Cinta Di Ujung Penantian

 

Malam itu begitu sunyi hanya terdengar suara jangkrik dan sekali-kali terdengar suara hembusan angin yang meniupkan pancaran dinginnya di tubuh ku, terpekur duduk aku di sebuah rentetan kursi di halaman depan rumah ku, aku begitu menikmati pesona alarm pada malam itu, terdengarlah suara nyanyian di dalam handphone ku, terpekur aku memandangi handphone ku yang sedang berbunyi itu tak segan-segan aku mengangkat telepon tersebut terdengarlah suara seorang laki-laki yang mana laki-laki itu tidaklah aku kenal, di dalam handpone itulah aku dan dia berkenalan. Tidak lama perkenalan lewat handpone itu tanpa terasa obrolan kami pun sesedikit menyinggung tentang hasrat hati ingin bertemu antara aku dan dia. Kami pun sepakat untuk mengikat suatu janji ingin bertemu.

Tiga hari telah berlalu tanpa ku duga dan tanpa kusangka dia pun kembali menelpon aku dan menagih janji untuk bertemu, akhirnya aku terima pertemuan tersebut kemudian dia menunggu aku di sebuah taman agak jauh dari kediaman ku, sesampai di sana  aku melihat seorang lelaki duduk sendiri di salah satu kursi di taman itu, dengan perasaan malu dan hati dek-dekan aku menghampiri lelaki itu, setibanya di sana aku duduk di sampingnya, kami pun berjabat tangan serentak tangan ku pun dipegang dengan mesra seakan dia tak ingin aku pergi.

Lalu kami pun ngobrol-ngobrol tentang apa saja yang penting tidak membuat suasana menjadi senyap, waktu pun terus berjalan dan akhirnya senja pun menjemput matahari. Hari itu pun berlalu dengan pertemuan yang begitu berkesan, senja pun menghantarkan aku pada gelap dan sunyinya malam, malam itu begitu indah seindah hati ku yang sedang berbunga-bunga, jam berganti, hari pun berlalu.

Dua minggu sudah aku kenal dengan laki-laki itu, hubungan kami bisa dikatakan dekat tapi mengapa dia belum juga menyatakan perasaannya ke aku, mungkin aku terlalu berharap ingin memiliki dia, aku bingung kesal bahkan aku marah-marah kalau sehari tanpa dia, aku tak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Pada suatu malam ternyata harapan aku tidak hampa, malam itu dia kembali menelpon aku tapi cara-cara dia bicara jauh berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, dia begitu kaku bahkan dia banyak  diam, aku tak tahu apa maksud dia telpon aku malam itu, dengan nada yang lemah lembut dan dengan penuh harapan akhirnya kata-kata yang aku tunggu keluar juga dari bibir manis laki-laki itu, tanpa basa-basi dia bilang ke aku ”kalau dia suka dan sayang sama aku” aku bahagia banget, tapi walaupun perasaan aku sama aku tidak semudah itu terima dia jadi cowok aku,

Aku kasih dia beberapa syarat yaitu: pertama kalau dia sayang sama aku dia harus  janji apapun yang terjadi dia masih tetap sama aku,  kedua setiap malam minggu dan hari minggu walaupun dia tidak kerumah dia harus telpon aku biar aku tahu dia tidak ketemu sama cewek lain, ketiga dia harus bisa bikin orang dirumah aku senang dalam arti kalau ke rumah atau mau ajak aku jalan dia harus sopan. Ketiga syarat itu dia sanggupin tapi aku masih belum percaya bahwa dia benar-benar sayang sama aku, aku pun kasih syarat yang keempat aku tidak mau kalau dia tembak aku lewat handpone, aku mau dia tembak aku ketemu langsung, dia pun juga sanggupin syarat aku yang keempat.

Dengan waktu yang sudah ditentukan akhirnya kami ketemuan di sebuah jembatan didesa tetangga, terpekur aku menunggu dia di sana, sebel, bete, capek dan sebagainya mungkin itulah yang aku rasakan, setelah sekian lama aku menunggu dia tidak kunjung datang aku pun memutuskan untuk pulang, aku sudah lela menunggu laki-laki yang tidak menepati janji, perasaan aku saat itu tidak karuan hidup aku kacau balau aku kecewa banget, sempat terlintas dipikiran ku mungkin aku terlalu mengharapkan laki-laki itu.

Aku pulang dengan seribu kesal dan kecewa, ditengah perjalanan aku berpapasan dengan laki-laki itu dia melihat aku tapi aku pura-pura tidak tahu, dia panggil-pangil aku tapi aku tidak sekalipun menoleh kebelakang, aku sudah terlanjur kecewa, terlanjur terluka. Melihat tingkah aku yang seperti itu dia pacu kendaraannya kencang dan berhenti tepat didepan kendaraan ku, aku pun mau tidak mau harus berhenti. Dengan seribu rasa bersalah dia minta maaf dan memohon-mohon supaya aku maafin dia tapi aku tetap pada pendirian ku, aku tidak mau dikecewakan untuk yang kedua kalinya, dia juga janji bahwa dia tidak akan kecewakan aku lagi, janji tinggal janji makan aja tuuu janji aku tidak peduli lagi aku juga tidak akan mengharapkan dia lagi akan aku buang jauh-jauh tentang perasaan ku kedia.

Aku pun pergi meninggalkan dia, disaat aku mau pergi tangan aku dipegang dan kepala aku dirangkul kepundaknya, dia peluk aku begitu erat aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan pelukannya tapi aku tak bisa, dibisikkannya kata-kata indah ditelinga ku pada intinya dia sayang dan pengen miliki hati aku, dia juga bilang sebelum aku terima cinta dia, dia tidak akan melepas pelukkannya, karena perasaan aku juga sama dan memang itu sebenarnya yang aku inginkan, aku juga bisikkan kata-kata bahwa aku juga sayang dan cinta sama dia. Pada detik itulah aku dan dia resmi jadian dia janji sama aku bahwa dia tidak akan kecewakan aku dan akan selalu jaga aku, dan cinta kami.

Hari-hari ku lalui bersama dia, dia begitu baik dan perhatian sama aku terkadang dia juga tidak segan-segan antar jemput aku pulang dan pergi sekolah. Pada saat itu dia sudah lulus sekolah dan tidak melanjutkan kuliah, dia juga tidak ada kerjaan, jadi kapan saja aku membutuhkan pasti dia datang. Waktu terus berjalan hubungan kami semakin lama semakin dekat bahkan keluarga aku dan keluarga dia sudah tahu kalau kami pacaran.

Tidak terasa kami pacaran hampir empat bulan, aku pun coba-coba buat suatu permainan, permainannya adalah selama satu bulan kami tidak saling menghubungi, anggap saja kami tidak pernah pacaran, selama satu bulan kami boleh pacaran dengan cewek atau cowok lain dan setelah satu bulan kami kembali pacaran seperti biasa kalau kami berdua sudah punya pacar satu sama lain kami harus putuskan pacar kami masing-masing, awalnya dia tidak suka aku buat permainan seperti itu karena dia takut banget kehilangan aku, setelah aku yakinin dia akhirnya dia terima permainan aku, dan pada hari itu kami memulai permainan konyol itu.

Minggu pertama memang semua berjalan lancar seperti yang aku harapkan, tapi setelah memasuki minggu kedua semuanya begitu sulit untuk aku lalui tanpa dia, dalam hati aku berkata aku pengen akhiri permainan ini tapi aku yang buat permainan ini dan ini sudah setengah perjalanan, aku tidak boleh menyerah apapun yang terjadi permainan ini harus tetap berjalan. Pada suatu hari teman aku melihat dia jalan sama cewek lain sakit banget rasanya tapi apa mau dikata ini sudah bagian dari permainan kami dan aku tidak boleh marah karena ini adalah hasil dari permainan aku sendiri.

Jam berganti, hari pun berlalu permainan kami memasuki minggu ketiga dengar kabar dia sudah punya pacar selain aku, aku tidak boleh marah atau pun protes karena ini yang aku mau ini adalah permainan aku. Dalam gelap dan heningnya malam lamunan aku berlalu sejenak tiba-tiba terlintas dipikiran ku, aku harus mempunyai pacar karena aku tidak ingin kalah dari dia, mungkin ini adalah takdir tuhan secara kebetulan dikelas aku ada yang seneng sama aku beberapa hari kemudian aku jadian, aku dan dia semakin jauh kami sibuk dengan pacar kami masing-masing.

Permainan kami semakin berlanjut tidak terasa tepat pada malam itu sebulan sudah kami lalui permainan itu, malam itu aku buang gengsi aku jauh-jauh aku telpon dia dan meminta dia untuk main kerumah aku demi membicarakan masalah permainan itu, tapi betapa kecewanya aku dia bilang dia tidak bisa main kerumah aku dengan alasan dia bukan dia yang dulu sekarang dia sudah beruba menjadi anak mami dan tidak boleh kemana-mana karena takut dimarah ibunya, tapi aku tidak  peduliin apa kata dia. Pokoknya pada malam itu dia harus kerumah aku, lalu tanpa basa-basi telpon pun aku aku tutup.

Terpekur aku menunggu dia direntetan kursi dihalaman depan rumah ku, dengan ditemani hening dan gelapnya malam aku tetap menunggu dia sampai dia datang. Detik, menit dan jam pun berlalu tapi dia juga tidak kunjung datang, tanpa sadar air mata ku pun mengalir dikedua pipi ku. Dalam hati aku menyesal sudah buat permainan yang konyol yang akhirnya membuat orang yang aku cintai menjauh dan semakin menjauh dari hadapan ku. Malam semakin larut tapi dia tidak jua datang, harapan ku musnah, penantian ku sia-sia, air mata ku semakin mengalir, di benak ku tersimpan penyesalan yang begitu mendalam. Kini yang ada hanya tinggal sejarah, tersisakan kenangan-kenangan manis saat kami bersama dulu, terpuruk aku dalam gelapnya malam, malam yang begitu hening. Lamunan ku pun berlalu perhatian aku tertuju pada sebuah kendaraan yang lewat depan rumah ku, ternyata itu dia laki-laki itu dia, tapi aku langsung buang muka dan masuk kerumah aku tidak mengharapkan dia datang lagi, malam itu aku begitu kecewa, dalam kamar aku nangis lagi karena aku menyesal sudah buat permainan seprti itu.

Seminggu kami tanpa kabar berita, aku sibuk dengan pacar baru aku dan begitupun dia. Pada suatu hari aku jalan sama pacar pelarian aku dia melihat aku, tidak lama kemudian handpone aku berbunyi dia marah-marah sama aku sampai-sampai keluarlah kata-kata putus dari mulutnya, aku pun tidak bisa beerbuat apa-apa lagi karena ini semua memang salah ku, jadi aku terima semua keputusannya. Mulai saat itu  aku dan dia putus, kami jalani hidup kami masing-masing, aku dan dia seperti orang musuhan, aku dan dia seperti orang yang tidak pernah saling kenal.

Di sekolahan aku gonta-ganti cowok bahkan cowok aku bukan disekolahan saja tapi orang diluar sekolahan juga sering aku jadikan pacar. Begitupun dia, dia juga selalu gonta-ganti cewek bahkan dia juga pacarin sepupu aku, aku hanya bisa melihat dia bahagia dengan orang lain. Sekuat tenaga aku mencoba untuk melupakan dia tapi itu hanya sia-sia kemanapun aku pergi pasti aku selalu dibanyang-banyangi cintanya.

Hampir setahun aku selalu hidup dalam bayangan cintanya, setahun sudah aku putus dengannya tapi mengapa aku juga belum bisa melupakan dia, mungkin kerena dia adalah orang pertama yang mengajarkan aku apa itu “CINTA” walaupun dia bukan cimta pertama aku tapi dia ku anggap cinta pertama aku karena dia aku tahu arti cinta dan mencintai. Walaupun aku tanpa dia tapi hidup aku haruslah tetap berjalan karena aku adalah anak sekolahan yang harus aku lakukan belajar dan belajar, akan aku buktikan kalau aku bisa sukses tanpa dia.

Hampir dua tahun sudah kami putus hidup aku pun masih terus berjalan tidak terasa sekolah aku hampir selesai, hari itu aku ambil surat kelulusan, tidak ku sangka aku ketemu sama dia lagi saat aku lagi tunggu pengumuman dia dekatin aku yang lagi duduk sama teman-teman aku. Dia sapa aku dengan lembut aku pun hanya bisa menjawab dengan senyuman, sepintas dia lihat aku, aku hanya bisa senyum kemudian dia tanya mengapa kamu hanya bisa senyum kemana kamu yang dulu selalu ceria saat didekat aku, aku hanya jawab aku yang dulu sudah mati okta yang kamu lihat sekarang bukan okta yang dulu.

Aku berubah karena kamu, kamu sudah menggoreskan luka yang begitu dalam di hati ku dia hanya bisa diam melihat aku ucapkan semua itu. Terpekur dia memandangi aku, aku tidak tahu apa yang ada didalam hatinya saat dia tatap mata aku yang pasti kami masih berharap dan mengharapkan satu sama lain. Lamunan kami pun berlalu karena saatnya ambil pengumuman, dia ambil pengumuman adiknya kebetulan adiknya satu sekolahan sama aku. Setelah hari itu tidak tahu dapat nomor handpone aku dari siapa dia telepon aku, dia bilang dia masih sayang sama aku serempak aku dan dia bersuara sama-sama pengen ngomong sesuatu tapi serempak juga kami diam dan akhirnya dia ngomong sudahlah aku tahu perasaan kamu ke aku sebenarnya kamu juga masih sayang kan sama aku,??, dia pun bilang tidak usah di jawab kalau kamu masih sayang sama aku  besok pagi aku tunggu kamu di kantin belakang sekolahan kamu aku harap kamu datang.

Pada hari itu pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolahan, sesampainya aku di sekolah ternyata dia sudah datang duluan, kami pun bertemu disana, setelah beberapa lama dia bilang dia akan pergi cari kerja ke luar kota, aku harap kamu terima aku lagi biar aku bisa pergi tanpa meninggalkan beban dalam hati ini. Aku tidak bisa berkata-kata hanya air mata dan sedikit menganggukkan kepala menjawab semua pertanyaannya, serentak dia peluk aku dan bilang terima kasih karena kamu sudah kasih kesempatan aku satu kali lagi.

Ditempat itulah aku dan dia jadian kembali dan mengucap janji bahwa kami akan selalu bersama sampai kapan pun. Bel sekolah pun berbunyi itu tandanya aku harus pergi dia bilang sama aku tunggu aku kembali, suatu saat aku pasti kembali untuk mu walaupun aku tidak tahu kapan aku kembali, aku harap kamu tetap sabar menanti aku.

Hari itu berlalu dengan suka-duka, sebelum dia pergi dia telpon aku dengan bercucuran air mata aku melepaskan cinta aku, jangan takut suatu saat aku pasti kembali mungkin itulah kata-kata yang diaucapkannya untuk menghibur hati aku. Sampai sekarang, sampai hari ini, menit ini dan nanti aku masih akan tetap menunggu dia kembali, aku yakin dia pasti kembali demi aku, aku yakin dia tidak akan tinggalkan aku, hanya bermodalakan keyakinnan, sampai sekarang aku masih tetap menunggu dia, hati aku hanya untuk dia, akan ku jaga selalu hati ku hanya untuk dia, aku harap disana dia juga sama seperti aku yang selalu berharap akan bersama selamanya…

Di sini aku akan menunggu, menanti mu dan cinta mu sampai kau kembali           lagi….

 

By Dwi Oktasari II C

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: