Selokan

 

Ada sebuah selokan kecil berawal dari kamar mandi umum dikampungku. Selokan itu mengalir sejauh enam meter didepan kandang ayam, melintas jamban, dan akhirnya menyambung keselokan yang dibuat oleh masyarakat dikampungku.

Selokan itu berlumut san banyak bagian semennya yang retak dan pecah. Segala kotoran yang bersumber dari kamar mandi dan jamban mengalir didalamnya. Namun, banyak anak-anak yang bermain didalamnya, mereka akan menghanyutkan ranting atau daun yang diibaratkan sebagai kapal, lalu mengejarnya sambil hilang dari pandangan. Walaupun sering dimarahi oleh orang dewasa, mereka tetap bermain dengan senangnya ditepi selokan kotor itu.

Seperti yang sudah aku ceritakan, hanya asa sebuah jamban yang dipakai oleh si penghuni kampung. Kadang-kadang diantara penduduk kampung. Ada yang lucu, asa pula yang melibatkan tetangga saling bermuka masam selama berminggu-minggu.

Ditambah lagi , ada penduduk kampung yang tidak bersih saat menggunakan  jamban, terutama anak-anak usia lanjut akibatnya, kacaulah jamban Karena dicemari kotoran yang tidak dapat didalam tong yang disediakan.

Disaat aku sedang asik melamun disisi selokan, aku melihat sebuah kapal kertas terapung-apung didalam selokan mengarah ketempat dudukku. Aku bergegas untuk mencari tahu, siapakah yang berdiri disitu, tetapi aku teringat pada kapal kertas yang hamper melewati tempatku duduk. Aku lalu berjongkok dan mengambil kapal kertas itu. Dengan segera aku, berpaling kearah tembok lagi. Dia sudah tidak kelihatan aku mengelih dalam kekecewaan.

Aku mengelap bagian bawah kapal kertas itu agar sedikit kering. Aku tergerak untuk membuka lipatan kertas itu agar dapat melihat tulisannya yang sepertinya tertera diatasnya. Mungkin aku dapat menebak tulisannya. Namun, aku mengambil keputusan untuk menyimpannya saja dulu tanpa bertanya-tanya, siapa orang yang membuatnya dan menngantarnya untuukku, aku mengeluarkan saputangan dan melipat kertas itu didalamnya. Aku memasukannya dengan berhati-hati kedalam saku sambil mencari capung-capung yang berterbangan sekali lagi, aku melihat sepasang capung yang berkejar-kejaran dibalik bunga ilalang, sepasang capung itu terlihat gembira.

Aku menarik nafas sambil tersenyum, tak lama kemudian ibukku memanggil aku utuk pulang kerumah, aku mengucapkan terima kasih kepada selokan yang telah menghanyutkan selarik harapan kedalam kolam hatikku.

 

By Herpian II C

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: