjau. Pusat pengisahan ini hampir sama dengan jenis pengarang serba hadir. Bedanya pada cerita dengan pusat pengisahan jenis ini, pengarang seakan-akan tidak tahu apa yang akan dilakukan pelaku cerita atau apa yang ada dalam pikirannya. Pengarang sepenuhnya hanya mengatakan atau menceritakan apa yang dilihatnya.

f. Gaya Bahasa

Nurgiyantoro (2000:272) berpendapat bahwa, bahasa dalam seni sastra dapat disamakan dengan cat dalam seni lukis.Keduanya merupakan unsur bahan, alat, sarana, yang diolah untuk dijadikan sebuah karya yang mengandung “nilai lebih” daripada sekedar bahannya itu sendiri.Bahasa merupakan sarana pengungkapan sastra.Lebih lanjut, Suharianto (1982:26) menyatakan bahwa, betapa besar peran bahasa dalam sebuah cerita, pastilah semua orang mengakuinya.

Dalam karya sastra, istilah gaya mengandung pengertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca. Sejalan dengan pendapat di atas, Scharbach menyebut gaya “sebagai hiasan, sesuatu yang suci, sebagai sesuatu yang indah dan lemah gemulai serta sebagai perwujudan manusia itu sendiri (Aminuddin, 2004:72)

Bentuk-bentuk gaya bahasa dapat berupa majas. Pemajasan yang banyak dipergunakan pengarang adalah bentuk perbandingan atau persamaan, yaitu membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain melalui ciri-ciri kesamaan antara keduanya, misalnya yang berupa ciri fisik, sifat, sikap, keadaan, suasana, tingkah laku dan lain-lain. Bentuk perbandingan tersebut dilihat dari sifat kelangsungan pembandingan persamaannya dapat dibedakan ke dalam bentuk simile, metafora, dan personifikasi (Nurgiyantoro, 2000:298).

g. Amanat

Amanat merupakan pesan atau hikmah yang dapat diambil dari sebuah cerita untuk dijadikan sebagai cermin maupun panduan hidup. Melalui cerita, sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan dan yang diamanatkan (Nurgiyantoro, 2000:322).

C. Analisis Kajian Strukturalisme terhadap Novel Cinta Adinda Karya Afifah Afra

Sinopsis Novel Cinta Adinda Karya Afifah Afra

Novel Cinta Adinda mengisahkan tentang seorang perawat Rumah Sakit Jiwa Surakarta yang bernama Adinda. Ia hidup seorang diri dan tinggal di sebuah kamar kos. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang pengusaha sukses, Brata Kusumah. Adinda kehilangan ibunya ketika melahirkannya. Konon ia memiliki ayah, tetapi entah dimana keberadaannya. Hingga dewasa, dia tidak pernah melihat sosok lelaki itu.

Adinda menjalani hidupnya sebagai perawat biasa yang mempunyai rasa kagum terhadap Dr. R.M. Irhamudin Prasetyo, Sp.KJ yang merupakan dokter spesialis jiwa pada rumah sakit tempat Adinda bekerja. Dokter yang mendapat predikat Man of The Year ini mampu membuat mata gadis-gadis perawat rumah sakit itu terpana dan jatuh cinta, kecuali Adinda. Adinda hanya mempunyai rasa kagum, tidak lebih dari itu.

Lelaki muda dengan tampang tampan memang mampu menyita perhatian kaum hawa. Namun bagi Adinda, kehadiran dokter itu hanya untuk menyembuhkan sakit mantan majikannya dulu. Sedikit angkuhnya dokter Irham membuat Adinda takut untuk meminta bantuannya. Apalagi jadwal dokter super sibuk, ia bekerja di Rumah Sakit Jiwa Surakarta, dan membuka sebuah klinik bernama Klinik Mentari sekaligus staf pengajar di sebuah PTN di Kota Solo. Terlebih lagi tunangannya baru kembali dari Paris, setelah menempuh pendidikan S-3 dalam bidang hukum. Hal ini membuat dokter Irham sulit ditemui.

Marissa, tunangan Dokter Irham kembali ke Indonesia bersama teman kuliah yang bernama Anne, yang ternyata kekasih tunangannya. Ia tidak pernah menyangka Marissa tipikal wanita modern yang berpendidikan Barat, yang mandiri, lugas dan feminis, ternyata seorang lesbi. Sebagai dokter jiwa ini bukanlah hal baru baginya. Tetapi, ia hanya dapat menelan pil pahit atas kenyataan ini.

Untuk kedua kali cintanya kandas di tengah jalan. Dulu ia putus dari Dokter Saskia Widiastuti karena dia lebih memilih menikah dengan dokter bedah saraf yang kaya raya, Dr William Sumampouw. Beberapa masalah yang timbul menyebabkan dokter Irham bad mood. Putus dari Marissa dan munculnya dokter Saskia. Hal ini menyebabkan dokter Irham menjadi pemarah.

Adinda selalu berusaha menemui dokter Irham, namun penyakit Pak Brata semakin parah.Sudah belasan kali, Pak Brata Kusumah mencoba bunuh diri. Keinginan itu harus dikubur, ia harus mencoba dokter lain, Dokter Baskara Adiwarman, Sp. KJ.

Sudah beberapa kali Dokter Baskara memeriksa Pak Brata dan telah menunjukkan kemajuan. Tetapi biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit, sehingga tabungan dan gaji Adinda terkuras habis. Padahal ia baru seminggu yang lalu gajian. Ia harus mencari pekerjaan tambahan. Rupanya keseringan begadang menyebabkan fisik Adinda menurun, terlebih lagi 6 hari berturut-turut jaga malam.

Fisik yang menurun, menyebabkan Adinda salah memberi obat yang menyebabkan pasien sakit jiwa overdosis untunglah tidak berakibat fatal. Akan tetapi, Dokter Irham marah besar kepada Adinda karena kecerobohannya bisa menyebabkan kematian seseorang. Tangisan Adinda meledak saat Dokter Irham semakin menyudutkan ia atas kesalahan ini. Tiba-tiba Adinda pingsan.

Dokter Baskara mengundurkan diri sebagai dokter Pak Brata Kusumah, karena tersinggung perkataan Lukito, anak kedua Pak Brata Kusumah. Adinda juga dilarang datang ke vila di Tawang Mangu. Sebulan kemudian, Adinda dihubungi Bu Marto, pembantu Brata Kusumah.Ia mengatakan Ndara Brata mencoba bunuh diri lagi. Adinda tidak tahu dokter yang dapat menolong Ndara Brata.Dokter Baskara sudah terlanjur sakit hati.

Tiba-tiba Dokter Irham muncul, hanya ia harapan Adinda untuk menolong Pak Brata. Ternyata Dokter Irham mengenal Pak Brata Kusumah, sehingga dengan tulus ia bersedia memberikan perawatan pada Brata Kusumah. Brata Kusumah yang didiagnosa menderita Skizofrenia paranoid. Tetapi, Dokter Irham menduga Pak Brata hanya depresi berat. Karena itu, ia akan memeriksa kondisi Pak Brata setelah mendapatkan persetujuan anak-anaknya.

Niat dokter disambut dingin oleh ketiga anak Pak Brata. Malah mereka berusaha menculik orang tuanya dan disembunyikan agar tetap gila.Ternyata Pak Brata bisa lolos dan menemui Adinda.Ini menyebabkan anak Pak Brata mengkambinghitamkan Adinda karena menculik ayah mereka. Tetapi, ia bebas berkat bantuan Dokter Irham. Lambat laun ketulusan dan kesabaran Adinda merawat Pak Brata membuat hati  Dokter Irham luluh.

Dokter pun berusaha mengungkapkan penyebab depresi yang terjadi pada diri Brata Kusumah.Saat itu, pelan-pelan tabir kelam terkuak, Adinda yang tidak ingin kehilangan sosok yang dicintainya, yang merupakan ayah kandung. Ternyata dulu ibunya adalah pembantu di rumah Brata Kusumah dan telah dinikah siri. Tapi, ia sadar sulit bagi Brata Kusumah untuk mengakui ia sebagai anak. Terlebih lagi ketiga anak Brata Kusumah menolak.

Apalagi surat wasiat yang menerangkan bahwa Adindalah yang mewarisi seluruh kekayaan ayah mereka. Hal ini membuat ketiga anaknya berusaha membuat Brata Kusumah mengalami depresi dan menjadi seperti orang gila untuk mengagalkan surat wasiat itu.Tapi, itu belum cukup, mereka juga berusaha membunuhnya dan Adinda.Usaha itu berhasil digagalkan Dr Irham.

Setelah memantapkan hati, dokter Irham memutuskan melamar Adinda dengan bantuan dokter Syamsudin, dokter yang sudah dianggap kakek yang pernah menolongnya waktu ia masih kecil. Rupanya lamaran Irham ditolak secara halus oleh Adinda.Lagipula Adinda ingin lebih berkonsentrasi dalam perawatan dan penyembuhan ayahnya, Brata Kusumah yang jauh lebih penting baginya.

1) Tema Novel Cinta Adinda

Novel Cinta Adinda karya Afifah Afra ini bertemakan tentang kesetiaan anak terhadap orang tua. Walaupun banyaknya rintangan yang dihadapinya, namun nurani Adinda selalu berkata benar sehingga Allah swt. mempertemukan kembali anak dan ayah. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Dia percaya bahwa Adinda adalah anaknya.” (Afra, 2008:229).

“Lagipula, untuk sementara saya ingin lebih berkonsentrasi merawat ayah saya.” (Afra, 2008:237).

Pada tema yang membangun cerita novel Cinta Adinda berkaitan dengan sudut pandang pengarang serba hadir dengan menggunakan kata ganti (dia).

2) Tokoh dan Penokohan Novel Cinta Adinda

a. Tokoh

Setelah membaca novel Cinta Adinda karya Afifah Afra disimpulkan bahwa rangkaian peristiwa yang ada terjalin dari beberapa tokoh.Tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama, yaitu Adinda. Tokoh tambahan, yaitu Dokter Irhamudin, Brata Kusumah, Tommy, Lukito, Juwita, Saskia, Mirna, Bapak dan Ibu Marto, Marissa, Dokter Wisnu, Dokter William, Dokter Raharja, dan Ibu Dokter Irhamudin. Novel Cinta Adinda karya Afifah Afra ini menggunakan teknik ekspositoris atau teknik analitik, pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung.

b. Penokohan

1. Adinda

Tampang Adinda jelas di atas rata-rata. Manis, seperti Desy Ratnasari, meski kesan lugunya masih terlihat jelas. Sikapnya yang tenang dan cenderung pendiam, membuat dia semakin terlihat manis. Manis dan lugu, sebuah tampilan yang mahal untuk lelaki sekarang  (Afra, 2008:22).

Adinda digambarkan tokoh yang manis, lugu dan pendiam. Penokohan Adinda berkaitan dengan sudut pandang pengarang serba hadir dengan menyebut nama tokoh, Adinda.

2. Dokter Irhamudin

Seorang lelaki berusia 30-an dengan tampang yang memang mampu membuat setiap wanita ber-sport jantung tatkala bertatapan dengannya. Rambut hitam berombak yang ujung-ujungnya nyaris menyentuh bahu, wajah bersih dengan lekak-lekuk tajam, sepasang mata teduh khas aristokrat, alis tebal, dan bibir yang segar kemerahan. Siapa yang kuat untuk tidak terus memandangnya tanpa merasakan keterpesonaan yang dahsyat  (Afra, 2008:16).

Dokter Irhamudin digambarkan sebagai seorang yang tampan, kaya dan pintar. Penokohan Irhamudin berkaitan dengan gaya bahasa alegori menggambarkan fisik tokoh.

3. Brata Kusumah

Sebelum orang datang dan menggorok leherku atau memuntahkan pelor ke dadaku, lebih baik kupaksa jiwa ini untuk segera melayang. Hidup ini sudah kehilangan makna. Bahkan untuk sekedar tetes terakhir dari sebuah makna, ia telah tiada. Betapa pentingnya arti mati bagiku (Afra, 2008:11).

Brata Kusumah digambarkan dengan seorang yang mengalami depresi, sehingga sering mengalami keputusasaan dalam hidup. Penokohan Brata Kusumah berkaitan dengan gaya bahasa personifikasi memberikan sifat manusia pada benda mati, yaitu pelor.

4. Tommy, Lukito, Juwita

“Silakan masuk, Dokter!” ujar Tommy, mempersilakan dengan gaya santun aristokratnya. Tentu saja. Kami ingin semuanya teratur dan tidak serabutan …….. bagaimanapun kami adalah anak-anak Brata Kusumah, kamilah yang berhak mengurusi bapak kami” ungkap Lukito sambil melirik Adinda.

“Berapa gajimu di RSJ, Din? Kami bisa menggantinya dua atau tiga kali lipat lebih banyak dan kamu tidak perlu lagi bekerja di sana!” ujar Juwita, putri bungsu Brata Kusumah (Afra, 2008:175—176).

Ketiga tokoh yang merupakan kakak beradik ini digambarkan sombong dan menganggap segala sesuatu dapat diselesaikan dengan uang. Penokohan ketiga tokoh berkaitan dengan amanat, dimana ketiga tokoh tidak pernah bersyukur atas apa yang dimiliki bahkan bersikap sombong pada orang lain.

5. Dokter Saskia

“Wanita cantik berwajah mirip Angelina Jolie itu. Dia justru terlihat semakin cantik, anggun dan nature setelah memiliki dua putra dan usianya menginjak kepala tiga” (Afra, 2008:84).

Saskia merupakan mantan kekasih Dokter Irhamudin digambarkan sebagai orang cantik dan sifatnya penyayang. Penokohan Dokter Saskia berkaitan dengan sudut pandang pengarang serba hadir dengan menggunakan kata ganti (dia).

6. Marissa

“Aku memang belum ingin menikah. Karier yang tinggi sudah terbuka di depan mata. Dekan mengatakan, aku sangat prospektif …. mungkin malah menjadi menteri kelak. Pokoknya masa depanku terbentang sangat cemerlang” (Afra, 2008:100).

Marissa digambarkan sebagai orang yang pintar dan ambisius, sehingga mengganggap karier lebih penting dibandingkan menikah dengan Dokter Irhamudin. Penokohan Marissa berkaitan dengan latar sosial, dimana tokoh Marissa tipikal wanita modern berpendidikan Barat, yang mandiri, lugas dan feminis.

7. Tokoh Tambahan Lainnya

Bapak dan Ibu Marto, Dokter Wisnu, Dokter William, Dokter Raharja, dan ibu Dokter Irhamudin. Kesemua tokoh tambahan digambarkan penulis secara sekilas, sehingga tidak ada perwatakan yang jelas pada tokoh-tokoh itu dikarenakan penokohan pada tokoh-tokoh itu mengalir begitu saja.

3) Plot/Alur

Dalam novel Cinta Adinda karya Afifah Afra menggunakan alur gabungan, yaitu percampuran antara alur lurus dan alur sorot balik. Novel ini memuat alur lurus pada awal kemudian pada bagian akhir menggunakan alur sorot balik.

Alur Lurus:

  1. Pemaparan : Adinda bekerja di Rumah Sakit Jiwa Surakarta
  2. Penggawatan : Adinda berusaha menemui Brata Kusumah yang dinyatakan gila oleh anak-anaknya melalui Pak dan Bu Marto, dan Adinda berusaha menemui Dokter Irham untuk pengobatan sakit yang dialami Brata Kusumah
  3. Penanjakan : Adinda dimarahi dan dituduh oleh anak-anak Brata Kusumah telah menculik ayahnya
  4. Puncak : Adinda masuk penjara dan reputasi sebagai perawat yang alim dipertaruhkan
  5. Peleraian : Adinda berhasil menjalani cobaan hidup dan dapat bertemu serta merasakan kasih sayang seorang ayah yang selama ini didambakannya.

Pada alur lurus berkaitan dengan setting waktu dimulai dengan Adinda bekerja di RSJ. Adinda berusaha menyembuhkan Brata Kusumah dengan mencari dokter jiwa terbaik. Tetapi malah dituduh menculik oleh ketiga anak Brata Kusumah. Berkat bantuan dokter Irhamudin, Adinda bebas.

Alur Sorot Balik:

  1. Pemaparan : Adinda bekerja di Rumah Sakit Jiwa Surakarta
  2. Penggawatan : Adinda berusaha menemui Brata Kusumah yang dinyatakan gila oleh anak-anaknya melalui Pak dan Bu Marto, dan Adinda berusaha menemui Dokter Irham untuk pengobatan sakit yang dialami Brata Kusumah
  3. Penanjakan : Adinda dimarahi dan dituduh oleh anak-anak Brata Kusumah telah menculik ayahnya
  4. Puncak : Adinda masuk penjara dan reputasi sebagai perawat yang alim dipertaruhkan.

Saat memasuki masa peleraian, pengarang menjelaskan sesungguhnya perihal Adinda yang merupakan anak kandung Brata Kusumah. Baru cerita dapat dipahami penyebab mengapa ketiga anak Brata Kusumah tega menjebloskan Adinda ke penjara. Mereka juga berusaha membuat Brata Kusumah mengalami depresi berat. Hal ini dikarenakan Adinda yang menjadi pewaris tunggal kekayaan Brata Kusumah.

Peleraian : Adinda berhasil menjalani cobaan hidup dan dapat bertemu serta merasakan kasih sayang seorang ayah yang selama ini didambakannya

Keseluruhan alur dapat dipahami dengan jelas berdasarkan gambaran dari pengarang, sehingga alur campuran yang digunakan pengarang dapat membuat cerita yang semula diperkirakan akan berakhir dengan cinta yang berbalas ternyata tidak dan kesetiaan yang ada ternyata hanya untuk ayahnya, Brata Kusumah.

Pada alur sorot balik berkaitan dengan setting waktu dimulai dengan Adinda bekerja di RSJ, yang berusaha menyembuhkan ayahnya. Ternyata Adinda memperoleh harta warisan yang membuat cemburu ketiga anak Brata Kusumah dan berusaha membunuhnya.

4) Latar/Setting

Dalam novel Cinta Adinda karya Afifah Afra menggunakan latar/setting di Rumah Sakit Jiwa Surakarta dan vila Brata Kusumah. Setting sosial yang tergambar jelas yaitu adat ningrat kebangsawanan. Dari tata cara panggilan dan percakapan yang ada, seperti kanjengrama, kanjeng ibu, ndoro, ngapunten, nduk, ngger, Raden Mas, Den Ayu telah menggambarkan setting kebangsawanan.

“Keheningan pagi di rumah sakit jiwa yang asri itu mendadak pecah oleh bisik-bisik serumpun paramedis berseragam khas yang tengah menjejali tempat jaga perawat Ruang Sena” (Afra, 2008:16).

“Malam telah larut ketika beberapa sosok tubuh berpakaian serba hitam itu mengendap-endap menuju bagian belakang vila yang dibatasi pagar beton yang menjulang” (Afra, 2008:174).

“Mobil-mobil mewah memasuki halaman vila megah itu satu persatu” (Afra, 2008:174).

“Kanjeng rama pernah mengajaknya menghadiri perjamuan yang diadakan oleh beliau.Mereka memang sama-sama memiliki trah kebangsawanan yang cukup kental dari Keraton Surakarta” (Afra, 2008:164).

Pada setting tempat berkaitan dengan tema tentang kesetiaan anak kepada ayah dan berusaha menyembuhkannya, karena itu Adinda bekerja di Rumah Sakit Jiwa Surakarta untuk menemukan dokter jiwa terbaik di negeri ini.

5) Sudut Pandang

Dalam novel Cinta Adinda karya Afifah Afra menggunakan sudut pandang serba hadir, karena pengarang menyebutkan nama tokoh terus menerus dan terkadang menggantinya dengan kata dia.

Entah  hal itu benar atau hanya improvisasi manusia kurang kerjaan, yang jelas hingga kini, dia tidak pernah bertemu dengan sosok yang semestinya dia panggil ibu dan ayah. Entahlah Adinda tak mau memikirkannya karena hanya membuat hatinya dan luka.

Tugas di rumah keluarga Brata tidak terlalu berat, apalagi jika dibandingkan dengan seluruh pekerjaan di rumah bibinya yang seakan seluruhnya menjadi bebannya. Dia hanya ditugasi menyetrika, mencuci dan membersihkan ruangannya  (Afra, 2008:57).

Pada sudut pandang yang digunakan dalam novel Cinta Adinda berkaitan dengan penokohan tokoh yang digambarkan pengarang. Penokohan Adinda yang merindukan sosok ayah dan amanat saat tokoh Adinda tetap tabah menghadapi perlakuan bibinya.

6) Gaya Bahasa

Dalam novel Cinta Adinda karya Afifah Afra menggunakan gaya bahasa hiperbola, perumpamaan, dan litotes. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

Namun, bibir itu kini keriput kehitaman. Sangat serasi jika dikawinkan dengan suara serak yang terasa lebih tajam dari pisau jagal ketika melewati gendang telinga. (Afra, 2008:10).

Sebuah suara yang menyirat jelas nada keputusasaan, jika diibaratkan bebunyiaan, akan terdeteksi menyerupai kaset yang diputar di sebuah tape recorder kadarluarsa, atau seperti batang kering yang patah tertimpuk angin, berderak, parau dalam alun yang semakin lama makin lembek  (Afra, 2008:10).

Saya bukanlah sosok yang tepat untuk mendampingi manusia hebat seperti dokter. Saya hanya perawat miskin yang tak selevel dengan posisi dokter (Afra, 2008:236).

Pada gaya bahasa hiperbola dan perumpamaan yang digunakan dalam novel Cinta Adinda berkaitan dengan penokohan Pak Brata Kusumah yang putus asa dan depresi atas kejadian yang dialaminya, sedangkan gaya bahasa litotes berkaitan dengan penokohan Adinda yang merasa tidak pantas untuk Dokter Irhamudin, padahal dia pewaris tunggal kekayaan Brata Kusumah dan sanggup membayar 100 dokter jiwa seperti dirinya.

7) Amanat

Dalam novel Cinta Adinda karya Afifah Afra, amanat yang terkandung adalah sebagai  berikut

  1. Sebagai anak, kita wajib menyayangi ayah, walaupun sang ayah tidak pernah mengakui keberadaan kita.
  2. Kita wajib merawat orang tua kita, saat usia lanjut, terutama saat mereka sakit.
  3. Bekerja sebagai dokter adalah pengabdian bukan semata-mata sebagai sarana mengeruk kekayaan.
  4. Kita harus tabah dalam menghadapi cobaan yang diberikan oleh Allah swt.
  5. Kita harus selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah swt.

Pada amanat yang terkandung dalam novel Cinta Adinda berkaitan dengan setting tempat Rumah Sakit Jiwa Surakarta, tempat Adinda bekerja dan berusaha mencari dokter untuk menyembuhkan Pak Brata, ayahnya. Dikaitkan dengan setting sosial, Dokter Irhamudin yang mengenal Pak Brata dan bersedia merawatnya tanpa mengharapkan bayaran. Berdasarkan penokohan tokoh anak Brata Kusumah, Tommy, Lukito, dan Juwita yang sangat sombong dan serakah tidak pernah bersyukur atas apa yang dimiliki.

III. Penutup

Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi unsur dalam suatu karya sastra (cerpen, novel, roman dan sebagainya). Dalam menganalisis strukturalisme suatu karya sastra, hanya memusatkan perhatian pada unsur intrinsik sebagai unsur pembangun karya sastra. Unsur intrinsik, yaitu tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa dan amanat. Kajian strukturalisme hanya memperhatikan unsur intrinsik, karena strukturalisme tergolong pendekatan objektif dalam teori kritik sastra.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: