TES BAHASA

Dian Nuzulia

A. Pengertian Tes Bahasa

Menurut Arikunto (dikutip Iskandarwassid dan Dadang, 2008:179—180), tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. Selanjutnya, menurut Nurkancana, tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dibandingkan dengan nilai yang dicapai anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.

Definisi di atas bila dikaitkan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas, maka tes adalah suatu alat yang digunakan oleh pengajar untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam memahami suatu materi yang telah diberikan oleh pengajar. Menurut Djiwandono (2008:12), tes bahasa adalah suatu alat atau prosedur yang digunakan dalam melakukan penilaian dan evaluasi pada umumnya terhadap kemampuan bahasa dengan melakukan pengukuran terhadap kemampuan bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.

B. Pendekatan Tes Bahasa

Tes bahasa dalam kedudukannya memiliki kaitan yang amat erat dengan komponen-komponen lain dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa, terutama komponen  pembelajaran  yang  mendasarinya  yaitu  kegiatan  pembelajaran.  Hal serupa berlaku pula pada tujuan pembelajaran untuk menyelenggarankan pembelajaran dengan seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran untuk mengetahui tingkat keberhasil an dilakukan evaluasi atau tes bahasa dengan melihat keempat kemampuan bahasa. Ketiga komponen itu berkaitan satu sama lain.

Secara umum pendekatan terhadap bahasa yang akan menentukan dan mendasari dalam menyelenggarakan pendekatan pembelajaran bahasa. Pendekatan pembelajaran bahasa menentukan pendekatan dalam menyelenggarakan tes bahasa berdasarkan keempat kemampuan bahasa. Penyelenggaraan tes bahasa tergantung pada sudut pandang dan unsur yang dianggap penting oleh para ahli.

Perbedaan pandangan itu dikelompokkan dalam bentuk (1) Pendekatan Tradisional, (2) Pendekatan Diskret, (3) Pendekatan Integratif, (4) Pendekatan Pragmatik, (5) Pendekatan Komunikatif (Djiwandono, 2008: 17—30).

  1. Pendekatan tradisional dalam tes bahasa dikaitkan dengan pembelajaran bahasa tradisional. Pendekatan ini dirancang hanya untuk memenuhi kebutuhan akan keperluan sesaat. Dengan kata lain, tes bahasa dilakukan terbatas pada kebutuhan untuk mengetahui tingkat kemampuan tertentu seperti menulis dengan bahan ajar yang menitikberatkan pada tata bahasa.
  2. Pendekatan diskret dalam tes bahasa didasarkan atas paham linguistik struktural yang menganggap bahasa sebagai sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian yang tertata menurut struktur tertentu. Dalam penggunaan tes pendekatan diskret, tes ditujukan untuk mengukur hanya satu unsur dari komponen bahasa. Tes pendekatan diskret diterapkan atas dasar pemahaman konvensional terhadap bahasa yang terdiri dari empat kemampuan bahasa dan empat komponen bahasa.

Tabel 1

Komponen Bahasa Kemampuan Bahasa
Menyimak Berbicara Membaca Menulis
Bunyi Bahasa  

Struktur Bahasa

Kosakata

Kelancaran Berbahasa

+ 

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

  1. Pendekatan integratif yang diterapkan pada tes integratif juga berdasarkan pada paham linguistik struktural dengan rincian bahasa ke dalam kemampuan dan komponen bahasa dan unsur-unsurnya yang dapat dipisah. Meskipun demikian pendekatan tes integratif tidak selalu tampil secara terpisah-pisah dapat juga dalam gabungan (integrasi) antara satu unsur dengan satu atau lebih unsur bahasa lainnya. Dengan kata lain, tes integratif mengukur tingkat penguasaan terhadap gabungan dari dua atau lebih unsur bahasa.
  2. Pendekatan pragmatik pada tes pragmatik berkaitan dengan kemampuan untuk memahami suatu teks atau wacana. Pemahaman tidak terbatas pada bentuk dan struktur kalimat, frasa dan kata dan unsur yang digunakan dalam teks atau wacana. Pemahaman lebih jauh diperoleh melalui konteks ekstra linguistik, yaitu aspek pemahaman bahasa di luar apa yang diungkapkan melalui bahasa dan meliputi segala sesuatu dalam bentuk kejadian, pikiran, perasaan, persepsi, ingatan dan lain-lain. Penerapan tes pragmatik yang paling sering dikaitkan dengan tes cloze, di samping dikte.
  3. Pendekatan komunikatif dikaitkan dengan tes bahasa tentang konteks ekstra linguistik seperti pendekatan pragmatik, namun cakupan yang lebih lengkap dan lebih luas, karena bertitik tolak dari komunikasi sebagai fungsi utama dalam penggunaan bahasa. Peranan dan pengaruh unsur-unsur non-kebahasaan yang lebih ditekankan pendekatan ini. Kemampuan komunikasi berkaitan dengan penguasaan terhadap tiga komponen utama, yaitu (1)  kemampuan bahasa (language competence) meliputi struktur, kosakata, makna, (2) kemampuan strategis (strategic competence) yaitu kemampuan untuk menerapkan dan memanfaatkan komponen-komponen kemampuan bahasa dalam berkomunikasi lewat bahasa. (3) mekanisme psiko-fisiologis, yaitu proses psikis dan neurologis yang digunakan dalam berkomunikasi lewat bahasa. Secara singkat kemampuan komunikatif sebagai kemampuan yang digunakan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan situasi nyata, baik secara reseptif maupun secara produktif (ability to use language appropriately, both receptively and productively, in real situations)

C. Jenis-Jenis Tes

Menurut Ibrahim dan Nana (2003:89—92), keahlian dan kecakapan menyusun soal tes merupakan pernyataan mutlak yang harus dimiliki setiap pengajar. Dengan soal yang baik dan tepat akan diperoleh gambaran prestasi siswa yang sesungguhnya. Demikian pula sebaliknya, dengan soal yang tidak tersusun dengan baik dan tepat, tidak akan diperoleh gambaran tentang prestasi siswa yang sesungguhnya.

1. Tes Subjektif

Tes subjektif berupa uraian bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik menguraikan apa yang terdapat dalam pikirannya tentang sesuatu masalah yang diajukan guru. Tes bentuk uraian terbagi atas dua jenis:

a. Uraian bebas, yakni tes yang soal-soalnya harus dijawab dengan uraian secara bebas. Kelemahan bentuk tes ini adalah sukar menentukan standar jawaban yang benar sebab jawaban peserta didik sifatnya beranekaragam.

Contoh:

Masalah dan kesulitan apa saja yang mungkin harus dihadapi dalam penerapan Pengajaran bahasa Indonesia dengan Pendekatan Kontekstual di Indonesia?

b. Uraian terbatas, yakni tes yang soalnya menuntut jawaban dalam bentuk uraian yang lebih terarah. Tes uraian jenis kedua ini lebih mudah memeriksanya, karena dapat (lebih mudah) ditetapkan standar  jawaban yang benar. Contoh:  Sebutkan ciri-ciri kata kerja (verba) ?

2. Tes  Objektif

Tes objektif sangat beragam jenisnya. Setiap jenis memiliki nilai kegunaan masing-masing sesuai dengan maksud dan tujuan diadakannya evaluasi. Tes objektif adalah tes yang penskorannya dapat dilakukan dengan tingkat objektivitas yang tinggi. Penilaian satu peserta didik tidak akan berbeda bila seandainya penilaian dilakukan beberapa korektor.

a. Tes Benar – Salah (True-False Test)

Tes Benar-Salah

Petunjuk:

  1. Berdasarkan wacana yang baru didengarkan, nyatakanlah kebenaran masing-masing pernyataan berikut.
  2. Lingkarilah huruf B bila pernyataan ini benar, atau huruf S bila pernyataan tersebut salah.

Contoh

Lagu kebangsaan Indonesia Raya diciptakan oleh                        B           S

W.R. Soepratman

  1. Jumlah penduduk Indonesia saat ini, dua kali lebih       B         S

banyak daripada jumlah penduduk Indonesia ketika

naskah yang dibacakan itu ditulis.

Soal ini dibuat dalam bentuk pernyataan. Tugas peserta didik adalah membaca dan menetapkan apakah pernyataan itu benar atau salah. Agar tidak terjadinya kekacauan dalam menentukan pilihan, soal tes hendaknya secara tegas membedakan benar dan salahnya suatu pernyataan berdasarkan konsep tertentu. Contoh tes benar-salah berdasarkan pendapat Djiwandono (2008:39) dalam tes menyimak sebagai berikut.

B

  1. Terdapat beberapa puluh bahasa di Indonesia               B         S
  2. Di samping bahasa daerah, bahasa Indonesia                 B         S

Merupakan bahasa kedua bagi banyak orang

Indonesia

  1. Yogyakarta menjadi ibukota RI sampai dengan 1995   B         S
  2. Sejak berdirinya, wilayah Indonesia terdiri dari tiga      B         S

wilayah waktu

b. Tes Pilihan Ganda (Multiple-Choice Test)

Bentuk soal ini menyediakan sejumlah kemungkinan jawaban, satu di antaranya adalah jawaban yang benar. Tugas peserta didik adalah memilih jawaban yang benar itu dari sejumlah kemungkinan (options) yang tersedia.

Contoh: Pilihlah satu kemungkinan jawaban yang benar dengan memberikan tanda silang (x) pada pilihan a, b, c, atau d yang terdapat di depan jawaban tersebut.

Mengapa hari ini Tutik tidak pergi ke sekolah?

  1. Dia sedang sakit
  2. Dia pergi ke luar kota
  3. Dia mengira hari ini libur
  4. Dia terlambat bangun.

c. Tes Menjodohkan (Matching Test)

Dalam tes ini, peserta didik diminta menjodohkan atau mencocokkan  secara tepat setiap butir soal dengan pasangannya pada kemungkinan jawaban. Tes menjodohkan tersusun dalam bentuk dua deretan butir tes. Deretan pertama terdiri dari pertanyaan atau pernyataan atau sekedar kata-kata lepas. Deretan kedua, yang biasanya terletak di sebelah kanan deretan pertama, terdiri dari jawaban dari pertanyaan atau bagian dari pernyataan.

Contoh:  Jodohkan kata-kata di deretan kiri dengan kata-kata di deretan kanan yang merupakan pasangannya.

Bagian A                               Bagian B

  1. Filipina                             a.  Bangkok
  2. Malaysia                           b.  Manila
  3. Muangthai                        c.  Beijing
  4. Jepang                              d.  Kuala Lumpur                                                                                 e.   Tokyo

d. Tes Melengkapi

Tes ini terdiri dari serangkaian pernyataan/paragraf yang dihilangkan sebagian unsurnya, sehingga tidak lengkap. Peserta didik diminta melengkapi kalimat atau paragraf tersebut.

Contoh:

Kata yang menyatakan makna perbuatan dan pekerjaan disebut …………

D. Jenis Tes Bahasa

1. Jenis Tes Bahasa Berdasarkan Pendekatan Kajian Bahasa

Berdasarkan kriteria bagaimana bahasa dikaji dan ditelaah, maka tes dikembangkan berdasarkan pandangan yang berbeda dalam memahami hakikat bahasa. Dari latar belakang pendekatan bahasa, jenis tes bahasa dapat dikelompokkan menjadi (1) tes bahasa diskret, (2) tes bahasa integratif, (3) tes bahasa pragmatik dan (4) tes bahasa komunikatif (Djiwandono, 2008:101—155).

a. Tes Bahasa Diskret

Tes bahasa diskret adalah tes yang disusun berdasarkan pendekatan diskret dalam linguistik, khususnya linguistik struktural seperti yang diuraikan sebelumnya. Tes diskret dimaksudkan untuk menilai peng-gunaan satu bagian dari kemampuan dan komponen bahasa tertentu. Dalam praktek pengajaran bahasa sehari-hari jarang ditemukan tes ini, karena validitas masih dipersoalkan dan juga nilai kepraktisan. Contoh tes diskret berdasarkan pendapat Djiwandono (2008:104) meliputi tes membedakan satu bunyi bahasa dari bunyi bahasa yang lain, melafalkan bunyi bahasa tertentu dan menyebutkan lawan kata dari kata tertentu.

Tes Bahasa Diskret

Sasaran Tes Tugas Butir Tes Kunci Jawaban
Bunyi Bahasa Tuliskan konsonan cara pengucapannya dengan alat ucap saling bersentuhan yang terdapat pada pelafalan kata-kata berikut baikpin 

minum

/b//p/ 

/m/

Kosakata Tulislah lawan kata dari kata-kata berikut riuhmenulis 

hidup

sunyimembaca 

mati

Tata Bahasa Tulislah kata baku dari kata-kata berikut nopemberapotik 

ijin

novemberapotek 

izin

b. Tes Bahasa Integratif

Tes bahasa integratif adalah tes bahasa yang untuk mengerjakannya dituntut penguasaan terhadap bukan satu melainkan gabungan dari dua atau lebih unsur kemampuan atau komponen bahasa. Tes bahasa ini yang menjadi dasar penggabungan dari unsur yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Tes bahasa integratif berdasarkan pendapat Djiwandono (2008:106) sebagai berikut.

Tes Bahasa Integratif

Sasaran Tes Tugas Butir Tes Kunci Jawaban
Kosakata Tuliskan sinonim dari kata yang digarisbawahi 1. Bapak Kamto,silakan masuk 

2. Guru datang

menemui bapak saya

3. Lampunya hidup

TuanBapak 

Menyala

Tata Bahasa Tuliskan jenis kalimat dari kalimat-kalimat berikut ini 1. Nelayan mencari ikan.2. Nelayan mencari ikan 

dan petani menanam

padi.

3. Sopir itu menyalakan

lampu mobilnya

ketika hari menjadi

gelap.

tunggalmajemuk 

majemuk bertingkat

c. Tes Bahasa Pragmatik

Tes bahasa pragmatik adalah tes bahasa yang untuk mengerjakannya dituntut penggunaan kemampuan pragmatik, yaitu pemahaman wacana berdasarkan penguasaan terhadap unsur-unsur kemampuan linguistik (dalam bentuk penguasaan bunyi bahasa, tata bahasa, kosakata dan lain-lain) serta kemampuan ekstra linguistik (dalam bentuk pengetahuan tentang latar belakang isi dan pokok bahasan wacana).

d. Tes Bahasa Komunikatif

Tes bahasa komunikatif ialah tes yang biasanya tidak digunakan untuk mengukur kemampuan gramatikal, yang lebih menitikberatkan pada komunikasi. Tes yang dimaksud untuk memberi tugas kepada peserta tes melakukan kegiatan dengan kemampuan bahasa tertentu, termasuk kemampuan komunikatif, tes komunikatif perlu dikembangkan dengan kaitan yang jelas dengan konteks nyata.

2. Jenis Tes Bahasa Berdasarkan Sasaran Tes Bahasa

Menurut Djiwandono (2008:114—134), tes bahasa yang berdasarkan sasarannya, yaitu kemampuan atau komponen bahan mana yang dijadikan fokus pengukuran tingkat penguasaan-nya. Tes bahasa dapat dikategorikan sebagai tes yang sasarannya adalah kemampuan bahasa, yaitu (1) tes kemampuan menyimak, (2) tes kemampuan berbicara, (3) tes kemampuan membaca dan (4) tes kemampuan menulis. Tes yang sasarannya komponen bahasa seperti (5) tes kemampuan melafalkan, (6) tes kemampuan kosakata dan (7) tes kemampuan tata bahasa, karena sasaran utamanya adalah tingkat penguasaan kemampuan bahasa, dan tingkat penguasaan melafalkan atau penguasaan tata bahasa dan sebagainya.

a. Tes Kemampuan Menyimak

Sasaran utama tes kemampuan menyimak adalah kemampuan peserta tes untuk memahami isi wacana yang dikomunikasikan secara lisan langsung oleh pembicara, atau sekedar rekaman. Tes kemampuan menyimak dapat dipusatkan pada kemampuan memahami fakta-fakta yang secara eksplisit dinyatakan,  termasuk urutan-urutan peristiwa atau kejadian, atau yang hanya dinyatakan secara implisit, mengenali implikasi dari isi teks, mengambil kesimpulan dan lain-lain.

b. Tes Kemampuan Berbicara

Tes kemampuan berbicara dimaksudkan untuk mengukur tingkat kemampuan mengungkapkan diri secara lisan. Tingkat kemampuan berbicara ini ditentukan oleh kemampuan untuk mengungkapkan isi pikiran sesuai dengan tujuan dan konteks pembicaraan yang sedang dilakukan, bagaimana isi pikiran disusun sehingga jelas dan mudah dipahami, dan diungkapkan dengan bahasa yang dikemas dalam susunan tata bahasa yang wajar, pilihan kata-kata yang tepat, serta lafal dan intonasi sesuai dengan tujuan dan sifat kegiatan berbicara yang sedang dilakukan.

c. Tes Kemampuan Membaca

Sasaran tes kemampuan membaca adalah memahami isi teks yang dipaparkan secara tertulis. Tes membaca dapat berisi butir-butir tes yang menanyakan pemahaman rincian teks yang secara eksplisit disebutkan, rincian teks yang isinya terdapat dalam teks meskipun dengan kata-kata dan susunan bahasa yang berbeda, menarik kesimpulan tentang isi teks, memahami nuansa sastra yang terkandung dalam teks, memahami gaya dan maksud penulisan di balik yang terungkap dalam teks.

d. Tes Kemampuan Menulis

Tes kemampuan menulis diselenggarakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan mengungkapkan pikiran kepada orang lain secara tertulis. Pengukuran tingkat kemampuannya pada dasarnya mengacu pada relevansi isi, keteraturan penyusunan isi dan bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa pada tes menulis lebih menekankan penyusunannya, karena waktu yang lebih longgar untuk memilih kata-kata dan menyusunnya dengan lebih tepat bahkan peluang untuk memperbaiki dan melengkapi apa yang kurang jelas.

e. Tes Kemampuan Melafalkan

Tes kemampuan melafalkan diselenggarakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat kemampuan mengucapkan kata-kata, kalimat, dan wacana pada umumnya, secara jelas dan tepat, sehingga apa yang diungkapkan mudah dimengerti. Tes melafalkan menitikberatkan pada unsur-unsur yang penting  untuk membuat pelafalan itu mudah dipahami. Unsur-unsur itu meliputi kejelasan dan ketepatan pelafalan, serta kelancaran dan kewajaran.

f. Tes Kemampuan Kosakata

Tes kemampuan kosakata bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan tentang makna kata-kata, baik pada tataran kemampuan pemahaman yang pasif-reseptif, maupun kemampuan penggunaan aktif-produktif. Kedua sisi penguasaan kosakata ini perlu dicermati untuk menentukan jenis tes yang akan digunakan. Pada umumnya jenis tes objektif hanya dapat digunakan untuk pengukuran kemampuan pasif-reseptif, sedangkan pengukuran kemampuan aktif-produktif menggunakan tes subjektif.

g. Tes Kemampuan Tata Bahasa

Sasaran tes kemampuan tata bahasa adalah kemampuan memahami dan menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Cakupan tata bahasa meliputi susunan kalimat pada tataran sintaksis yang bagian dari wacana, yaitu frasa dan klausa serta susunan kata pada tataran morfologi, yang berkaitan dengan pembentukan kata-kata dengan melalui afiksasi atau imbuhan (prefiks atau awalan, infiks atau sisipan, sufiks atau akhiran dan konfiks atau gabungan berbagai imbuhan).

3. Jenis Tes Bahasa Berdasarkan Tes Bahasa Khusus

Menurut Djiwandono (2008:135—157), di samping tes bahasa yang telah diuraikan secara khusus sudah dikenal, terdapat pula tes bahasa khusus yang tidak mudah dan konsisten digolongkan ke dalam salah satu tes bahasa yang telah dikupas. Kedua jenis tes bahasa itu adalah dikte dan tes cloze.

a. Tes Dikte

Tes dikte menyangkut lebih dari satu jenis kemampuan tau komponen bahasa dan menugaskan peserta tes untuk menulis suatu wacana yang dibacakan oleh seorang penyelenggara tes. Dalam penyelenggaraan tes dikte, seorang peserta tes hanya dapat menuliskan apa yang didengarkan dari pemberi dikte dengan benar apabila dia mampu mendengar dan memahami dengan baik wacana yang didiktekan (kemampuan menyimak). Apabila peserta tidak mendengarkan secara utuh, ada kalanya peserta tes menggunakan kemampuan bahasa yang lain berupa  kemampuan tata bahasa dan kosakata.

b. Tes Cloze

Tes cloze bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan pragmatik, yaitu kemampuan memahami wacana atas dasar penggunaan kemampuan linguistik dan ekstralinguistik. Pengukuran tingkat penguasaan kemampuan pragmatik itu dilakukan dengan menugaskan peserta tes untuk mengenali, dan untuk mengembalikan seperti aslinya, bagian-bagian suatu wacana yang telah dihilangkan.

E. Ciri-Ciri Tes yang Baik

Untuk memenuhi syarat-syarat tes yang baik, tes dapat menunaikan fungsinya dalam umpan balik kepada penyelenggaraan pembelajaran apabila sesuai (valid) dengan kemampuan yang menjadi sasaran tes, memberikanhasil yang dapat diandalkan (reliable) dan secara teknis dapat dilaksanakan tanpa terlalu banyak kesulitan (praktis).

  1. Validitas, secara lebih tepat menunjuk pada kesamaan atau setidak-tidaknya kesesuaian, antara tes dan hasil interpretasi tes. Tes kemampuan membaca hanya valid, relevan, cocok, sesuai untuk pengukuran kemampuan membaca dan tidak untuk kemampuan berbicara atau kemampuan lainnya.
  2. Reliabilitas sebagai alat ukut yang hasil pengukurannya digunakan untuk membuat berbagai keputusan terpenting. Sebuah tes dikatakan reliabilitas apabila skor yang dihasilkan hasil pengukuran kosisten, tidak berubah-ubah, dapat dipercaya karena tetap dan tidak berubah secara mencolok.

F. Menilai Tes yang Dibuat Sendiri

Tidak ada usaha guru yang lebih baik selain usaha untuk selalu meningkatkan mutu tes yang disusunnya. Namun hal ini tidak dilaksanakan karena kecenderungan seseorang untuk beranggapan bahwa yang menjadi hasil karyanya adalah yang terbaik, atau sebaik-baiknya sudah cukup baik. Guru yang sudah berpengalaman, mengajar dan menyusun soal-soal tes, juga masih sukar menyadari bahwa tesnya masih belum sempurna. Oleh karena itu, cara yang paling baik adalah secara jujur melihat hasil yang diperoleh siswa.

Secara teoretis, siswa dalam satu kelas merupakan populasi atau kelompok yang keadaannya heterogen. Dengan demikian, sebuah tes akan tercermin hasilnya dalam suatu kurva normal. Sebagian besar siswa berada di daerah sedang, sebagian kecil siswa berada di ekor kiri dan sebagian kecil yang lain berada di ekor kanan. Apabila keadaan setelah hasil tes dianalisis tidak seperti yang diharapkan dalam kurva normal, maka tentu ada “apa-apa” dengan soal tesnya.

Apabila hampir seluruh siswa memperoleh skor jelek, berarti bahwa tes yang disusun mungkin terlalu sukar. Sebaliknya jika seluruh siswa memperoleh skor baik, dapat diartikan bahwa tesnya terlalu mudah. Dengan demikian, kita dapat menilai secara objektif terhadap tes yang kita susun (Daryanto, 2008:176—179).

Ada empat cara untuk menilai tes, yaitu:

  1. Cara pertama meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kadang-kadang diperoleh jawaban tentang ketidakjelasan perintah atau bahasa, taraf kesukaran dan lain-lain dalam soal tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

  1. Apakah pertanyaan soal untuk tiap topik sudah seimbang?
  2. Apakah semua soal menanyakan bahan yang telah diajarkan?
  3. Apakah soal yang kita susun tidak merupakan pertanyaan membingungkan (dapat disalahartikan)?
  4. Apakah soal itu mudah untuk dimengerti?
  5. Apakah soal itu dapat dikerjakan oleh sebagian besar siswa?
  6. Cara kedua adalah mengadakan analisis soal (terms analysis). Analisis soal adalah suatu prosedur sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun. Kegunaan menganalisis soal:
    1. Membantu kita dalam mengidentifikasi butir-butir soal yang jelek.
    2. Memperoleh informasi yang akan dapat digunakan untuk menyempurnakan soal-soal untuk kepentingan lebih lanjut.
    3. Memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang soal yang kita susun.
  7. Cara ketiga adalah mengadakan checking validitas. Validitas yang paling penting dari tes buatan guru adalah validitas kurikuler (content validity). Untuk mengadakan checking validitas kurikuler, kita harus merumuskan tujuan setiap bagian pelajaran secara khusus dan jelas sehingga setiap soal dapat kita jodohkan dengan setiap tujuan khusus tersebut.
  8. Cara keempat adalah dengan mengadakan checking reabilita. Salah satu indikator untuk tes yang mempunyai reabilitas yang tinggi adalah bahwa kebanyakan dari soal-soal tes itu mempunyai daya pembeda yang tinggi.

G. Analisis Butir-Butir Soal

Analisis soal bertujuan untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang baik dan soal yang jelek. Dengan analisis soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan “petunjuk” untuk mengadakan perbaikan. Kapan sebuah soal dikatakan baik? Untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, perlu diterangkan dua masalah yang berhubungan dengan analisis soal, yaitu taraf kesukaran, dan daya pembeda (Daryanto, 2008:179—183).

a. Taraf kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya, soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya.

Seorang siswa akan menjadi hafal akan kebiasaan-kebiasaan gurunya dalam membuat soal. Misalnya saja guru A dalam memberikan ulangan soalnya mudah-mudah, sebaliknya guru B kalau memberikan ulangan soalnya sukar-sukar. Dengan pengetahuan-nya tentang kebiasaan ini, maka siswa akan belajar giat jika menghadapi ulangan dari guru B dan sebaliknya. Jika siswa akan menghadapi ulangan dari guru A, tidak mau belajar giat atau bahkan mungkin tidak mau belajar sama sekali.

b. Daya Pembeda

Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi berkisar antara 0,00 sampai 1,0. Pada indeks diskriminasi ada tanda positif yang menunjukkan siswa yang pandai, sedangkan tanda negatif menunjukkan siswa yang bodoh.

Satu komentar (+add yours?)

  1. Siti Khafidoh
    Mar 14, 2011 @ 23:48:55

    Terimakasih…artikel ini sudah sangat membantu saya untuk tugas kuliah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: