Hubungan Kosakata dengan Menulis

Dian Nuzulia

1.  PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penguasaan terhadap kosakata adalah mutlak diperlukan oleh setiap pemakai bahasa, selain merupakan alat penyalur gagasan, penguasaan terhadap sejumlah kosakata dan dapat memperlancar arus informasi yang diperlukan melalui komunikasi lisan maupun tulisan. Misalnya seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan paling tidak ia telah memiliki tingkat penguasaan kebahasaan yang cukup memadai jika tidak komunikasi yang dilakukan tidak akan berjalan lancar dan sempurna.

Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) meliputi empat kemampuan, yaitu kemampuan menyimak, kemampuan berbicara, kemampuan membaca dan kemampuan menulis. Menulis surat merupakan salah satu kegiatan yang sangat kompleks yang ada hubungannya dengan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia, sebab dalam menulis surat itu seluruh pengetahuan dan pemahaman siswa tentang ejaan dan tanda yang harus dikuasai.

Di samping itu, dalam menulis surat kita harus menggunakan kata-kata dan kalimat yang jelas, misalnya menulis surat dalam lingkungan yang tidak resmi boleh menggunakan bahasa surat yang tidak baku. Lingkungan tidak resmi atau lingkungan santai, misalnya lingkungan keluarga dan pergaulan dengan teman. Sebaiknya untuk lingkungan resmi atau lingkungan kediknasan menggunakan bahasa yang resmi atau baku, misalnya pemerintahan kantor dan administrasi sekolah. Hal ini dikarenakan:

Dengan surat orang dapat memberitahukan, menanyakan, menyatakan, meminta, melapor, menyampaikan, buah pikiran kepada orang lain. Dengan surat orang dapat bekerja sama atau tolong menolong. Surat juga merintis persahabatan, membina hubungan yang telah ada, meningkatkan hubungan kerjasama, dan mempererat hubungan batin manusia (Arifin, 1987:1)

Berdasarkan pendapat di atas, surat sering digunakan orang sebagai alat untuk menyampaikan maksud secara tertulis kepada pihak lain. Surat dapat mempermudah hubungan berkomunikasi antar manusia dalam belajar berbahasa. Namun terkadang terjadi kesalahpahaman atau kekacauan penerimaan antar penulis surat dengan pembaca surat karena isi surat kurang dimengerti. Terlebih lagi penulis dalam menulis surat menggunakan kalimat-kalimat yang cenderung tidak berstruktur yang dapat mengganggu proses komunikasi. Dalam hal ini, penulis dituntut pandai dalam memilih kata-kata yang tepat dan efektif.

Oleh karena itu, seorang penulis harus menguasai sejumlah kosakata dalam berbahasa sebagaimana dikemukakan oleh Tarigan (1984:5) berikut ini:

…. tidak dapat disangkal lagi bahwa keterampilan berbahasa membutuhkan kosakata yang cukup. Dengan kata lain, kekayaan seseorang turut menentukan kualitas keterampilan berbahasa seseorang. Surat terdiri dari tiga bagian, yaitu: pembukaan, isi dan penutup. Selain itu, surat juga biasanya dilengkapi dengan nama kota, tanggal, alamat surat, kata pembuka, dan kata penutup.

Mengingat pentingnya penguasaan kosakata bagi keterampilan berbahasa seseorang khususnya dalam menulis surat, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adakah hubungan yang signifikan antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang.

1.2 Rumusan Masalah

Dari masalah di atas dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah penguasaan kosakata siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang?
  2. Bagaimanakah kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang?
  3. Adakah hubungan antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan:

  1. Penguasaan kosakata siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang.
  2. Kemampuan menulis surat resmi undangan OSIS, siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang.
  3. Hubungan antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru, siswa dan sekolah yang dirinci sebagai berikut:

  1. Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pengajaran kosakata dan menulis surat resmi.
  2. Bagi siswa, pengajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis surat pada umumnya, surat resmi pada khususnya.
  3. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya pengajaran kosakata dan menulis surat resmi.

1.5 Hipotesis

Hipotesis penelitian adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti data yang terkumpul (Arikunto, 1998:67). Berdasarkan pengertian di atas, penulis mengajukan hipotesis yang selanjutnya akan diuji kebenarannya. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah “terdapat hubungan yang signifikan antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang.

1.1 Kriteria Pengujian Hipotesis

Setelah data terkumpul, maka data tersebut diolah sehingga hasil pengolahan data itu diambil kesimpulan untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan untuk menentukan tingkat korelasi menggunakan kriteria sebagai berikut:

  1. 0,0 sampai dengan 0,2 korelasi sangat rendah
  2. 0,2 sampai dengan 0,4 korelasi rendah
  3. 0,4 sampai dengan 0,6 korelasi agak rendah
  4. 0,6 sampai dengan 0,8 korelasi cukup
  5. 0,8 sampai dengan 1,0 korelasi tinggi

(Arikunto, 1998:258)

Dalam penguasaan kosakata dan kemampuan menulis surat resmi bahasa Indonesia kriteria penilaian belajar tuntas, siswa dinyatakan berhasil apabila mendapat nilai 76-100 atau memiliki penguasaan 65% terhadap materi yang diajarkan, untuk menentukan hipotesis yang dikemukakan, penulis menggunakan kriteria penilaian yang diterbitkan oleh Depdikbud (1995:2) sebagai berikut:

TABEL RENTANGAN NILAI

Bentuk Kualitatif Bentuk Kuantitatif
Rentang 0-10 Rentang 0-100
Istimewa 10 96-100
Baik sekali 9 86-95
Baik 8 76-85
Cukup 7 66-75
Sedang 6 56-65
Kurang ≤ 5 ≤ 55

Berdasarkan kriteria penilaian di atas, siswa dikatakan mampu atau baik apabila rata-rata 65% atau lebih siswa sampel yang memperoleh nilai 76-100. Sebaliknya siswa dikatakan tidak mampu atau kurang dalam menguasai kosakata dan menulis surat resmi, jika memperoleh nilai kurang dari 65%.

Untuk menentukan tingkat hubungan antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang, penulis terlebih dahulu menghitung besarnya koefisien korelasi (rxy) dengan memakai rumus korelasi Product Moment dengan taraf signifikan 5% atau taraf kepercayaan 95%.

Selanjutnya, penulis akan menghitung r (koefisien korelasi antara kosakata dengan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang) setelah harga r diketahui untuk uji hipotesis akan dibandingkan dengan tabel r product moment pada tarif 1% dengan ketentuan sebagai berikut.

  1. Ada hubungan yang berarti antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang, jika koefisien hitung lebih besar daripada koefisien tabel, maka hipotesis nihil, ditolak dan hipotesis alternatif diterima.

Jika r hitung > r tabel             tolak Ho diterima Ha

  1. Tidak ada hubungan yang berarti antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang, jika koefisien hitung lebih kecil daripada koefisien tabel, maka hipotesis alternatif ditolak, dan alternatif nihil diterima.

Jika r hitung < r tabel             tolak Ha diterima Ho

2.  LANDASAN TEORI

1.1 Pengertian Kosakata

Menurut KBBI (1998:527), kosakata adalah perbendaharaan kata. Sementara itu, keraf (1990:68) mengemukakan bahwa kosakata atau perbendaharaan kata itu tidak lain daripada daftar kata-kata yang segera kita ketahui artinya bila mendengarnya kembali, walaupun jarak atau tidak pernah digunakan lagi falam percakapan atau tulisan kita sendiri.

Pengertian kosakata yang lebih rinci lagi diberikan oleh Soejito (1992:1), yaitu:

Kosakata (perbendaharaan kata) dapat diartikan sebagai berikut: (1) semua kata yang terdapat dalam satu bahasa; (2) kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara atau penulis; (3) kata yang dipakai dalam suatu bidang ilmu pengetahuan; (4) daftar kata yang disusun seperti kamus disertai penjelasan secara singkat dan praktis.

Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa kosakata atau perbendaharaan kata adalah daftar kata-kata yang dimiliki oleh seseorang dan dipakai dalam bidang ilmu pengetahuan.

1.2 Penggolongan Kata

Dalam kaitannya dengan pilihan kata (diksi), menurut Soejito (1992:39) kosakata dalam bahasa Indonesia dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Kata abstrak dan kata kongkret

Kata abstrak adalah kata yang mempunyai rujukan berupa konsep/pengertian, sedangkan kata konkret adalah kata yang mempunyai rujukan berupa objek yang dapat diserap oleh panca indera (dilihat, diraba, dirasa, didengar atau dicium).

Contoh:                Abstrak Konkret

demokrasi                                bermusyawarah, berunding

kaya                                         banyak uang, mobil, rumah

kemakmuran                            sandang, pangan dan papan

kerajinan                                  bekerja, belajar, membaca

2. Kata umum dan kata khusus

Kata umum adalah kata yang luas ruang lingkupnya dan dapat mencakup banyak hal, sedangkan kata khusus adalah kata yang sempit/terbatas ruang lingkupnya.

Contoh: 1. Umum : Ana suka memelihara binatang

Khusus : Ana suka memelihara kucing

2. Umum : Saya suka makan buah-buahan

Khusus : Saya suka makan apel dan mangga

3. Kata popular dan kata kerja

Kata popular ialah kata yang dikenal dan dipakai oleh semua lapisan masyarakat dalam komunikasi sehari-hari, sedangkan kata kajian adalah kata yang dikenal dan dipakai para ilmuwan/kaum terpelajar dalam karya-karya ilmiah. Kata kajian/ilmiah itu banyak diserap dari bahasa asing.

Contoh: 1. Populer : Isi kaleng ini 20 liter.

Kajian : Volume ekspor tahun ini melebihi tahun lalu.

2. Popular : Otak adalah bagian badan yang paling penting.

Kajian : Kata adalah unsur bahasa yang berperanan penting.

4. Kata baku dan kata non baku

Kata baku ialah kata-kata yang mengikuti kaidah/ragam bahasa yang ditentukan/ dilazimkan, sedangkan kata non baku ialah kata yang tidak mengikuti kaidah/ragam bahasa yang telah ditentukan/dilazimkan.

Contoh:                Baku Non Baku

Senin                                       senen

Kemarin                                  kemaren

Kaidah                                     kaedah

Apotik                                     apotek

5. Kata asli dan serapan

Kata asli adalah kata yang berasal dari bahasa kita sendiri, sedangkan kata serapan adalah kata yang berasal (diserap) dari bahasa daerah atau bahasa asing.

Contoh:                Kata Asli Kata Serapan

Bahasa                                     strategi

Makan                                     moral

Lari                                          syukur

Tua                                          ton

1.3 Pengertian Surat Resmi

Surat resmi adalah surat yang dibuat oleh suatu badan perusahaan, organisasi atau instansi tertentu. Oleh sebab itu, surat ini dapat berupa surat niaga, surat sosial dan surat dinas (Arifin, 1980:6)

1.4 Fungsi Surat Resmi

Marjo (2000:11) mengemukakan fungsi surat resmi sebagai berikut:

  1. Bukti tertulis, yaitu sebagai bukti nyata sah yang lazimnya dikenal sebagai hitam di atas putih.
  2. Bukti historis, yaitu dapat dipakai untuk mengetahui dan menggali informasi bagaimana keadaan, cara pengelolaan administrasi dan cara pelaksanaan masa lalu.
  3. Alat pengikat, yaitu dapat dipakai untuk mengingat dan mengetahui surat-surat yang dikirim atau sudah diterima dalam suatu periode.
  4. Data organisasi, yaitu dapat mencerminkan keadaan mentalitas dan tata nilai pejabat, jawatan, kantor, lembaga, dan organisasi yang mengirimkan surat.

1.5 Tujuan Surat

Menurut Marjo (2000:20) bahwa tujuan surat sebagai berikut:

  1. Sebagai pemberitahuan
  2. Sebagai surat perintah
  3. Sebagai permohonan/permintaan
  4. Surat peringatan/teguran
  5. Surat laporan
  6. Surat perjanjian
  7. Surat keputusan
  8. Surat panggilan

1.6 Bentuk-Bentuk Surat Resmi

Menurut Suhendra (1995:66), bentuk-bentuk surat resmi ada dua macam yaitu bentuk lurus dan bentuk lekuk.

3.  METODOLOGI PENELITIAN

1.1 Variabel

Variabel adalah yang dapat berubah atau faktor yang ikut menentukan perubahan (Salim, 1991:02). Berdasarkan pendapat tersebut, dalam penelitian ini penulis menggunakan dua variabel yang saling berhubungan, yaitu kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata sebagai variabel bebas (variabel x) dan kemampuan siswa dalam menulis surat resmi sebagai variabel terikat (variabel y).

1.2 Populasi dan Sampel

1.2.1 Populasi

“Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian”. (Arikunto, 1998:115). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang Tahun Ajaran 2010-2011 yang berjumlah 280 orang, untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut ini.

TABEL 2 POPULASI PENELITIAN

NO KELAS JENIS KELAMIN JUMLAH
LAKI-LAKI PEREMPUAN
1 II.1 19 21 40
2 II.2 17 23 40
3 II.3 18 20 38
4 II.4 21 19 40
5 II.5 19 21 40
6 II.6 17 22 39
7 II.7 18 22 40
JUMLAH 129 148 277

1.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikumto, 1998:117). Untuk menentukan sampel, peneliti berpedoman pada pendapat Arikunto “untuk sekedar ancar-ancar, apabila subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semuanya. Selanjutnya jika subjek lebih besar diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih……”

Sejalan dengan pendapat di atas, maka peneliti menentukan jumlah sampel sebesar 15%. Jadi sampel penelitian  x 277 = 41,55 (dibulatkan 42) orang siswa.

1.3 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan metode korelasi. Metode deskriptif adalah metode yang membicarakan beberapa kemungkinan untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan data, menyusun atau mengklarifikasinya, menganalisis dan menginterpretasikannya (Arikunto, 1998:147). Metode korelasi adalah metode yang dipakai untuk mendeteksikan sejauh mana variabel pada suatu faktor yang berkaitan dengan faktor yang lain berdasarkan koefisien korelasi (Arikunto, 1998:26). Dengan metode ini, penulis berusaha  untuk menggambarkan hubungan kedua variabel, yaitu penguasaan kosakata dan kemampuan menulis surat resmi.

1.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik berarti cara membuat atau melakukan sesuatu (Salim, 1991:156). Berdasarkan pendapat tersebut, penulis dalam penelitian ini menggunakan teknik tes, angket dan wawancara. Teknik tes yang digunakan dalam bentuk tes objektif dan tes esai. Tes objektif terdiri atas dua puluh soal, sedangkan tes esai terdiri dari 10 butir soal yang berbentuk uraian berstruktur. Teknik angket tertutup yang digunakan dan terdapat 10 soal. Teknik wawancara yang dilakukan terhadap seorang guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, terutama yang mengajar di kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang.

1.5 Teknik Analisis Data

Analisis data tes kosakata terdiri dari dua macam, yaitu tes objektif dan tes esai. Untuk menghitung nilai siswa pada tes objektif digunakan rumus sebagai berikut. N =  x 100  (Ket: N (Nilai), B (Jumlah skor yang benar), S (Jumlah skor maksimal). Perhitungan akhir nilai tes objektif ditambah nilai tes esai lalu dibagi dua: N =  (Ket: N (Nilai akhir), N1 (Nilai tes objektif), N2 (Nilai tes esai).

Analisis hubungan antara penguasaan kosakata dengan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Palembang, dengan menggunakan rumus r product moment.

4.  PENUTUP

4.1  Kesimpulan

Penguasaan terhadap kosakata adalah mutlak diperlukan oleh setiap pemakai bahasa, selain merupakan alat penyalur gagasan, penguasaan terhadap sejumlah kosakata dan dapat memperlancar arus informasi yang diperlukan melalui komunikasi lisan maupun tulisan. Kosakata atau perbendaharaan kata adalah daftar kata-kata yang dimiliki oleh seseorang dan dipakai dalam bidang ilmu pengetahuan. Surat sering digunakan orang sebagai alat untuk menyampaikan maksud secara tertulis kepada pihak lain. Surat dapat mempermudah hubungan berkomunikasi antar manusia dalam belajar berbahasa.

4.2  Saran

Berdasarkan simpulan di atas, penulis mengemukakan beberapa saran berikut ini.

  1. Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pengajaran kosakata dan menulis surat resmi.
  2. Bagi siswa, pengajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis surat pada umumnya, surat resmi pada khususnya.
  3. Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, khususnya pengajaran kosakata dan menulis surat resmi.

FILSAFAT BAHASA

Dian Nuzulia

1. Pendahuluan

Bahasa dan filsafat merupakan dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan. Mereka bagaikan dua sisi mata uang yang senantiasa bersatu. Minat seseorang terhadap kajian bahasa bukanlah hal baru sepanjang sejarah filsafat. Semenjak munculnya retorika Corax dan Cicero pada zaman Yunani dan Romawi abad 4-2 SM hingga saat ini, bahasa merupakan salah satu tema kajian filsafat yang sangat menarik.

Hadirnya istilah filsafat bahasa dalam ruang dunia filsafat dapat dikatakan sebagai suatu hal yang baru. Istilah ini muncul sekitar abad 20-an, sehingga wajar apabila ditemukan kesulitan untuk mendapatkan pengertian pasti mengenai apa sebetulnya yang dimaksud filsafat bahasa (Hidayat, 2006:12).

Masalah yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu apakah filsafat bahasa itu dan apakah filsafat bahasa biasa itu serta apakah hermeneutika itu.. Penulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai filsafat bahasa, filsafat bahasa biasa dan hermeneutika.

2. Filsafat Bahasa

Filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Oleh karena sifat filsafat yang demikian maka filsafat sering diidentikkan dengan sesuatu yang membingungkan. Kadang kita mendengarkan orang mengatakan “Jawaban yang Anda ajukan benar-benar filosofis dan mengandung kedalaman arti, sehingga saya tidak memahami sedikit pun apa yang Anda maksud” Pitcher dalam buku “The Philosophy of Wittgenstein” halaman 193.

Hal ini mengibaratkan filosofis yang terlibat dalam upaya pemecahan masalah-masalah fundamental sebagai “seseorang yang terperangkap dalam kekacauan filsafat tak ubahnya dengan orang yang terjebak dalam sebuah ruangan, ia ingin keluar dari sana tapi tidak tahu bagaimana caranya. Dicobanya keluar melalui jendela tapi itu terlalu tinggi. Dicobanya pula keluar melalui cerobong tapi terlalu sempit” (Mustansyir, 1988: 11).

Filsafat bahasa adalah salah satu disiplin ilmu filsafat yang berhubungan dengan bahasa.  Persoalan yang tak ada habisnya dalam dunia filsafat membuat para filosofis mencari akar permasalahan. Dalam memandang masalah, mereka, menganggap bahwa akar masalah sebenarnya terletak pada bahasa. Beberapa filsuf seperti Carnap, Russel, dan Leibniz berpendapat bahwa kebenaran tidak dapat dapat dideskripsikan dengan benar karena kelemahan ada pada bahasa.

Bahasa tidak dapat mejelaskan sesuatu secara tepat dan akurat. Seperti kata keadilan, apa itu keadilan? Bagaimana mengukur keadilan?; Kata cantik misalnya, apa itu cantik?  Model yang bagaimana yang disebut cantik? Apa parameternya?. Bagaimana mengukurnya dan lain sebagainya. Bahasa tidak cukup memadai dalam mengungkapkan maksud-maksud filsafat (inadequate). Sebab bahasa mengandung kekaburan (vagueness), tidak jelas (inexplictness), berdwiarti (ambiguity), terikat konteks (contex-dependence), dan menyesatkan (misleading).

Kelompok filosofis lain seperti Wittgenstein dan Locke justru berpendapat sebaliknya, mereka menganggap bahwa yang membuat sesuatu rumit dan selalu membingungkan karena para filosofis keliru dalam merumuskan persoalan. Dengan kata lain, kelemahan ada pada pemakai bahasa. Berdasarkan hal tersebut maka lahirlah filsafat analitik. Para yang filosofis yang menaruh minat dalam bahasa digerakkan oleh keinginan mereka untuk memahami ilmu pengetahuan konseptual mereka, dalam mempelajari bahasa, bukan sebagai tujuan akhir melainkan sebagai objek sementara agar pada akhirnya dapat diperoleh kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual (Kaelan, 1998:57).

3. Filsafat Analitik

Dalam sejarah filsafat barat diakui bahwa Inggris merupakan tempat yang paling subur bagi perkembangan empirisme, yaitu suatu aliran filsafat yang menganggap bahwa pengalaman adalah sarana yang paling dipercaya untuk memperoleh kebenaran. Pengaruh pemikiran mereka (Locke dan Hume) telah mendominasi corak filsafat Inggris pada khususnya dan filsafat barat pada umumnya.

Meskipun kubu empirisme yang secara penuh bertentangan dengan kubu rasionalisme–aliran filsafat yang lebih menitikberatkan akal untuk memperoleh kebenaran- pada akhirnya dipadukan oleh Immanuel Kant. Pengaruh pemikiran empirisme ini mulai memudar manakala gaung filsafat Heggel, Idealisme, mulai masuk ke Inggris pada pertengahan abad ke-19. Filsafat Heggel yang menguasai atau merajai dunia di seantero Eropa itu berhasil meluluhlantakan pengaruh pemikiran empirisme dikandangnya sendiri yaitu inggris.

Tetapi pada awal abad ke-20 iklim filsafat (khususnya di Inggris) mulai berubah. Para filsof Inggris mulai mencurigai atau meragukan ungkapan-ungkapan filsafat yang dilontarkan oleh kaum Hegelian (pengikut Hegel). Mereka menilai ungkapan filsafat idealisme bukan saja sulit dipahami tetapi juga telah menyimpang jauh dari akal sehat. Oleh karena itu, para  filsuf Inggris berupaya melepaskan diri dari cengkraman filsafat idealisme.

Revolusi yang ditiupkan oleh para filsuf tersebut yang cukup terkenal yaitu G.E. Moore segera disambut hangat oleh tokoh Cambridge lainnya Bertrand Russelstein. Melalui Wittgenstein inilah revolusi yang menentang pengaruh kaum hegelilan itu muncul metode filsafat yang baru yaitu metode analisa bahasa.

Metode analisa bahasa yang ditampilkan oleh Wittgenstein berhasil membentuk pola pemikiran baru dalam dunia filsafat. Dengan metode analisis bahasa itu tugas filsafat bukanlah membuat pernyataan tentang sesuatu yang khusus, melainkan memecahkan persoalan yang timbul akibat ketidakfahaman terhadap bahasa logika.

Metode filsafat bahasa inilah yang telah membawa angin segar ke dalam dunia filsafat (terutama di Inggris) karena kebanyakan orang menganggap bahasa filsafat terlalu berlebihan dalam mengungkapkan realitas. Begitu banyak istilah atau ungkapan yang aneh dalam filsafat (seperti : eksistensi, nothingness, substansi dan lain-lain) sehingga menimbulkan teka-teki yang mem-bingungkan para peminat filsafat (Mustansyir, 2001:17—27).

4. Filsafat Bahasa Biasa

Pengaruh filsafat analitik mulai melulu secara perlahan setelah lebih dari tiga dasarwarsa berpengaruh di Inggris. Sebab filsuf mulai menyadari bahwa metode analisis bahasa hanya mengarah pada pencarian makna bahasa, yang dapat menggiring mereka pada pernyataan tidak bermakna. Kemudian mereka mulai mengalihkan perhatian pada titik tolak belakang penggunaan bahasa biasa.

Kelompok ini beranggapan bahwa bahasa biasa cukup sesuai dengan maksud-maksud filsafat. Hanya filsuf menyalahgunakan istilah-istilah yang mengandung kepastian seperti “tahu”, “melihat”, “bebas”, “benar”, “sebab”. Istilah tersebut bukan hal asing dalam kehidupan sehari-hari, tetapi para filsuf sering “meninggalkan” penggunaan yang biasa dari istilah-istilah tersebut tanpa memberikan penjelasan sehingga istilah-istilah itu jatuh ke dalam teka-teki yang tak dapat dipecahkan (Mustansyir, 2001: 78—79).

Pendapat tentang cukup memadainya bahasa biasa bagi maksud filsafat mendapat dukungan yang kuat dari filsuf Oxford seperti Gilbert Ryle dan Austin. Oleh karena kekaburan makna terjadi disebabkan oleh pemakainya, maka mereka menjelaskan kaidah dan patokan pemakaian yang mendasari tingkah laku bahasa orang-orang yang tidak menyalahgunakan kebebasan linguistik yang ada. Selain itu, pengikut filsafat bahasa biasa memaparkan kaidah-kaidah yang sudah ada di dalam bahasa berdasarkan pemeriksaan dan laporan kekeliruan yang dilakukan para filsuf. Dengan kata lain, filsafat bahasa biasa lebih menekankan pada aspek pragmatik, yaitu bagaimana penggunaan suatu istilah atau ungkapan dapat mengandung arti.

5. Hermeneutika

Istilah hermeneutika berasal dari kata Yunani: hermeneuein, diterjemahkan “menafsirkan”, kata bendanya: hermeneia artinya “tafsiran”. Dalam tradisi Yunani kuno kata hermeneuein dipakai dalam tiga makna, yaitu mengatakan (to say), menjelaskan (to explain), dan menerjemahkan (to translate). Dari tiga makna ini diekspresikan dalam kata Inggris to interpret. Dengan demikian perbuatan interpretasi menunjuk pada tiga hal pokok: pengucapan lisan (an oral recitation), penjelasan yang masuk akal (a reasonable explanation) dan terjemahan dari bahasa lain (a translation from another language), atau mengekspresikan.

Hermeneutika merupakan sebuah filsafat yang memusatkan bidang kajiannya pada persoalan “understanding of understanding (pemahaman pada pemahaman)” terhadap teks, terutama teks Kitab Suci, yang datang dari kurun waktu, tempat, serta situasi sosial yang asing bagi para pembacanya. Istilah hermeneutika sering dihubungkan dengan nama Hermes, tokoh dalam mitos Yunani yang bertugas menjadi perantara antara Dewa Zeus dan manusia.

Dikisahkan, pada suatu saat, yakni ketika harus menyampaikan pesan Zeus untuk manusia, Hermes dihadapkan pada persoalan yang pelik yaitu : bagaimana menjelaskan bahasa Zeus yang menggunakan “bahasa langit” agar bisa dimengerti manusia yang menggunakan “bahasa bumi”. Akhirnya dengan segala kepintaran dan kebijaksanaannya, Hermes menafsirkan dan menerjemahkan bahasa Zeus kedalam bahasa manusia sehingga menjelma menjadi sebuah teks suci (Muslih, 2004:165—166).

Sebagai Pendekatan dalam Ilmu-Ilmu Sosial

Fokus utama problem hermeneutika sosial adalah untuk menerobos otoritas paradigma positivisme dalam ilmu-ilmu sosial dan humanities. Secara demikian pembahasan hermeneutika pada umumnya sebenarnya merupakan problem filsafat ilmu, bukan problem metafisika yang mempersoalkan realitas. Ini merupakan cara pandang untuk memahami realitas, terutama realitas sosial, seperti ‘teks’ sejarah dan tradisi. Wilhelm Dilthey yang mengajukan sebuah dikotomi antara metode erklaren untuk ilmu-ilmu alam dan metode verstehen untuk ilmu-ilmu sosial.

Metode erklaren (menjelaskan) adalah metode khas positivistik yang dituntut menjelaskan objeknya yang berupa perilaku alam menurut hukum sebab-akibat, sedangkan metode verstehen (memahami), yaitu pemahaman subjektif atas makna tindakan-tindakan sosial, dengan cara menafsirkan objek berupa dunia-kehidupan sosial. Sebagai sebuah pendekatan dalam ilmu sosial, hermeneutika tidak bisa dipisahkan dengan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi sosial, dalam hermeneutika peranan subjek yang menafsirkan juga sangat jelas. Dunia kehidupan sosial bukan hanya dunia yang hanya dihayati individu-individu dalam masyarakat, melainkan juga objek penafsiran yang muncul karena penghayatan itu.

Untuk melihat peranan subjek dalam proses penafsiran akan dibahas secara ringkas pemikiran beberapa filsuf tentang hermeneutika, yaitu Schleiermacher, Dilthey dan Gadamer (Muslih, 2004:167—173).

1. F.D.E. Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey

Dalam sejarah hermeneutika, dua filsuf ini biasanya dikenal dengan filsuf Romantik atau Hermeneutika Romantik, karena kecenderungan pemikirannya yang selalu melihat ke masa lalu. Menurut hermeneutika romantik ini, pembaca teks harus mampu berempati secara psikologis ke dalam isi teks dan pengarangnya; pembscs harus mampu ‘mengalami kembali’ pengalaman-pengalaman yang pernah dialami pengarang yang termuat di dalam teks itu. Agar bisa mengerti suatu teks dari masa lampau, teks sejarah misalnya, orang harus keluar dari zamannya dan membangun kembali masa lampau ketika pengarang teks itu hidup sehingga dapat dikenali dengan baik suasana penulisnya. Orang mesti membayangkan bagaimana pemikiran, perasaan dan maksud pengarang.

Untuk itu, menurut Schleiermacher, ada dua tugas dari hermeneutika, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Aspek gramatikal merupakan syarat berpikir setiap orang, sedang aspek psikologis memungkinkan seseorang menangkap ‘setitik cahaya’ pribadi menulis. Dengan demikian untuk memahami pernyataan-pernyataan pembicara, orang mesti memahami bahasanya sebaik memahami jiwanya.

Berbeda dengan Schleiermacher, Wilhelm Dilthey (1833-1911) mengatakan bahwa meskipun orang tidak dapat mengalami secara langsung peristiwa-peristiwa di masa lampau, tetapi ia dapat membayangkan bagaimana orang-orang dulu mengalaminya. Hal yang dilakukan bukan empati terhadap pencipta teks, melainkan membuat rekonstruksi dan objektivikasi mental, yaitu produk budaya. Jadi, perhatian diarahkan pada struktur-struktur simbolis. Meskipun ada perbedaan pandangan, namun baik Dilthey maupun Scheiermacher sama-sama mempertahankan pendapat bahwa hermeneutika berarti ‘menafsirkan secara reproduktif’. Dalam arti, penafsiran merupakan sebuah kerja reproduktif; mencoba memahami sebagaimana dahulu pernah dipahami.

2. Hans-Georg Gadamer

Pemikiran hermeneutika Gadamer tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Heidegger, senior, dan gurunya, yang pemikirannya dikenal dengan fenomenologi desain. Menurut Heidegger, Hermeneutika bukan sekedar metode filologi atau geisteswissenscharft, akan tetapi merupakan ciri hakiki manusia. Memahami dan menafsirkan adalah bentuk paling mendasar dari keberadaan manusia. Usaha Heidegger ini memperoleh respons positif dari Gadamer. Ia menaruh minat pada kajian tentang keterkaitan keberadaan manusia dan kemungkinan pemahaman yang bisa dilakukan.

Namun bagi Gadamer hermeneutika romantik masih menyisahkan persoalan, yaitu terutama: bagaimana orang dapat keluar dari situasi zamannya sendiri untuk masuk ke suasana zaman lain? Bagi Gadamer, merupakan hal yang mustahil orang yang bisa meninggalkan prasangka-prasangkanya, berikut situasi psikis, dan sosiologis yang mengitarinya, lalu masuk ke dalam suasana lain. Menurutnya, makna teks tidak terbatas pada pesan yang dikehendaki pengarangnya, karangan teks bersifat terbuka bagi pemaknaan oleh orang yang membacanya, meskipun berbeda dalam waktu dan tempatnya.

6. Penutup

Para penganut filsafat analitik menganggap bahasa logika lebih sesuai dengan maksud-maksud filsafat, sedangkan penganut filsafat bahasa biasa menganggap bahasa biasa cukup memadai bagi maksud-maksud filsafat. Hermeneutika merupakan sebuah filsafat yang memusatkan bidang kajiannya pada persoalan “understanding of understanding (pemahaman pada pemahaman)” terhadap teks, terutama teks Kitab Suci, yang datang dari kurun waktu, tempat, serta situasi sosial yang asing bagi para pembacanya.

ANALISIS KESALAHAN

Analisis Kesalahan Penggunaan EYD dalam Berita “Sumatera Ekspress” Terbitan 27—30 Oktober 2010

Dian Nuzulia

I. Pendahuluan

Pada setiap kegiatan yang dilakukan manusia dan gerak manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan masyrakat, tidak pernah lepas dari bahasa. Tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai oleh bahasa. Salah satu kegiatan manusia yang setiap hari dilakukan adalah berkomunikasi. Dalam berkomunikasi, bahasa memiliki peranan penting untuk menyampaikan berita.

Untuk menyampaikan berita (pesan, amanat, ide, dan pikiran) dibutuhkan bahasa yang singkat, jelas, dan padat. Fungsinya adalah agar segala sesuatu yang disampaikan mudah dirnengerti. Namun, dalam menggunakan bahasa tersebut pemakai bahasa tetaplah mengikuti kaidah-kaidah atau aturan yang benar karena bahasa yang benar akan dijadikan acuan atau model oleh rnasyarakat pemakai bahasa, dan ragam itu digunakan dalam situasi resmi. Kenyataannya sekarang banyak pemakai bahasa yang tidak menyadari bahwa bahasa yang digunakan tidak benar atau masih terdapat kesalahan-kesalahan.

Kesalahan berbahasa Indonesia masih banyak dijumpai dalam media cetak, khususnya surat kabar. Tulisan dalam surat kabar dibaca oleh berjuta-juta orang. Oleh sebab itu, bahasa yang digunakan dalam surat kabar atau koran hendaklah bahasa yang baik, dan benar. Bahasa koran yang salah dapat mempengaruhi bahasa seorang pembaca yang kurang menguasai bahasa karena ada kemungkinan dia meniru bahasa yang salah itu.

Salah satu kesalahan yang sering ditemukan di koran, majalah, dan banyak tulisan lain yang dibuat orang adalah kesalahan ejaan. Kesalahan ejaan yang masih saja kita jumpai sampai sekarang adalah penulisan di, partikel pun, penulisan kata gabung, penulisan kata ulang, pemakaian huruf besar atau huruf kapital, dan pemakaian tanda titik. Kesalahan penggunaan huruf, penulisan kata, dan penulisan tanda baca masih sering dijumpai. Hal tersebut mencerminkan bahwa para wartawan yang membuat tulisan tersebut kurang memperhatikan kaidah-kaidah penulisan yang benar.

Kesalahan-kesalahan ejaan yang banyak kita lakukan dalam menuliskan bahasa kita, memang merupakan kesalahan umum yang banyak terjadi, dan banyak atau pernah dilakukan oleh siapa saja diantara kita. Namun, kalau kita mengakui bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa negara, kita harus berusaha menggunakannya sebaik mungkin. Bagaimana orang lain bisa menghargai bahasa kita kalau kita sendiri tidak terlalu peduli kepada bahasa kita itu, termasuk dalam hal penggunaan ejaan (Chaer, 2002: 84).

Surat kabar yang menggunakan bahasa yang baik dan benar secara tidak langsung telah bertindak sebagai pembina bahasa bagi generasi muda dan pembaca-pembacanya. Cintailah bahasa nasional kita dengan bukti yang konkret, yaitu penggunaannya yang baik dan benar.  Berdasarkan hal di atas, penulis tertarik untuk meneliti kesalahan ejaan bahasa Indonesia yang terdapat dalam Harian “Sumatera Ekspress” terbitan 23—30 Oktober 2010. Tujuan dari penulisan ini untuk mendeskripsikan kesalahan penggunaan EYD dalam harian “Sumatera Ekspress” terbitan 23—30 Oktober 2010.

2.  Pembahasan

2.1 Pengertian Analisis Kesalahan

Menurut Semi (1988:14) analisis adalah penelaahan atau penilaian serta pemahaman sebuah karya seseorang. Menurut KBBI (1992:1055), kesalahan adalah menyimpang dari aturan yang sebenarnya, sesuatu yang salah atau ketidakbenaran. Berdasarkan kedua pendapat itu, analisis kesalahan adalah penelaahan atau penilaian terhadap sesuatu yang salah atau menyimpang dari aturan.

2.2 Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Menurut Arifin dan S. Amran Tasai (2002:170), ejaan adalah keseluruhan aturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana hubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Selanjutnya, Depdikbud (1992:6) mengemukakan, ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan adalah sistem ejaan resmi yang digunakan sekarang sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden RI No. 57 tanggal 16 Agustus 1972.

2.2.1 Pemenggalan Kata

Kalau kita menulis, acapkali kita harus memenggal sebuah kata, misalnya karena pindah baris baru, atau untuk kepentingan tertentu. Kita tidak boleh memenggal kata semaunya saja, melainkan harus mengikuti suatu aturan. Berikut ini pemenggalan kata menurut pendapat chaer (2002:56—65).

1. Kata dasar

Kata dasar dipenggal dengan aturan:

  1. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, maka pemenggalan kata itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.

Contoh:   ba-ik, a-ir, bu-ah, sa-at.

Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.

Contoh:   au-la, am-boi, sau-da-ra

  1. Jika di tengah kata dasar ada huruf konsonan di antara dua huruf vokal, maka pemenggalan kata itu dilakukan sebelum huruf konsonan itu.

Contoh:   si-kat, i-kan, ba-ngun, a-khir, ha-nyut.

  1. Jika di tengah kata dasar ada dua huruf konsonan yang berurutan yang bukan gabungan huruf konsonan, maka pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.

Contoh:   pin-dah, lam-bat, ap-ril, jip-lak.

  1. Jika di tengah kata dasar ada tiga huruf konsonan atau lebih, maka pemenggalannya dilakukan di antara konsonan, dengan huruf yang kedua.

Contoh:   kon-trak, bang-krut, ul-tra

2. Kata Berimbuhan

Kata berimbuhan dipenggal dengan aturan:

  1. Imbuhan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk, dan partikel (seperti kah dan lah) yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dalam pemenggalan kata dipisahkan sebagai satu kesatuan.

Contoh:   mem-be-lok, a-pa-kah, meng-a-ir-i, pe-ngum-pul-an.

  1. Imbuhan sisipan, yaitu el, em dan er dalam memenggalan tidak diperhitungkan sebagai satu kesatuan, melainkan sebagai bagian dari kata.

Contoh:   g-em-e-tar (salah) ge-me-tar (benar)

g-er-i-gi (salah)  ge-ri-gi (benar)

t-el-un-juk (salah) te-lun-juk (benar)

3. Kata Kompleks

Jika sebuah kata terdiri lebih dari sebuah unsur (kata kompleks) dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, maka pemenggalannya dilakukan dua tahap. Pertama, di antara unsur-unsur itu. Kedua, di antara suku-suku kata pada masing-masing unsur, sesuai dengan kaidah yang disebutkan di atas.

Contoh:      Tahap I                        Tahap II

kilo-meter                    ki-lo-me-ter

foto-grafi                     fo-to-gra-fi

bio-logi                        bi-o-lo-gi

2.2.2  Penggunaan Tanda Titik

1.  Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Contoh: Saya suka makan nasi.
Apabila dilanjutkan dengan kalimat baru, harus diberi jarak satu ketukan.

2.  Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Contoh:   Irwan S. Gatot

George W. Bush

Apabila nama itu ditulis lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.
Contoh:      Anthony Tumiwa

3.  Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh:

  • Dr. (doktor)
  • S.E. (sarjana ekonomi)
  • Kol. (kolonel)
  • Bpk. (bapak)

4.  Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum.

Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda  titik.
Contoh:

  • dll. (dan lain-lain)
  • dsb. (dan sebagainya)

5.   Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang

menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Contoh:

  • Pukul 7.10.12 (pukul 7 lewat 10 menit 12 detik)
  • 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

6.   Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Contoh: Kota kecil itu berpenduduk 51.156 orang.

7.  Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya   yang tidak menunjukkan jumlah.

Contoh:

  • Nama Ivan terdapat pada halaman 1210 dan dicetak tebal.
  • Nomor Giro 033983 telah saya berikan kepada Mamat.

8.  Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi maupun di dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.

Contoh:

  • DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
  • SMA (Sekolah Menengah Atas)

9.    Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran,   timbangan, dan mata uang.
contoh:

  • Cu (tembaga)
  • 52 cm

10.  Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
contoh:

  • Latar Belakang Pembentukan
  • Sistem Acara

2.2.3.  Penggunaan Tanda Koma

1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
Contoh: Saya menjual baju, celana, dan topi.
Contoh penggunaan yang salah: Saya membeli udang, kepiting dan ikan.

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang berikutnya, yang didahului oleh kata seperti, tetapi, dan melainkan.
Contoh: Saya bergabung dengan Wikipedia, tetapi tidak aktif.

3.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
Contoh:   Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.

Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

4.  Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.

Contoh: Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

5. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi .
Contoh:     Oleh karena itu, kamu harus datang.

Jadi, saya tidak jadi datang.

6.  Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang  terdapat pada awal kalimat.
contoh:     O, begitu.

Wah, bukan main.

7.  Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam  kalimat.
Contoh: Kata adik, “Saya sedih sekali”.

8.  Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh:    Medan, 18 Juni 1984

Medan, Indonesia.

9. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Contoh: Lanin, Ivan, 1999. Cara Penggunaan Wikipedia. Jilid 5 dan 6. Jakarta: PT Wikipedia Indonesia.

10.   Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Contoh: I. Gatot, Bahasa Indonesia untuk Wikipedia. (Bandung: UP Indonesia,

1990), hlm. 22.

11.  Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. contoh: Rinto Jiang, S.E.

12. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen      yang dinyatakan dengan angka.
Contoh:     33,5 m

Rp10,50

13. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak   membatasi. Contoh: pengurus Wikipedia favorit saya, Borgx, pandai sekali.

14. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Contoh: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
Bandingkan dengan: Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.

15. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Contoh: “Di mana Rex tinggal?” tanya Stepheen.

3. Analisis Kesalahan Penggunaan EYD dalam Berita “Sumatera Ekspress” Terbitan 27—30 Oktober 2010

Analisis Kesalahan Penggunaan EYD dalam Tajuk Rencana Harian “Sumatera Ekspress” Terbitan 27—30 Oktober 2010 terdiri dari 10 judul. Berikut 10 judul tajuk rencana yang dianalisis.

  1. Rabu, 27 Oktober 2010 Bukopin Raih CBE Aaward (No. 1).
  2. Rabu, 27 Oktober 2010 PS Gelar Happy Vaganza Expo 2010 (No. 2)
  3. Kamis, 28 Oktober 2010 Disomasi, Pemprov Minta Maaf (No. 3)
  4. Kamis, 28 Oktober 2010 Axis Realisasikan Program TJS (No. 4)
  5. Jumat, 29 Oktober 2010 Peugeot Siap Dirakit di Dalam Negeri (No.5)
  6. Jumat, 29 Oktober 2010 Hakim Akil Akui Terima SMS Suap (No. 6)
  7. Sabtu, 30 Oktober 2010 Jemaah Wafat Dapat Sertifikat (No. 7)
  8. Sabtu, 30 Oktober 2010 Seminggu, Starlight Terjual 500 Unit (No. 8).

3.1 Analisis Kesalahan Penggunaan Kata pada Judul Berita

Berita Kesalahan Penggunaan Kata Seharusnya
1. 

 

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Bukopin Raih CBE Aaward 

PS Gelar Happy Vaganza Expo 2010

Disomasi, Pemprov Minta Maaf

Axis Realisasikan Program TJS

Peugeot Siap Dirakit di Dalam Negeri

Hakim Akil Akui Terima SMS Suap

Jemaah Wafat Dapat Sertifikat

Seminggu, Starlight Terjual 500 Unit

Bukopin Meraih CBE Aaward 

PS Menggelar Happy Vaganza Expo 2010

Disomasi, Pemprov Meminta Maaf

Axis Merealisasikan Program TJS

Peugeot Siap Merakit di Dalam Negeri

Hakim Akil Mengaku Menerima SMS Suap

Jemaah Wafat Mendapat Sertifikat

Seminggu, Starlight Terjual 500 Unit

3.2 Analisis Kesalahan Pemenggalan Kata pada Berita

Berita Kesalahan Pemenggalan Kata Seharusnya
1. 

2.

3.

4.

siaran per- 

snya kemarin.

aktif dan dis-

eleksi

mengawal Guber-

Nur Alex Noerdin

AXIS, Wah-

yudin Adikusumah

siaran pers- 

nya kemarin.

aktif dan di-

seleksi

Mengawal

Gubernur Alex Noerdin

AXIS,

Wahyudin Adikusumah

5. 

 

6.

7.

8.

kesehatan ma- 

syarakat

Er-

Win Julystiawan

bun-

dling Esia

seminggu te-

rakhir

kesehatan mas- 

yarakat

Erwin Julystiawan

bund-

ling Esia

seminggu ter-

akhir

3.3 Analisis Kesalahan Penggunaan Tanda Titik (.) pada Berita

Berita Kesalahan Penggunaan Tanda Titik Seharusnya
1.

 

 

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

 

(BPHI). Karena dokter

 

(BPHI) karena dokter

3.3 Analisis Kesalahan Penggunaan Tanda Koma (,) pada Berita

Berita Kesalahan Penggunaan Tanda Koma Seharusnya
1. 

 

2.

3.

4.

5.

Surabaya, Bandung dan Medan 

Wahyudin Aditakusumah, mengatakan,

Constatintinus Herlijoso, mengatakan,

Surabaya, Bandung, dan Medan 

Wahyudin Aditakusumah mengatakan,

Constatintinus Herlijoso mengatakan,

Berita Kesalahan Penggunaan Tanda Koma Seharusnya
6. 

 

7.

8.

 

Erwin Julystiawan, menemukan jemaah itu

 

Erwin Julystiawan menemukan jemaah itu

4. Penutup

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis di atas penggunaan EYD pada berita “Sumatera Ekspress” terbitan 27—30 Oktober 2010, khususnya penggunaan kata, tanda titik dan tanda koma., dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Kesalahan penggunaan kata pada judul tajuk rencana, yaitu kurangnya penggunaan imbuhan.
  2. Kesalahan penggunaan tanda titik tergolong kecil karena hanya satu kesalahan pada satu artikel yang salah.
  3. Kesalahan penggunaan tanda koma tergolong sedang karena ada empat kesalahan pada empat artikel yang salah.

4.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mengemukakan beberapa saran.

  1. Untuk staf redaksi harian “Sumatera Ekspress”, hendaknya memperhatikan ketentuan-ketentuan penulisan tajuk rencana yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.
  2. Untuk pembaca, hendaknya memiliki kepedulian terhadap penggunaan EYD dalam media cetak, baik secara tertulis atau tidak untuk menghubungi redaksi terhadap kesalahan-kesalahan dalam surat kabar

 

TES BAHASA

Dian Nuzulia

A. Pengertian Tes Bahasa

Menurut Arikunto (dikutip Iskandarwassid dan Dadang, 2008:179—180), tes adalah suatu alat atau prosedur yang sistematis dan objektif untuk memperoleh data-data atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang, dengan cara yang boleh dikatakan tepat dan cepat. Selanjutnya, menurut Nurkancana, tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dibandingkan dengan nilai yang dicapai anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.

Definisi di atas bila dikaitkan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas, maka tes adalah suatu alat yang digunakan oleh pengajar untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan peserta didik dalam memahami suatu materi yang telah diberikan oleh pengajar. Menurut Djiwandono (2008:12), tes bahasa adalah suatu alat atau prosedur yang digunakan dalam melakukan penilaian dan evaluasi pada umumnya terhadap kemampuan bahasa dengan melakukan pengukuran terhadap kemampuan bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.

B. Pendekatan Tes Bahasa

Tes bahasa dalam kedudukannya memiliki kaitan yang amat erat dengan komponen-komponen lain dalam penyelenggaraan pembelajaran bahasa, terutama komponen  pembelajaran  yang  mendasarinya  yaitu  kegiatan  pembelajaran.  Hal serupa berlaku pula pada tujuan pembelajaran untuk menyelenggarankan pembelajaran dengan seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran untuk mengetahui tingkat keberhasil an dilakukan evaluasi atau tes bahasa dengan melihat keempat kemampuan bahasa. Ketiga komponen itu berkaitan satu sama lain.

Secara umum pendekatan terhadap bahasa yang akan menentukan dan mendasari dalam menyelenggarakan pendekatan pembelajaran bahasa. Pendekatan pembelajaran bahasa menentukan pendekatan dalam menyelenggarakan tes bahasa berdasarkan keempat kemampuan bahasa. Penyelenggaraan tes bahasa tergantung pada sudut pandang dan unsur yang dianggap penting oleh para ahli.

Perbedaan pandangan itu dikelompokkan dalam bentuk (1) Pendekatan Tradisional, (2) Pendekatan Diskret, (3) Pendekatan Integratif, (4) Pendekatan Pragmatik, (5) Pendekatan Komunikatif (Djiwandono, 2008: 17—30).

  1. Pendekatan tradisional dalam tes bahasa dikaitkan dengan pembelajaran bahasa tradisional. Pendekatan ini dirancang hanya untuk memenuhi kebutuhan akan keperluan sesaat. Dengan kata lain, tes bahasa dilakukan terbatas pada kebutuhan untuk mengetahui tingkat kemampuan tertentu seperti menulis dengan bahan ajar yang menitikberatkan pada tata bahasa.
  2. Pendekatan diskret dalam tes bahasa didasarkan atas paham linguistik struktural yang menganggap bahasa sebagai sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian yang tertata menurut struktur tertentu. Dalam penggunaan tes pendekatan diskret, tes ditujukan untuk mengukur hanya satu unsur dari komponen bahasa. Tes pendekatan diskret diterapkan atas dasar pemahaman konvensional terhadap bahasa yang terdiri dari empat kemampuan bahasa dan empat komponen bahasa.

Tabel 1

Komponen Bahasa Kemampuan Bahasa
Menyimak Berbicara Membaca Menulis
Bunyi Bahasa  

Struktur Bahasa

Kosakata

Kelancaran Berbahasa

+ 

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

  1. Pendekatan integratif yang diterapkan pada tes integratif juga berdasarkan pada paham linguistik struktural dengan rincian bahasa ke dalam kemampuan dan komponen bahasa dan unsur-unsurnya yang dapat dipisah. Meskipun demikian pendekatan tes integratif tidak selalu tampil secara terpisah-pisah dapat juga dalam gabungan (integrasi) antara satu unsur dengan satu atau lebih unsur bahasa lainnya. Dengan kata lain, tes integratif mengukur tingkat penguasaan terhadap gabungan dari dua atau lebih unsur bahasa.
  2. Pendekatan pragmatik pada tes pragmatik berkaitan dengan kemampuan untuk memahami suatu teks atau wacana. Pemahaman tidak terbatas pada bentuk dan struktur kalimat, frasa dan kata dan unsur yang digunakan dalam teks atau wacana. Pemahaman lebih jauh diperoleh melalui konteks ekstra linguistik, yaitu aspek pemahaman bahasa di luar apa yang diungkapkan melalui bahasa dan meliputi segala sesuatu dalam bentuk kejadian, pikiran, perasaan, persepsi, ingatan dan lain-lain. Penerapan tes pragmatik yang paling sering dikaitkan dengan tes cloze, di samping dikte.
  3. Pendekatan komunikatif dikaitkan dengan tes bahasa tentang konteks ekstra linguistik seperti pendekatan pragmatik, namun cakupan yang lebih lengkap dan lebih luas, karena bertitik tolak dari komunikasi sebagai fungsi utama dalam penggunaan bahasa. Peranan dan pengaruh unsur-unsur non-kebahasaan yang lebih ditekankan pendekatan ini. Kemampuan komunikasi berkaitan dengan penguasaan terhadap tiga komponen utama, yaitu (1)  kemampuan bahasa (language competence) meliputi struktur, kosakata, makna, (2) kemampuan strategis (strategic competence) yaitu kemampuan untuk menerapkan dan memanfaatkan komponen-komponen kemampuan bahasa dalam berkomunikasi lewat bahasa. (3) mekanisme psiko-fisiologis, yaitu proses psikis dan neurologis yang digunakan dalam berkomunikasi lewat bahasa. Secara singkat kemampuan komunikatif sebagai kemampuan yang digunakan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan situasi nyata, baik secara reseptif maupun secara produktif (ability to use language appropriately, both receptively and productively, in real situations)

C. Jenis-Jenis Tes

Menurut Ibrahim dan Nana (2003:89—92), keahlian dan kecakapan menyusun soal tes merupakan pernyataan mutlak yang harus dimiliki setiap pengajar. Dengan soal yang baik dan tepat akan diperoleh gambaran prestasi siswa yang sesungguhnya. Demikian pula sebaliknya, dengan soal yang tidak tersusun dengan baik dan tepat, tidak akan diperoleh gambaran tentang prestasi siswa yang sesungguhnya.

1. Tes Subjektif

Tes subjektif berupa uraian bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik menguraikan apa yang terdapat dalam pikirannya tentang sesuatu masalah yang diajukan guru. Tes bentuk uraian terbagi atas dua jenis:

a. Uraian bebas, yakni tes yang soal-soalnya harus dijawab dengan uraian secara bebas. Kelemahan bentuk tes ini adalah sukar menentukan standar jawaban yang benar sebab jawaban peserta didik sifatnya beranekaragam.

Contoh:

Masalah dan kesulitan apa saja yang mungkin harus dihadapi dalam penerapan Pengajaran bahasa Indonesia dengan Pendekatan Kontekstual di Indonesia?

b. Uraian terbatas, yakni tes yang soalnya menuntut jawaban dalam bentuk uraian yang lebih terarah. Tes uraian jenis kedua ini lebih mudah memeriksanya, karena dapat (lebih mudah) ditetapkan standar  jawaban yang benar. Contoh:  Sebutkan ciri-ciri kata kerja (verba) ?

2. Tes  Objektif

Tes objektif sangat beragam jenisnya. Setiap jenis memiliki nilai kegunaan masing-masing sesuai dengan maksud dan tujuan diadakannya evaluasi. Tes objektif adalah tes yang penskorannya dapat dilakukan dengan tingkat objektivitas yang tinggi. Penilaian satu peserta didik tidak akan berbeda bila seandainya penilaian dilakukan beberapa korektor.

a. Tes Benar – Salah (True-False Test)

Tes Benar-Salah

Petunjuk:

  1. Berdasarkan wacana yang baru didengarkan, nyatakanlah kebenaran masing-masing pernyataan berikut.
  2. Lingkarilah huruf B bila pernyataan ini benar, atau huruf S bila pernyataan tersebut salah.

Contoh

Lagu kebangsaan Indonesia Raya diciptakan oleh                        B           S

W.R. Soepratman

  1. Jumlah penduduk Indonesia saat ini, dua kali lebih       B         S

banyak daripada jumlah penduduk Indonesia ketika

naskah yang dibacakan itu ditulis.

Soal ini dibuat dalam bentuk pernyataan. Tugas peserta didik adalah membaca dan menetapkan apakah pernyataan itu benar atau salah. Agar tidak terjadinya kekacauan dalam menentukan pilihan, soal tes hendaknya secara tegas membedakan benar dan salahnya suatu pernyataan berdasarkan konsep tertentu. Contoh tes benar-salah berdasarkan pendapat Djiwandono (2008:39) dalam tes menyimak sebagai berikut.

B

  1. Terdapat beberapa puluh bahasa di Indonesia               B         S
  2. Di samping bahasa daerah, bahasa Indonesia                 B         S

Merupakan bahasa kedua bagi banyak orang

Indonesia

  1. Yogyakarta menjadi ibukota RI sampai dengan 1995   B         S
  2. Sejak berdirinya, wilayah Indonesia terdiri dari tiga      B         S

wilayah waktu

b. Tes Pilihan Ganda (Multiple-Choice Test)

Bentuk soal ini menyediakan sejumlah kemungkinan jawaban, satu di antaranya adalah jawaban yang benar. Tugas peserta didik adalah memilih jawaban yang benar itu dari sejumlah kemungkinan (options) yang tersedia.

Contoh: Pilihlah satu kemungkinan jawaban yang benar dengan memberikan tanda silang (x) pada pilihan a, b, c, atau d yang terdapat di depan jawaban tersebut.

Mengapa hari ini Tutik tidak pergi ke sekolah?

  1. Dia sedang sakit
  2. Dia pergi ke luar kota
  3. Dia mengira hari ini libur
  4. Dia terlambat bangun.

c. Tes Menjodohkan (Matching Test)

Dalam tes ini, peserta didik diminta menjodohkan atau mencocokkan  secara tepat setiap butir soal dengan pasangannya pada kemungkinan jawaban. Tes menjodohkan tersusun dalam bentuk dua deretan butir tes. Deretan pertama terdiri dari pertanyaan atau pernyataan atau sekedar kata-kata lepas. Deretan kedua, yang biasanya terletak di sebelah kanan deretan pertama, terdiri dari jawaban dari pertanyaan atau bagian dari pernyataan.

Contoh:  Jodohkan kata-kata di deretan kiri dengan kata-kata di deretan kanan yang merupakan pasangannya.

Bagian A                               Bagian B

  1. Filipina                             a.  Bangkok
  2. Malaysia                           b.  Manila
  3. Muangthai                        c.  Beijing
  4. Jepang                              d.  Kuala Lumpur                                                                                 e.   Tokyo

d. Tes Melengkapi

Tes ini terdiri dari serangkaian pernyataan/paragraf yang dihilangkan sebagian unsurnya, sehingga tidak lengkap. Peserta didik diminta melengkapi kalimat atau paragraf tersebut.

Contoh:

Kata yang menyatakan makna perbuatan dan pekerjaan disebut …………

D. Jenis Tes Bahasa

1. Jenis Tes Bahasa Berdasarkan Pendekatan Kajian Bahasa

Berdasarkan kriteria bagaimana bahasa dikaji dan ditelaah, maka tes dikembangkan berdasarkan pandangan yang berbeda dalam memahami hakikat bahasa. Dari latar belakang pendekatan bahasa, jenis tes bahasa dapat dikelompokkan menjadi (1) tes bahasa diskret, (2) tes bahasa integratif, (3) tes bahasa pragmatik dan (4) tes bahasa komunikatif (Djiwandono, 2008:101—155).

a. Tes Bahasa Diskret

Tes bahasa diskret adalah tes yang disusun berdasarkan pendekatan diskret dalam linguistik, khususnya linguistik struktural seperti yang diuraikan sebelumnya. Tes diskret dimaksudkan untuk menilai peng-gunaan satu bagian dari kemampuan dan komponen bahasa tertentu. Dalam praktek pengajaran bahasa sehari-hari jarang ditemukan tes ini, karena validitas masih dipersoalkan dan juga nilai kepraktisan. Contoh tes diskret berdasarkan pendapat Djiwandono (2008:104) meliputi tes membedakan satu bunyi bahasa dari bunyi bahasa yang lain, melafalkan bunyi bahasa tertentu dan menyebutkan lawan kata dari kata tertentu.

Tes Bahasa Diskret

Sasaran Tes Tugas Butir Tes Kunci Jawaban
Bunyi Bahasa Tuliskan konsonan cara pengucapannya dengan alat ucap saling bersentuhan yang terdapat pada pelafalan kata-kata berikut baikpin 

minum

/b//p/ 

/m/

Kosakata Tulislah lawan kata dari kata-kata berikut riuhmenulis 

hidup

sunyimembaca 

mati

Tata Bahasa Tulislah kata baku dari kata-kata berikut nopemberapotik 

ijin

novemberapotek 

izin

b. Tes Bahasa Integratif

Tes bahasa integratif adalah tes bahasa yang untuk mengerjakannya dituntut penguasaan terhadap bukan satu melainkan gabungan dari dua atau lebih unsur kemampuan atau komponen bahasa. Tes bahasa ini yang menjadi dasar penggabungan dari unsur yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Tes bahasa integratif berdasarkan pendapat Djiwandono (2008:106) sebagai berikut.

Tes Bahasa Integratif

Sasaran Tes Tugas Butir Tes Kunci Jawaban
Kosakata Tuliskan sinonim dari kata yang digarisbawahi 1. Bapak Kamto,silakan masuk 

2. Guru datang

menemui bapak saya

3. Lampunya hidup

TuanBapak 

Menyala

Tata Bahasa Tuliskan jenis kalimat dari kalimat-kalimat berikut ini 1. Nelayan mencari ikan.2. Nelayan mencari ikan 

dan petani menanam

padi.

3. Sopir itu menyalakan

lampu mobilnya

ketika hari menjadi

gelap.

tunggalmajemuk 

majemuk bertingkat

c. Tes Bahasa Pragmatik

Tes bahasa pragmatik adalah tes bahasa yang untuk mengerjakannya dituntut penggunaan kemampuan pragmatik, yaitu pemahaman wacana berdasarkan penguasaan terhadap unsur-unsur kemampuan linguistik (dalam bentuk penguasaan bunyi bahasa, tata bahasa, kosakata dan lain-lain) serta kemampuan ekstra linguistik (dalam bentuk pengetahuan tentang latar belakang isi dan pokok bahasan wacana).

d. Tes Bahasa Komunikatif

Tes bahasa komunikatif ialah tes yang biasanya tidak digunakan untuk mengukur kemampuan gramatikal, yang lebih menitikberatkan pada komunikasi. Tes yang dimaksud untuk memberi tugas kepada peserta tes melakukan kegiatan dengan kemampuan bahasa tertentu, termasuk kemampuan komunikatif, tes komunikatif perlu dikembangkan dengan kaitan yang jelas dengan konteks nyata.

2. Jenis Tes Bahasa Berdasarkan Sasaran Tes Bahasa

Menurut Djiwandono (2008:114—134), tes bahasa yang berdasarkan sasarannya, yaitu kemampuan atau komponen bahan mana yang dijadikan fokus pengukuran tingkat penguasaan-nya. Tes bahasa dapat dikategorikan sebagai tes yang sasarannya adalah kemampuan bahasa, yaitu (1) tes kemampuan menyimak, (2) tes kemampuan berbicara, (3) tes kemampuan membaca dan (4) tes kemampuan menulis. Tes yang sasarannya komponen bahasa seperti (5) tes kemampuan melafalkan, (6) tes kemampuan kosakata dan (7) tes kemampuan tata bahasa, karena sasaran utamanya adalah tingkat penguasaan kemampuan bahasa, dan tingkat penguasaan melafalkan atau penguasaan tata bahasa dan sebagainya.

a. Tes Kemampuan Menyimak

Sasaran utama tes kemampuan menyimak adalah kemampuan peserta tes untuk memahami isi wacana yang dikomunikasikan secara lisan langsung oleh pembicara, atau sekedar rekaman. Tes kemampuan menyimak dapat dipusatkan pada kemampuan memahami fakta-fakta yang secara eksplisit dinyatakan,  termasuk urutan-urutan peristiwa atau kejadian, atau yang hanya dinyatakan secara implisit, mengenali implikasi dari isi teks, mengambil kesimpulan dan lain-lain.

b. Tes Kemampuan Berbicara

Tes kemampuan berbicara dimaksudkan untuk mengukur tingkat kemampuan mengungkapkan diri secara lisan. Tingkat kemampuan berbicara ini ditentukan oleh kemampuan untuk mengungkapkan isi pikiran sesuai dengan tujuan dan konteks pembicaraan yang sedang dilakukan, bagaimana isi pikiran disusun sehingga jelas dan mudah dipahami, dan diungkapkan dengan bahasa yang dikemas dalam susunan tata bahasa yang wajar, pilihan kata-kata yang tepat, serta lafal dan intonasi sesuai dengan tujuan dan sifat kegiatan berbicara yang sedang dilakukan.

c. Tes Kemampuan Membaca

Sasaran tes kemampuan membaca adalah memahami isi teks yang dipaparkan secara tertulis. Tes membaca dapat berisi butir-butir tes yang menanyakan pemahaman rincian teks yang secara eksplisit disebutkan, rincian teks yang isinya terdapat dalam teks meskipun dengan kata-kata dan susunan bahasa yang berbeda, menarik kesimpulan tentang isi teks, memahami nuansa sastra yang terkandung dalam teks, memahami gaya dan maksud penulisan di balik yang terungkap dalam teks.

d. Tes Kemampuan Menulis

Tes kemampuan menulis diselenggarakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan mengungkapkan pikiran kepada orang lain secara tertulis. Pengukuran tingkat kemampuannya pada dasarnya mengacu pada relevansi isi, keteraturan penyusunan isi dan bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa pada tes menulis lebih menekankan penyusunannya, karena waktu yang lebih longgar untuk memilih kata-kata dan menyusunnya dengan lebih tepat bahkan peluang untuk memperbaiki dan melengkapi apa yang kurang jelas.

e. Tes Kemampuan Melafalkan

Tes kemampuan melafalkan diselenggarakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat kemampuan mengucapkan kata-kata, kalimat, dan wacana pada umumnya, secara jelas dan tepat, sehingga apa yang diungkapkan mudah dimengerti. Tes melafalkan menitikberatkan pada unsur-unsur yang penting  untuk membuat pelafalan itu mudah dipahami. Unsur-unsur itu meliputi kejelasan dan ketepatan pelafalan, serta kelancaran dan kewajaran.

f. Tes Kemampuan Kosakata

Tes kemampuan kosakata bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan tentang makna kata-kata, baik pada tataran kemampuan pemahaman yang pasif-reseptif, maupun kemampuan penggunaan aktif-produktif. Kedua sisi penguasaan kosakata ini perlu dicermati untuk menentukan jenis tes yang akan digunakan. Pada umumnya jenis tes objektif hanya dapat digunakan untuk pengukuran kemampuan pasif-reseptif, sedangkan pengukuran kemampuan aktif-produktif menggunakan tes subjektif.

g. Tes Kemampuan Tata Bahasa

Sasaran tes kemampuan tata bahasa adalah kemampuan memahami dan menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Cakupan tata bahasa meliputi susunan kalimat pada tataran sintaksis yang bagian dari wacana, yaitu frasa dan klausa serta susunan kata pada tataran morfologi, yang berkaitan dengan pembentukan kata-kata dengan melalui afiksasi atau imbuhan (prefiks atau awalan, infiks atau sisipan, sufiks atau akhiran dan konfiks atau gabungan berbagai imbuhan).

3. Jenis Tes Bahasa Berdasarkan Tes Bahasa Khusus

Menurut Djiwandono (2008:135—157), di samping tes bahasa yang telah diuraikan secara khusus sudah dikenal, terdapat pula tes bahasa khusus yang tidak mudah dan konsisten digolongkan ke dalam salah satu tes bahasa yang telah dikupas. Kedua jenis tes bahasa itu adalah dikte dan tes cloze.

a. Tes Dikte

Tes dikte menyangkut lebih dari satu jenis kemampuan tau komponen bahasa dan menugaskan peserta tes untuk menulis suatu wacana yang dibacakan oleh seorang penyelenggara tes. Dalam penyelenggaraan tes dikte, seorang peserta tes hanya dapat menuliskan apa yang didengarkan dari pemberi dikte dengan benar apabila dia mampu mendengar dan memahami dengan baik wacana yang didiktekan (kemampuan menyimak). Apabila peserta tidak mendengarkan secara utuh, ada kalanya peserta tes menggunakan kemampuan bahasa yang lain berupa  kemampuan tata bahasa dan kosakata.

b. Tes Cloze

Tes cloze bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan kemampuan pragmatik, yaitu kemampuan memahami wacana atas dasar penggunaan kemampuan linguistik dan ekstralinguistik. Pengukuran tingkat penguasaan kemampuan pragmatik itu dilakukan dengan menugaskan peserta tes untuk mengenali, dan untuk mengembalikan seperti aslinya, bagian-bagian suatu wacana yang telah dihilangkan.

E. Ciri-Ciri Tes yang Baik

Untuk memenuhi syarat-syarat tes yang baik, tes dapat menunaikan fungsinya dalam umpan balik kepada penyelenggaraan pembelajaran apabila sesuai (valid) dengan kemampuan yang menjadi sasaran tes, memberikanhasil yang dapat diandalkan (reliable) dan secara teknis dapat dilaksanakan tanpa terlalu banyak kesulitan (praktis).

  1. Validitas, secara lebih tepat menunjuk pada kesamaan atau setidak-tidaknya kesesuaian, antara tes dan hasil interpretasi tes. Tes kemampuan membaca hanya valid, relevan, cocok, sesuai untuk pengukuran kemampuan membaca dan tidak untuk kemampuan berbicara atau kemampuan lainnya.
  2. Reliabilitas sebagai alat ukut yang hasil pengukurannya digunakan untuk membuat berbagai keputusan terpenting. Sebuah tes dikatakan reliabilitas apabila skor yang dihasilkan hasil pengukuran kosisten, tidak berubah-ubah, dapat dipercaya karena tetap dan tidak berubah secara mencolok.

F. Menilai Tes yang Dibuat Sendiri

Tidak ada usaha guru yang lebih baik selain usaha untuk selalu meningkatkan mutu tes yang disusunnya. Namun hal ini tidak dilaksanakan karena kecenderungan seseorang untuk beranggapan bahwa yang menjadi hasil karyanya adalah yang terbaik, atau sebaik-baiknya sudah cukup baik. Guru yang sudah berpengalaman, mengajar dan menyusun soal-soal tes, juga masih sukar menyadari bahwa tesnya masih belum sempurna. Oleh karena itu, cara yang paling baik adalah secara jujur melihat hasil yang diperoleh siswa.

Secara teoretis, siswa dalam satu kelas merupakan populasi atau kelompok yang keadaannya heterogen. Dengan demikian, sebuah tes akan tercermin hasilnya dalam suatu kurva normal. Sebagian besar siswa berada di daerah sedang, sebagian kecil siswa berada di ekor kiri dan sebagian kecil yang lain berada di ekor kanan. Apabila keadaan setelah hasil tes dianalisis tidak seperti yang diharapkan dalam kurva normal, maka tentu ada “apa-apa” dengan soal tesnya.

Apabila hampir seluruh siswa memperoleh skor jelek, berarti bahwa tes yang disusun mungkin terlalu sukar. Sebaliknya jika seluruh siswa memperoleh skor baik, dapat diartikan bahwa tesnya terlalu mudah. Dengan demikian, kita dapat menilai secara objektif terhadap tes yang kita susun (Daryanto, 2008:176—179).

Ada empat cara untuk menilai tes, yaitu:

  1. Cara pertama meneliti secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kadang-kadang diperoleh jawaban tentang ketidakjelasan perintah atau bahasa, taraf kesukaran dan lain-lain dalam soal tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:

  1. Apakah pertanyaan soal untuk tiap topik sudah seimbang?
  2. Apakah semua soal menanyakan bahan yang telah diajarkan?
  3. Apakah soal yang kita susun tidak merupakan pertanyaan membingungkan (dapat disalahartikan)?
  4. Apakah soal itu mudah untuk dimengerti?
  5. Apakah soal itu dapat dikerjakan oleh sebagian besar siswa?
  6. Cara kedua adalah mengadakan analisis soal (terms analysis). Analisis soal adalah suatu prosedur sistematis, yang akan memberikan informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun. Kegunaan menganalisis soal:
    1. Membantu kita dalam mengidentifikasi butir-butir soal yang jelek.
    2. Memperoleh informasi yang akan dapat digunakan untuk menyempurnakan soal-soal untuk kepentingan lebih lanjut.
    3. Memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang soal yang kita susun.
  7. Cara ketiga adalah mengadakan checking validitas. Validitas yang paling penting dari tes buatan guru adalah validitas kurikuler (content validity). Untuk mengadakan checking validitas kurikuler, kita harus merumuskan tujuan setiap bagian pelajaran secara khusus dan jelas sehingga setiap soal dapat kita jodohkan dengan setiap tujuan khusus tersebut.
  8. Cara keempat adalah dengan mengadakan checking reabilita. Salah satu indikator untuk tes yang mempunyai reabilitas yang tinggi adalah bahwa kebanyakan dari soal-soal tes itu mempunyai daya pembeda yang tinggi.

G. Analisis Butir-Butir Soal

Analisis soal bertujuan untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang baik dan soal yang jelek. Dengan analisis soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan “petunjuk” untuk mengadakan perbaikan. Kapan sebuah soal dikatakan baik? Untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, perlu diterangkan dua masalah yang berhubungan dengan analisis soal, yaitu taraf kesukaran, dan daya pembeda (Daryanto, 2008:179—183).

a. Taraf kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya, soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya.

Seorang siswa akan menjadi hafal akan kebiasaan-kebiasaan gurunya dalam membuat soal. Misalnya saja guru A dalam memberikan ulangan soalnya mudah-mudah, sebaliknya guru B kalau memberikan ulangan soalnya sukar-sukar. Dengan pengetahuan-nya tentang kebiasaan ini, maka siswa akan belajar giat jika menghadapi ulangan dari guru B dan sebaliknya. Jika siswa akan menghadapi ulangan dari guru A, tidak mau belajar giat atau bahkan mungkin tidak mau belajar sama sekali.

b. Daya Pembeda

Daya pembeda adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi berkisar antara 0,00 sampai 1,0. Pada indeks diskriminasi ada tanda positif yang menunjukkan siswa yang pandai, sedangkan tanda negatif menunjukkan siswa yang bodoh.

KEDWIBAHASAAN

Dian Nuzulia

I. Pendahuluan

Bahasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, karena dengan berbahasa seseorang dapat menyampaikan maksud dan tujuan kepada orang lain. Dengan kata lain, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia dalam upayanya berinteraksi dengan sesamanya.

Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi melalui bahasa memungkinkan seseorang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Trager (dikutip Sibarani, 1992:18) menyatakan, “bahasa adalah sistem simbol-simbol bunyi ujaran yang digunakan anggota masyarakat sebagai alat berinteraksi dengan keseluruhan pola budaya mereka”. Bahasa sebagai sebuah gejala dan kekayaan sosial yang akan terus melaju sejalan dengan perkembangan pemakaiannya. Chaer dan Agustina (2004:15) menyatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan universal. Unik artinya memiliki ciri atau sifat khas yang tidak dimiliki bahasa lain dan universal berarti memiliki ciri yang sama yang ada pada semua bahasa.

Pengertian tentang kedwibahasaan atau bilingual sebagai salah satu dari masalah kebahasaan terus mengalami perkembangan. Hal ini disebabkan oleh, titik pangkal pengertian kedwibahasaan yang bersifat nisbi (relatif). Kenisbian demikian terjadi karena batasan seseorang untuk bisa disebut sebagai dwibahasawan bersifat arbitrer, sehingga pandangan tentang kedwibahasaan berbeda antara yang satu dengan yang lain.

Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (disingkat B1), dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut juga dwibahasawan), sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan).

Sehubungan dengan hal di atas,  penulis akan membahas pengertian kedwibahasaan, pembagian kedwibahasaan, konsep dan kategori pemilihan bahasa, faktor pemilihan bahasa, pendekatan pemilihan bahasa dan cara mengukur kedwibahasaan.

II. Kedwibahasaan

A. Pendapat Para Ahli

Berikut ini pendapat-pendapat tentang pengertian kedwibahasaan oleh para pakar ahlinya. Menurut para pakar kedwibahasaan didefinisikan sebagai berikut (Chaer dan Agustina, 2004:165—168).

1. Robert Lado

Kedwibahasaan merupakan kemampuan berbicara dua bahasa dengan sama atau hampir sama baiknya. Secara teknis pendapat ini mengacu pada pengetahuan dua bahasa, bagaimana tingkatnya oleh seseorang.

2. Francis William Mackey

Kedwibahasaan adalah pemakaian yang bergantian dari dua bahasa. Merumuskan kedwibahasaan sebagai kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang (the alternative use of two or more languages by the same individual). Perluasan pendapat ini dikemukakan dengan adanya tingkatan kedwibahasaan dilihat dari segi penguasaan unsur gramatikal, leksikal, semantik, dan gaya yang tercermin dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

3. Hartman dan Stork

Kedwibahasaan adalah pemakain dua bahasa oleh seorang penutur atau masyarakat ujaran.

4. Leonard Bloomfield

Kedwibahasaan merupakan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa yang sama baiknya oleh seorang penutur. Merumuskan kedwibahasaan sebagai penguasaan yang sama baiknya atas dua bahasa atau native like control of two languages. Penguasaan dua bahasa dengan kelancaran dan ketepatan yang sama seperti penutur asli sangatlah sulit diukur.

5. Haugen

Kedwibahasaan adalah tahu dua bahasa. Jika diuraikan secara umum maka pengertian kedwibahasaan adalah pemakaian dua bahasa secara bergantian baik secara produktif maupun reseptif oleh seorang individu atau masyarakat. Mengemukakan kedwibahasaan dengan tahu dua bahasa (knowledge of two languages), cukup mengetahui dua bahasa secara pasif atau understanding without speaking.

6. Oksaar

Berpendapat bahwa kedwibahasaan bukan hanya milik individu, namun harus diperlakukan sebagai milik kelompok, sehingga memungkinkan adanya masyarakat dwibahasawan. Hal ini terlihat di Belgia menetapkan bahasa Belanda dan Perancis sebagai bahasa negara, Finlandia dengan bahasa Find dan bahasa Swedia. Di Montreal Kanada, bahasa Inggris dan Perancis dipakai secara bergantian oleh warganya, sehingga warga Montreal dianggap sebagai masyarakat dwibahasawan murni.

7. Henry Guntur Tarigan

Pengertian kedwibahasaan bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak, hitam atau putih, tetapi bersifat “kira-kira” atau “kurang lebih”. Pengertian kedwibahasaan merentang dari ujung yang paling sempurna atau ideal, turun secara berjenjang sampai ke ujung yang paling rendah atau minimal. Pendek kata, pengertian kedwibahasaan berkembang dan berubah mengikuti tuntutan situasi dan kondisi (Tarigan, 1990:7).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kedwibahasaan berhubungan erat dengan pemakaian dua bahasa atau lebih oleh seorang dwibahasawan atau masyarakat dwibahasawan secara bergantian. Pengertian kedwibahasaan adalah pemakaian dua bahasa secara bergantian baik secara produktif maupun reseptif oleh seorang individu atau oleh masyarakat.

Perbedaan pengertian mengenai kedwibahasaan disebabkan oleh susahnya menentukan batasan seseorang menjadi dwibahasawan. Dewasa ini kedwibahasaan mencakup pengertian yang luas: dari penguasaan sepenuhnya atas dua bahasa, hingga pengetahuan minimal akan bahasa kedua. Berapa jauh penguasaan seseorang atas bahasa kedua bergantung pada sering tidaknya dia menggunakan bahasa kedua itu (Alwasilah, 1993:73).

B. Pembagian Kedwibahasaan

Menurut Chaer dan Agustina (2004:170) ada beberapa jenis pembagian kedwibahasaan berdasarkan tipologi kedwibahasaan, yaitu sebagai berikut.

1. Kedwibahasaan Majemuk (Compound Bilingualism)

Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa salah satu bahasa lebih baik dari pada kemampuan berbahasa bahasa yang lain. Kedwibahasaan ini didasarkan pada kaitan antara B1 dengan B2 yang dikuasai oleh dwibahasawan. Kedua bahasa dikuasai oleh dwibahasawan tetapi berdiri sendiri-sendiri.

2. Kedwibahasaan Koordinatif/Sejajar

Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa sama-sama baik oleh seorang individu. Kedwibahasaan seimbang dikaitkan dengan taraf penguasaan B1 dan B2. Orang yang sama mahirnya dalam dua bahasa.

3. Kedwibahasaan Subordinatif (Kompleks)

Kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknya. Kedwibahasaan ini dihubungkan dengan situasi yang dihadapi B1, adalah sekelompok kecil yang dikelilingi dan didominasi oleh masyarakat suatu bahasa yang besar sehinga masyarakat kecil ini dimungkinkan dapat kehilangan B1-nya.

Ada beberapa pendapat lain oleh pakar kedwibahasaan dalam tipologi kedwibahasaan di antaranya adalah (Paul, 2004:235).

4. Baeten Beardsmore

Menambahkankan satu derajat lagi yaitu kedwibahasaan awal (inception bilingualism) yaitu kedwibahasan yang dimemiliki oleh seorang individu yang sedang dalam proses menguasai B2.

5. Pohl

Tipologi bahasa lebih didasarkan pada status bahasa yang ada didalam masyarakat, maka Pohl membagi kedwibahasaan menjadi tiga tipe yaitu sebagai berikut.

a. Kedwibahasaan Horizontal (Horizontal Bilingualism)

Merupakan situasi pemakaian dua bahasa yang berbeda tetapi masing-masing bahasa memiliki status yang sejajar baik dalam situasi resmi, kebudayaan maupun dalam kehidupan keluarga dari kelompok pemakainya.

b. Kedwibahasaan Vertikal (Vertical Bilinguism)

Merupakan pemakaian dua bahasa apabila bahasa baku dan dialek, baik yang berhubungan ataupun terpisah, dimiliki oleh seorang penutur.

c. Kedwibahasaan Diagonal (Diagonal Bilingualism)

Merupakan pemakaian dua bahasa dialek atau tidak baku secara bersama-sama tetapi keduanya tidak memiliki hubungan secara genetik dengan bahasa baku yang dipakai oleh masyarakat itu.

Menurut Arsenan tipe kedwibahasaan pada kemampuan berbahasa, maka ia mengklasifikasikan kedwibahasaan menjadi dua yaitu:

1)        Kedwibahasaan produktif (produktif bilingualisme) atau kedwibahasaan aktif atau kedwibahasaan simetrik (symmetrical bilingualisme) yaitu pemakaian dua bahasa oleh seorang individu terhadap seluruh aspek keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis).

2) Kedwibahasaan reseptif (reseptive bilingualisme) atau kedwibahasaan pasif atau kedwibahasaan asimetrik (asymetrical bilingualism).

1. Diglosia dalam Kedwibahasaan

Diglosia adalah suatu situasi bahasa yang relatif stabil di mana, selain dari dialek-dialek utama satu bahasa (yang memungkinkan mencakup satu bahasa baku atau bahasa-bahasa baku regional), ada ragam bahasa yang sangat berbeda, sangat terkondisikan dan lebih tinggi, sebagai wacana dalam keseluruhan kesusastraan tertulis yang luas dan dihormati, baik pada kurun waktu terdahulu maupun masyarakat ujaran lain, yang banyak dipelajari lewat pendidikan formal dan banyak dipergunakan dalam tujuan-tujuan tertulis dan ujaran resmi, tetapi tidak dipakai oleh bagian masyarakat apapun dalam pembicaraan-pembicaraan biasa (Hudson, 1980).

Diglosia adalah hadirnya dua bahasa baku dalam satu bahasa, bahasa tinggi dipakai dalam suasana-suasana resmi dan dalam wacana-wacana tertulis, dan bahasa rendah dipakai untuk percakapan sehari-hari (Hartmann & Stork 1972). Diaglosia adalah persoalan antara dua dialek dari satu bangsa, bukan antara dua bahasa. Kedua ragam bahasa ini pada umumnya adalah bahasa baku (standard language) dan dialek daerah regional daerah (regional dialect) (Agustina, 2008:5).

2. Parameter Diglosia/Kedwibahasaan

Mackey (1956) mengemukakan bahwa pengukuran kedwibahasaan dapat dilakukan melalui beberapa aspek, yaitu sebagai berikut.

a) Aspek Tingkat

Dapat dilakukan dengan mengamati kemampuan memakai unsur-unsur bahasa, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon serta ragam bahasa.

b) Aspek Fungsi

Dapat dilakukan melalui kemampian pemakaian dua bahsa yang dimiliki sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Ada dua faktor yang harus diperhatikan dalam pengukuran kedwibahasaan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang menyangkut pemakaian bahasa secara internal, sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar bahasa.

Hal ini antara lain menyangkut masalah kontak bahasa yang berkaitan dengan lamanya waktu kontak seringnya mengadakan kontak bahasa si penutur dapat ditentukan oleh lamanya waktu kontak, seringnya kontak dan penekanannya terhadap bidang-bidang tertentu seperti bidang ekonomi, budaya, politik, dan lain-lain.

c) Aspek Pergantian

Aspek pergantian yaitu pengukuran terhadap seberapa jauh pemakai bahasa mampu berganti dari satu bahasa kebahasa yang lain. Kemampuan berganti dari satu bahasa ke bahasa yang lain ini tergantung pada tingkat kelancaran pemakaian masing-masing bahasa.

d) Aspek Interferensi

Aspek interferensi yaitu pengukuran terhadap kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh terbawanya kebiasaan ujaran berbahasa atau dialek bahasa pertama terhadap kegiatan berbahasa.

1. Konsep dan Kategori Pemilihan Bahasa

Masyarakat dwibahasa (bilingual) yang berbicara menggunakan dua bahasa harus memilih bahasa yang digunakan dalam bertutur. Pemilihan bahasa menurut Fasold (dikutip Chaer dan Agustina, 2004:203) tidak sesederhana yang kita bayangkan, yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan (whole language) dalam suatu peristiwa komunikasi. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. Misalnya, seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pemilihan. Pertama, dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa krama, misalnya, maka ia telah melakukan pemilihan bahasa kategori pertama ini.

Kedua, dengan melakukan alih kode (code switching), artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Dengan kata lain, konsep alih kode terjadi saat dimana kita beralihdari ragam santai ke ragam formal. Ketiga, dengan melakukan campur kode (code mixing), artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain. Di Indonesia, campur kode sering sekali digunakan saat orang berbincang-bincang yang dicampur ialah bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

Peristiwa alih kode dapat terjadi karena dua faktor utama, yakni faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu.

Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafor yang melambangkan identitas penutur. Campur kode merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. Di Indonesia, Nababan (1993:7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

2. Faktor Pemilihan Bahasa

Pemilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh  berbagai faktor sosial  dan  budaya.  Evin-Tripp  (dikutip Rokhman, 2007:3) mengidentifikasikan empat faktor utama sebagai penanda pemilihan bahasa  penutur  dalam interaksi sosial, yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi; (2) partisipan dalam interaksi, (3) topik percakapan, dan (4) fungsi interaksi. Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga, rapat di kelurahan, selamatan kelahiran di sebuah keluarga, kuliah, dan tawar-menawar barang di pasar.

Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, dan perannnya dalam hubungan dengan lawan tutur. Hubungan dengan lawan tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan, keberhasilan anak, peristiwa-peristiwa aktual, dan topik harga barang di pasar. Faktor keempat berupa fungsi interaksi seperti penawaran, menyampaikan informasi, permohonan, kebiasaan rutin (salam, meminta maaf, atau mengucapkan terima kasih).

Dari paparan berbagai faktor di atas, yang perlu diperhatikan bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pemilihan bahasa seseorang. Hal ini membuktikan bahwa karakteristik penutur dan lawan tutur merupakan faktor yang paling menentukan dalam pemilihan bahasa dalam suatu masyarakat, sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang menentukan dalam pemilihan bahasa dibanding faktor partisipan.

3. Pendekatan Pemilihan Bahasa

Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (dikutip Chaer dan Agustina, 1995:205) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan, yaitu pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial, dan pendekatan antropologi. Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut.

a) Pendekatan Sosiologi

Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah (domain). Pendekatan ini pertama dikemukakan oleh Fishman (1964). Pendekatan sosiologi melihat adanya konteks institutional tertentu (domain) yang terkait dengan dwibahasa yang terdiri dari domain formal dan domain informal. Ranah (domain) didefinisikan sebagai konsep sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi, hubungan peran antar komunikator, tempat komunikasi di dalam keselarasan lembaga masyarakat dan bagian dari aktivitas masyarakat tutur.

Di sisi lain, ranah juga adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama, misalnya keluarga, ketetanggaan, agama, dan pekerjaan.  Sebagai contoh, apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik, maka penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Pendek kata, bahasa rendah (low) yang cenderung dipilih dalam domain keluarga, sedangkan bahasa tinggi dipergunakan dalam domain yang lebih formal, seperti pendidikan dan pemerintahan.

b) Pendekatan Psikologi Sosial

Berbeda dengan pendekatan sosiologi, pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu, seperti motivasi individu, daripada berorientasi pada masyarakat. Pendekatan psikologi sosial melihat proses psikologi manusia, seperti motivasi dalam memilih suatu bahasa atau ragam dari suatu bahasa untuk digunakan pada keadaan tertentu.

Herman (dikutip Rokhman, 2007:7) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam pemilihan bahasa. Menurut Herman seorang penutur dwibahasa berada pada lebih dari satu situasi psikologis. Herman membicarakan tiga jenis situasi. Situasi pertama berhubungan dengan kebutuhan personal penutur  (personal needs), kedua situasi lain berhubungan dengan pengelompokkan sosial (social grouping), yaitu situasi latar belakang (background situation) dan situasi sesaat (immediate situation).

Pertama, satu situasi yang berkaitan dengan kebutuhan yang ada pada pribadi, yaitu keinginan untuk berbicara dalam bahasa tertentu (bahasa yang paling dikuasainya); situasi lain berkaitan dengan norma-norma kelompoknya yang memungkinkan dia memaksa diri menggunakan bahasa lain (bahasa itu mungkin belum dikuasainya secara baik). Di sini terjadi konflik antara kebutuhan pribadi dan tuntutan kelompok. Kedua, dalam penentuan bahasa yang akan digunakan muncul kekuatan yang tidak hanya dari situasi yang bersemuka (face to face), akan tetapi juga dari situasi yang lebih besar.

Dengan kata lain, seorang penutur mungkin tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam memilih bahasa atau variasi bahasa untuk menyesuaikan dengan orang lain, dan ada penutur yang dengan sengaja memilih bahasa atau variasi bahasa yang tidak sesuai dengan orang yang diajak berbicara. Hal di atas terjadi ketika penutur ingin menekankan loyalitasnya pada kelompoknya sendiri dan membedakan dirinya dari kelompok lawan bicara. Satu contoh yang jelas adalah ketika seorang Amerika kulit hitam yang berbicara  dengan orang berkulit putih dengan menggunakan bahasa Inggris dialek hitam untuk menunjukkan jati dirinya.

c) Pendekatan Antropologi

Dari  pandangan  antropologi,  pilihan bahasa bertemali  dengan  perilaku  yang mengungkap nilai-nilai sosial budaya. Seperti juga psikologi sosial, antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. Perbedaannya adalah jika psikologi sosial memandangnya dari sudut kebutuhan psikologis penutur. Pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang menggunakan pemilihan bahasanya untuk mengungkapkan nilai kebudayaannya (Fasold dikutip Rokhman, 2007:9).

Pendekatan antropo­logi dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur dalam sebuah kelom­pok. Implikasi dari pendekatan ini, yang mengarah kepada peneliti sebagai instrumen penelitian relevan untuk mengungkap secara alamiah gejala pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa di Indonesia.

1. Cara Mengukur Kedwibahasaan

Robert Lado (1961) mengemukakan agar dalam pengukuran kedwibahasaan seseorang dilakukan melalui kemampuan berbahasa dengan menggunakan indikator tataran kebahasaan (sejalan dengan Mackey). Kelly (1969) menyarankan agar kedwibahasaan seseorang diukur dengan cara mendeskripsikan kemampuan berbahas seseorang dari masing-masing bahasa dengan menggunakan indikator elemen kebahasaan kemudian dikorelasikan untuk menentukan keterampilan berbahasa.

John MacNawara (1969) memberikan desain teknik pengukuran kedwibahasaan dari aspek tingkat dengan cara memberikan tes kemampuan berbahasa yang menggunakan konsep dasar analisis kesalahan berbahasa. Pengukuran dapat memakai indikator membaca pemahaman, membaca leksikon, kesalahan ucapan, kesalahan ketatabahasaan, interferensi leksikal B2, pemahaman bahasa lisan, kesalahan fonetis, makna kata dan kekayaan makna.

Berbeda dengan pendapat-pendapat di atas, yaitu Jakobovits (1970) memberikan desain teknik pengukuran kedwibahasaan dengan cara:

1)        menghitung jumlah tanggapan terhadap rangsangan dalam B1,

2)        menghitung jumlah tanggapan dalam rangsangan dalam B2 terhadap B1,

3)        menghitung perbedaan total antara B1 dan B2,

4)        menghitung jumlah tanggapan dalam B1 terhadap rangsangan dalam B1,

5)        menghitung jumlah tanggapan dalam B2 terhadap rangsangan dalm B2,

6)        menghitung tanggapan dalam B2 terhadap rangsangan dalam B1,

7)        menghitung jumlah tanggapan dalam B1 terhadap rangsangan dalam B2,

8)        menghitung tanggapan terjemahan terhadap rangsangan dalam B2,

9)        menyatakan hasil dalam bentuk presentase, dan

10)    menghitung tanggapan dua bahasa terhadap rangsangan B1 dan B2 jika memungkinkan.

Lambert (1955) mengajukan teknik pengukuran kedwibahasaan dengan dengan mengungkapkan dominasi bahasa, artinya bahasa mana dari kedua bahasa itu yang dominant. Mackey (1968) memberikan teknik pengukuran kedwibahasaan dengan menggunakan tes ketrampilan berbahasa pada masing-masing bahasa. Lambert telah mengembangkan suatu alat untuk mengukur kedwibahasaan dengan mencatat hal-hal berikut (Mar’at, 2005:92).

  1. Waktu reaksi seseorang terhadap dua bahasa. Bila kecepatan reaksinya sama, maka dianggap sebagai dwibahasaan. Misalnya, dalam menjawab pertanyaan yang sama, tetapi dalam bahasa yang berbeda.
  2. Kecepatan reaksi dapat diukur pula dari bagaimana seseorang melaksanakan perintah-perintah yang diberikan dalam bahasa yang berbeda
  3. Kemampuan seseorang melengkapkan suatu perkataan. Misalnya, kepada subjek diberikan kata-kata yang tidak sempurna kemudian ia harus menyempurnakannya.
  4. Mengukur kecenderungan (preferences) pengucapan secara spontan. Dalam hal ini kepada subjek diberikan suatu perkataan yang sama tulisannya, tetapi berbeda pengucapan dalam dua bahasa. Misalnya, tulisan “nation” harus dibaca dan spontan oleh dwibahasawan Inggris-Perancis. Kemudian dilihat apa yang diucapkannya, “nesian” (Inggris) atau “nesjan” (Perancis).

III. Penutup

Kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa, B1 (bahasa daerah) dan B2 (bahasa nasional) atau B1 (bahasa nasional) dan B2 (bahasa asing) dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan itu dimiliki baik secara aktif-produktif maupun secara reseptif apa yang dituturkan orang lain. Pembagian kedwibahasaan berdasarkan tipologi kedwibahasaan terdiri dari kedwibahasaan majemuk, koordinatif/sejajar dan subordinatif/kompleks. Tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pemilihan bahasa seseorang. Hal ini membuktikan bahwa karakteristik penutur dan lawan tutur merupakan faktor yang paling menentukan dalam pemilihan bahasa dalam suatu masyarakat.

Kajian pemilihan bahasa bermanfaat dalam memberikan wawasan tentang peristiwa komunikasi dalam masyarakat dwibahasa di Indonesia. Dalam peristiwa itu keharusan untuk memilih bahasa atau ragam bahasa yang cocok dengan situasi komunikasi tidak dapat dihindari sebab kekeliruan dalam melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa dapat berakibat kerugian bagi peserta komunikasi itu. Ada beberapa cara mengukur kemampuan kedwibahasaan seseorang, baik dari waktu dan kecepatan reaksi, serta kecenderungan pemilihan bahasa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.