Surat Sahabat di Bulan Desember

Oleh Dian Nuzulia

Pagi yang mendung di bulan Desember membuatku melintasi memori yang hampir terlupakan. Aku terbangun dari pembaringan yang sangat nyaman. Ketika pintu kamarku dibuka dari luar. Cahaya mulai menerobos masuk saat pintu perlahan-perlahan terbuka lebar. Saat aku mulai beranjak bangkit dari tempat tidurku. Kulihat sosok wanita yang menyodorkan telepon genggan yang tak lain adalah ibuku.

“Halo. Siapa neg?” ujarku saat menerima telepon itu.

“Cici Feby?” Aku Ling-Ling. Cici, masih inget dengan aku” ujar gadis di seberang telepon.

“Adik Cici Mei” tebakku.

Saat mengucap nama  itu. Entah kenapa. Memori yang hampir tidak pernah aku buka. Menyeruak tiba-tiba. Mei, sahabatku yang selalu menemani masa kecil. Aku ingat aku selalu memanggilnya cici, panggilan khas kakak perempuan orang Tionghoa. Terlebih lagi dia sangat dewasa untuk seumurannya.

“Iya, cici. Cici Feby kok diam” ujar Ling.

“Tidak kok. Ling, mana cici Mei” ujarku padanya.

“Oh… Cici Mei ya! Ntar Ling cerita semuanya. Tapi cici bisa temui Ling di jembatan, tempat dulu cici main bersama cici Mei.” ujarnya mengakhiri pembicaraan.

***

Sekarang aku berjalan menelusuri masa lalu 15 tahun yang hampir terlupakan. Jalan ini tak banyak berubah. Hanya orangnya yang berubah semakin sibuk dengan aktifitas mereka. Aku ingat aku suka naik kendaraan roda tiga bersama Mei, yaitu becak. Kami suka sekali berkeliling di pasar ini, pasar yang cukup terkenal di Palembang, pasar Cinde. Terlebih lagi kami hampir mengenal seluruh pedagang. Terkadang kami mendapatkan hadiah berupa buah untuk kami buat rujak. Masa yang patut dikenang selamanya.

Begitulah, jalan ini selalu bercerita tentang penghuni di dalamnya. Seperti cerita persahabatanku dengan Mei yang bermula dari jalan ini. Menapaki jalan ini selangkah demi selangkah sambil memandangi tiap sudut dari jalan ini. Aku menanti saat ini saat dimana aku bisa bertemu dengan Mei. Aku mulai mempercepat langkahku untuk segera sampai ke jembatan.

“Seperti apa dia?. Sudah lebih dari 15 tahun tidak bertemu. Bagaimana wajahnya dan setinggi apa dia?. Saat masih kecil, Mei udah tinggi banget.” Batinku

Dari kejauhan kulihat ada sosok gadis mungil yang melambai ke arahku. Tubuhnya sangat kecil. Begitu juga matanya, sipit. Bahkan saat ia tersenyum, matanya hanya segaris menghiasi wajahnya.

“Cici Feby!!!!” serunya.

“Ling. Ling-Ling” kataku dengan nada bertanya.

“Iya, aku Ling-Ling. Cici kok lama sich, makanya Ling susul cici kemari. Ternyata benar ucapan Cici Mei. Cici sangat suka dengan jalan ini.” Ujarnya dengan penuh keyakinan.

Mei, apa saja yang telah kau ceritakan pada Ling. Kenapa bukan kamu saja yang menghubungiku. Paling tidak datang menemuiku di sini. Seperti dulu kau yang selalu menungguku di jembatan bahkan di jalan ini. Saat kita sama-sama pergi ke sekolah. Bukankah kau selalu melakukan hal itu untukku, sahabatku. Menunggu dan menemaniku. Tapi ini pertama kalinya aku bertemu dengan Ling-Ling. Kenapa dia bisa sangat yakin, aku Feby.

“Nah….. udah sampai” ujarnya memecahkan lamunanku.

“Kok…… rumah  ini, bukannya kalian udah pindah. Setahun yang lalu aku pernah kemari” kataku sambil memandang seisi rumah.

***

“Kenapa nangis? Lebih baik main denganku. Mau? katanya dengan nada membujuk.

“Taaappiii….” kataku sambil terisak

Seorang gadis cilik yang menangis karena dimarahi ibunya. Hanya mei yang menyapa gadis kecil itu. Diapun menghibur gadis itu dengan mengajaknya bermain menyusuri jalan itu. Jalan yang dipenuhi dengan orang-orang dewasa yang sibuk dengan dunianya. Itulah awal persahabatan kami. Bahkan kami sama-sama sekolah di Taman Siswa.

Setiap pagi, dia selalu menjemputku di depan rumah. Dia dengan sabarnya menungguku. Dia selalu melindungiku dari jahilan anak-anak cowok di sekolah. Mereka sangat takut dengan Mei karena postur tubuhnya yang tinggi. Lalu kami berikrar akan terus bersama dan menjadi sahabat selamanya.

“Mei, Feb bakal pindah rumah ama sekolah. Padahal Feb gak mau pisah dari Mei” kataku.

“Udah. Kamu nggak boleh gitu. Feb, harus nurut ama tante. Lagian Feb bisa kemari kapanpun Feb mau” ujarnya menghiburku.

Itulah pertemuan terakhir kami. Mei tidak pernah datang mengambil rapot kenaikan kelas. Padahal dia sudah janji akan datang. Aku menunggu terus menunggu hingga matahari terbenam. Karenaku pikir kali ini harus aku yang menunggu. Tapi penantianku tak berujung. Kenapa kau tidak pernah datang menemui. Bahkan aku belum mengucapkan selamat tinggal sebagai ucapan perpisahan kita.

***

Saat mulai menyusun kepingan-kepingan kenangan persahabatanku dengan Mei. Aku terkejut. Tatkala sebuah surat bersampul biru, yang hampir pudar warnanya disodorkan padaku.

“Untuk Cici Feby” kata Ling dengan tersenyum.

“Untukku” kataku sambil menerima surat biru lusuh itu dengan heran.

“Bukanya nanti. Kita harus menemui Cici Mei dulu” katanya sambil menarik tanganku.

Banyak pertanyaan yang hinggap dibenakku. Tapi aku hanya mampu diam dan mengikuti kemana langkah Ling berakhir untuk menemui sahabatku, Mei. Rupanya kami pergi tak jauh dari rumahnya. Perlahan-lahan Ling mulai berhenti di depan sebuah nisan. Aku merasa heran dan perlahan-lahan mendekati Ling. Lalu mengamati nisan itu.

Rasanya langit akan runtuh. Sebuah nama yang sangat kukenal tergores dengan jelas di atas nisan itu, Andarina Meilia. Aku tidak mampu menahan air mata, dengan mudahnya mengalir dari pipiku. Aku mulai menangis bahkan tangisanku memecahkan kesunyian. Kakiku lemas. Tubuhku mati rasa. Sahabatku yang aku tunggu sudah pergi meninggalkan dunia ini. Aku hanya bisa terduduk lemas di depan nisan itu.

“Seperti yang cici lihat. Ini kuburan Cici Mei. Sebenarnya Ling ingin menemui cici. Saat cici datang ke rumah satu tahun yang lalu. Tapi pesan Cici Mei. Ling harus menemui cici di Bulan Desember” ujarnya dengan mata sayu.

“Bulan Desember. Rupanya kau masih ingat dengan jelas bulan yang menjadi awal pertemuan kita dan awal dari persahabatan ini. Kau bahkan mengakhirnya dibulan yang sama” batinku.

Di depan nisan mei, aku mulai menyobek pinggiran surat. Surat biru lusuh yang diberikan Ling. Lalu ku buka lipatan kertas itu.

Hai Feby!

Saat kau membaca surat ini, berarti sahabatmu tidak bisa menepati janjinya. Maaf, aku tidak bisa datang. Bahkan sampai detik ini, malah kau yang datang menemuiku. Saat itu, ibuku melahirkan Ling. Kau pasti sudah bertemu dengan Ling, adikku. Dia mirip kamu. Sifatnya yang manja padaku. Kalau kalian bertemu pasti cocok. Feby, maaf mengecewakanmu. Aku hanya berharap kau bisa memahami alasanku. Selamanya kau sahabat terbaikku. Terima kasih untuk semuanya terutama persahabatan yang telah kau berikan kepadaku.

Dari sahabatmu.

Andarina Meilia


“Gara-gara Ling untuk kedua kalinya, cici berdua tidak bisa bertemu. Cici Mei menyelamatkan Ling saat sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi akan menabrak Ling. Tapi malah Cici Mei yang tertabrak” ujarnya menangis sambil menunduk dalam.

“Sudahlah. Itu bukan kesalahanmu. Cici berdua tidak pernah menyalahkan Ling atas kejadian ini” ujarku menghiburnya.

Mei dihadapanmu, aku berjanji akan menjaga Ling seperti kau yang selalu menjagaku. Aku akan menyayanginya seperti adikku sendiri. Sudah saatnya aku membalas semua kebaikanmu. Kau yang mengajarkanku sebuah persahabatan yang selamanya tidak akan pernah aku lupakan. Terima kasih atas persahabatan yang kau berikan padaku.

Cerpen ini kupersembahkan untuk sahabat masa kecilku, Mei.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: