AKU.!

Karangan Eksposisi

“Bukan kebahagiaan yang membuat kita terima kasih tapi rasa terima kasihlah yang membuat kita bahagia.

Bukan kepuasan membuat kita bersyukur tapi rasa bersyukurlah yang membuat kita merasa puas !”.

Aku dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga yang berkecukupan, walau rumahku sederhana tetapi layak untuk ditempati dan dapat dijadikan naungan diwaktu matahari bersinar dan dapat dijadikan tempat berteduh pada saat hujan serta dapat dijadikan tempat berisitarahat pada saat badan dan seluruh tubuh lelah dan letih.

Didalam keluargaku, terdiri dari lima orang yang diantaranya bapak, ibu, kakak, adik dan aku sendiri.

Didalam keluarga tidak pernah mengenal putus asa dalam menjalani suatu  kehidupan yang penuh rintangan dan cobaan yang diberikan oleh Allah Swt kepada umat-Nya.

Bapakku seorang yang sangat bekerja keras dan sangat  mencintai keluarganya, aku bangga dengan bapakku, beliau membanting tulang, memeras keringat dan menghabiskan seluruh tenaganya untuk memberi nafkah untuk aku, ibu, adik dan kakakku.

Tanpa mengenal lelah bapakku mencari uang membiayai sekolahku, adikku dan kakakku.

Dan demi mendapatkan sesuap nasi, bapakku tak mengenal lelah dan panas serta teriknya matahari yang menembus kulitnya, beliau bekerja tanpa mengenal waktu.

Pada suatu hari aku terdiam diri disudut ruangan yang di dalam rumahku, aku berpikir betapa kasihannya orang tua bekerja seharian untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

Dan tak kalah dengan ibuku, aku sangat bangga sama ibu, membanting tulang untuk mencari uang dan membiayai sekolahku.

Ibuku adalah sosok wanita yang pantang menyerah semua pekerjaan telah ia lakuan untuk mencukupi kebutuhan keluarga,  walau bapakku juga demikian.

Ibuku wanita yang kuat, tegar, dan sangat sayang sama aku dan keluargaku.

Aku tidak bisa hidup tanpa ibuku, “ibuku telah mengajarkan banyak hal kepadaku, dan memberikan tanggung jawab terhadap aku serta memberikan kepercayaan sama aku.

Aku sangat takut kehilangan kepercayaan yang telah diberikan oleh kedua orang tuaku.

Ibuku adalah inspirasiku !

Bapak adalah tenaga dan pikiran buat diriku.

Dalam keluargaku, aku juga mempunyai kakak, tetapi aku dengan kakakku tidaklah terlalu dekat, seperti kakak dan adik lainnya. Aku juga tidak tahu kenapa padahal kata orang kalau punya kakak itu enak tapi buatku tidaklah demikian.

Kakakku jauh lebih tua dariku, umur kami berbeda sangat jauh, antara lima tahun atau tujuh tahunan. Jarak umur kami. Mungkin itu yang menyebabkan kami terlihat tidak akrab. Kakakku baru menyelesaikan kuliahnya di PGRI tahun 2004, dan sekarang sudah mengajar di sekolah swasta yang tidak jauh dari desa kami.

Aku juga mempunyai seorang adik laki-laki umur kami juga berbeda jauh, jaraknya lima tahunan aku sama adikku, dan sekarang adikku duduk dibangku SD kelas V.

Adikku sangat bandel dan nakal, apa yang adikku minta haruslah dituruti, aku juga kadang-kadang jengkel sama adikku, aku juga nyadari kalau itu memang wajar karena adikku anak terakhir. Jadi manja karena dari kecil sudah dimanjain sama orang tuaku.

Keluargaku sangatlah menanamkan rasa tanggung jawab setiap yang diberikan dan sangat mengejar waktu, karena pekerjaan yang selalu menunggu, tanpa mengeluh semua pekerjaan itu harus dikerjakan.

Aku merasa bangga dengan kedua  orangtuaku dan bangga mempunyai ibu yang sangat memperhatikan keluarga.

Hingga ku berpikir apa yang akan ku berikan dan ku persembahkan untuk kedua orang tua ku nanti, karena aku berpikir dan mengingat perjuangan keras keluargaku terutama kedua orang tuaku, yang telah membesarkan ku, dan menjaga saat ku sakit, memberi nasehat saatku melakukan kesalahan.

“Ibu bapak aku kangen sama sekalian, aku kangen  saat-saat bersama dulu sebelum aku merantau ke negeri orang untuk mencari ilmu dan agar aku menjadi aku sukses nanti.

Saat ku berada didalam kamarku dengan ditemani sepi kuambil pena dan buku, aku mulai renungi hidupku,  dirumah ini begitu banyak kejadian yang telah ku alami, sedih, senang, canda, tawa telah ku lewati bersama keluargaku.

Hiruk pikuk di dalam ruang kosong ini sungguh menyiksa aku tampa semuanya begitu menyakitkan, jangan tanya mengapa  mentari bersinar terlalu pijar.

Karena awan-awan malah menjauhinya, seharusnya dan sepatutnya aku mampu mensyukuri karean tak akan mudah bagiku untuk membalas semua jasa-jasa kedua orang tuaku setelah sekian lama aku berpikir dan terus berpikir.

Hanya helaian udara dan gerakkan dedaunan, tingkap kekauan hati dan ungkapkan kebisuan tentang keditak tauan semua ini, dan ini sesungguhnya awal langkah hidupku yang telah diajarkan oleh keluargaku tentang suatu pemahaman yang tak pernah aku mengerti, dan semoga Tuhan menjadikan aku bijak aku cinta keluargaku.

 

By Dewi Nur Azizah  II C

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: