Firasat itu…

Karangan Narasi

Disudut jendela sinar  mentari begitu nyata, sinarnya seakan mengclouse up wajah kicauan burung menari bernyanyi dengan indahnya.. suara itu..ya suara itu telah membuat ku terbangun. Mata yang begitu sulit terbuka lahan perlahan dengan begitu mudahnya melihat dunia. Suara itu…suara itu…kembali terdengar ditelingaku.

Sedangkan jam beker ku masih terdengar keras bunyinya. “Tokk..tok..tokk” wanita itu sambil memanggilku lalu aku berdiri untuk membuka pintu itu. Ternyata suara itu adalah langkah kaki seseorang wanita yang menyayangiku. Yaaa..dia adalah ibuku. Ibuku  yang selalu ada untukku. “Uda bangun ya..buruan mandi siap-siap kesekolah ya nak?” Tanya ibu sambil merapikan rambutku yang sangat acak-acakan. “Iya bu, ini br aja aku mau mandi..oh ya nanti tolong bilangin ayah kalo hari ini mau minta antar kesekolah..okey ibu ku syg..kataku sambil senyum – senyum.

Namaku tiara larasati, orang memanggilku dengan nama rara. Sebelum mandi aku merapikan sejenak tempat tidurku yang tak tahu arah, berantakan dan bantalku berhamburan kemana-mana. Ya itu lah aku, tetapi dengan sekejap mata aku dapat mengubah tempat tidur itu menjadi indah dan nyaman kembali. Setelah itu aku bergegas mandi dan bersiap-siap  untuk ke sekolah. Semua buku dan  peralatan tulis sudah kusiapkan tadi malam. Tidak terasa aku sudah menduduki bangku SMA kelas 12, ini saatnya untuk aku belajar lebih serius dan harus berkonsentrasi pada pelajaran. 3 bulan lagi aku akan menghadapi Ujian Nasional, semua keluargaku termasuk nenekku memberikan dukungan dan seman gat yang tiada tara bagiku agar aku dapat lulus dan berhasil mendapatkan nilai yang terbaik. Aku sadar begitu besar perhatian dan nasehat yang diberikan keluargaku ini..

Setelah bersiap-siap aku pun keluar dari kamar dan menghampiri keluargaku yang sedang sarapan di meja makan. Tiba-tiba telepon berdering. Krriiiiing..kring..kriingg… ibu mengangkat telepon yang bordering pagi-pagi sekali itu. Akupun heran tidak biasanya telepon berdering dipag-pagi buta itu. Ekspresi wajah ibu pun tersirat seperti tidak mengenakkan setelah menerima telepon itu. Jantungku seakan berdetak lebih kencang dan firasat ku menuju kepada nenek. Ibu menceritakan apa yang terjadi. “siapa bu? Ada apa? (tanyaku sambil menghentikan olesan selai roti yang ada ditanganku) begitu ayah dan kakak perempuan ku itu.

Kami semua tercengang ketika melihat wajah ibu yang begitu pucat dan seakan memikirkan sesuatu. “Tadi tante Linda yang telepon katanya nenek jatuh dari kamar mandi dan sekitar jam 5 subuh tadi diantar kerumah sakit tapi syukurlah nenek dibolehkan pulang oleh dokter nenek hanya terkejut saja jadi terliahat lemas, dan semuanya masih baik-baik saja” tetapi kalian jangan khawatir nenek sudah diberi obat dan sekarang nenek sedang beristirahat, nanti ibu dan kakak akan menjenguk nenek (Kata ibuku sambil duduk kembali dan mencoba menenangkan kami semua). Kebetulan hari ini kakakku ku tidak ada jadwal kuliah. Hatiku berbicara ternyata benar firasatku menuju pada nenek (sambil memakan roti yang sudah ku oleskan selai tadi.). Kami kembali melanjutkan sarapan. Setelah itu aku langsung bergegas pergi ke sekolah dan ayah yang mengantarku. Hari ini adalah hari jumat aku harus pergi agak cepat karena hari ini aku ditugaskan untuk piket di kelasku.

 

Sementara ibu dan kakakku pergi untuk menjenguk nenek. Mereka memandikan nenek dengan air hangat mungkin nenek masih terlihat lemas sehingga diangkat oleh ibuku. tante linda bilang  bahwa nenek terjatuh dikamar mandi tadi subuh tetapi dokter mengatakan nenek hanya lemas saja, dan obatpun sudah dibeli oleh tante. Setelah dimandikan nenek merasa lebih segar dan tidak begitu lemas. Nenek terus menanyakan aku kepada ibu, sangat disayangkan sekali saat itu aku sedang sekolah.

Nenek kembali berbaring dikamarnya, kakak perempuanku menemani nenek dikamarnya, sedangkan ibuku pulang kerumah sebentar karena ada tamu yang datang dari keluarga ibuku. Ayahku pada saat itu masih ditempat kerjanya, siang nanti ayah baru pulang dan baru bisa menjenguk nenek. Disekolah aku tidak bisa tenang, otakku hanya dapat memikirkan nenek, nenek, dan nenek. Rasanya aku ingin pulang saja. Aku baru ingat tadi malam aku bermimpi nenek memakai perlengkapan solat serba putih dan tengah berzikir diatas sajadah putih yang selalu ia gunakan ketika ia solat. Mulai dari situ konsentrasi belajarku berantakkan. Kesadaranku hilang tak tau kemana arahnya.

 

Istirahat tiba handphoneku bergetar lalu aku membacanya ternyata pesan itu dari tanteku lebih tepatnya adik ayahku yang berada dijakarta. Kebetulan anak nenekku ada lima salah satunya adalah ayahku. Ayahku dan tante linda menetap di Palembang, sedangkan tante Tisa, om serta bu’deku menetap dijakarta. Dengan tatapan mata yang begitu tajam aku membaca sms itu, isi sms itu ra, mungkin tante, om, dan bu’de akan menuju Palembang pagi ini juga.. jantungku seakan kembali berdetak lebih kencang dari sebelumnya, wajahku pucat, jari jemariku seperti air yang sedang dibekukan dalam lemari es.

Aku terdiam sejenak , aku sempat berfikir mengapa dengan tiba-tiba tante tisa menghubungi ku, apa mungkin ada suatu peristiwa yang sedang terjadi dalam keluargaku, atau nenek? Yahh nenek, firasatku selalu mengarah pada nenekku. Aku mencoba untuk menepis semua firasat buruk yang ada didalam otakku itu, aku berusaha untuk tidak panik. Lahan perlahan aku mencoba membalas sms tante ku itu, begitu banyak pertanyaan yang ku lontarkan lewat sms itu. Bel istirahat pun telah berbunyi kembali itu tandanya aku dan semua temanku akan belajar kembali dikelas.

Pada saat itu kakakku masih setia untuk menemani nenek dikamar. Setelah tamu dari keluarga ibuku pulang dari rumahku, ibuku bergegas membuat bubur untuk nenek.  Tak tau mengapa nenek yang kelihatan begitu agak lumayan sehat dari lemasnya itu, tiba-tiba mengeluh sakit kembali. Kakek, tante linda, dan kakakku begitu terkejut dan panic, tetapi kakekku mencoba menenangkan mereka. Wajah nenek begitu pucat dan sepertinya nenek tidak bisa berbicara lagi. Tante linda mencoba menyadarkan nenek, begitu banyak usaha yang mereka lakukan untuk nenek saat itu. Kakakku terus memeluk nenek tetapi tidak lama kemudian tuhan berkehendak lain, akhirnya nenek…nenek..yaah nenekku menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan kakak perempuanku. Kakek, tante linda dan kakakku sangat tidak percaya begitu cepatnya nenek meninggal dunia. Dan akhirnya mereka harus mengikhlaskan jika nenek sudah meninggalkan kita semua. Tetapi mereka masih sulit menahan tetesan air mata yang mengucur deras itu. Sedangkan ibuku belum mengetahui apa yang terjadi, bubur yang ia buatkan untuk nenek sudah siap tersaji didalam rantang itu. Ibu berniat untuk mengantarkan bubur itu kerumah nenek karena rumahku dan rumah nenek tidak begitu jauh dapat dijangkau dengan berjalan kaki saja. Tetapi sangat disayangkan niat ibu itu akan menghantarkan ibu pada kesedehan dan merasa kehilangan karena ada salah satu tetangga nenek memberi informasi kepada ibu bahwa nenek meninggal dunia. Ibu merasa sangat kehilangan dan kembali lagi tetesan air mata itu tengah bercucuran dimata ibuku. Lalu ibu bergegas mendatangi rumah nenek dengan tergesa-gesa.

Beberapa saat kemudian handphone ku kembali bergetar, yah tante tisa membalas sms itu. Tante tisa mengatakan bahwa mereka ke Palembang mendadak karena nenek mengalami sakit yang begitu parah secara tiba-tiba. Belum sempat aku membalas sms itu tante tisa langsung meneleponku lalu dengan cepatnya jari jemariku menjawab getaran handpone ku itu. “ halo? Ada apa ni te? Ada apa???mengapa suara tangisan begitu banyak disana? Mengapa??? (Tanyaku begitu cepat ) dada ku begitu mendesak, menghirup udara pu n terasa sulit bagiku pada saat itu. Dengan bernada tersendak-sendak tante tisa mengatakan” nenek meninggal dunia ra, tante dapat kabar ini dari ibumu”. Mendengar itu aku seakan tidak sadarkan diri menjerit, menangis, dan aku merasa hilang kendali.

Handpone yang aku pegang dengan begitu erat tiba-tiba dengan mudahnya jatuh ke lantai. Semua temanku terkejut atas sikapku, mereka semua berusa menenangkanku. Tetapi aku masih tidak bisa tenang begitu saja lalu ada salah seorang temanku memelukku dan berkata “ada apa ra? Tarik napas cobalah agak lebih tenang dan ceritakan kepada kami semua apa yang terjadi”. Lahan perlan aku mulai bisa apa yang terjadi, dan tidak lama kemudian guruku tiba dikelas kebetulan pada saat itu pelajaran agam islam. Ketika itu teman-teman langsung kembali ke kursi mereka masin-masing. Teman sebangku ku mencoba tetap menenangkanku. Semua temanku tercengang dan guruku pun bertanya apa yang telah terjadi.

Aku menceritakan pada semuanya, lalu guruku mengajak kami semua untuk bersama-sama mendoakan alm nenekku. Setelah berdoa, aku langsung meminta izin kepada guruku untuk segera pulang. Mungkin ibuku sengaja tidak member tahu aku akan kejadian ini sebelumnya, karena ibu yang paling tahu aku, aku memiliki emosi yang masih labil. Aku sangat sensitif dan mempunyai mental yang lemah, tidak dapat begitu saja  menerima sesuatu peristiwa yang membuatku merasa kehilangan. Apa lagi sesuatu peristiwa yang berhubu7ngan dengan nenekku. 2 hari yang lalu aku masih bercanda tawa bersama nenek tetapi semuanya hanya tinggal kenangan, yahh kenangan yang tak pernah aku lupakan bersama nenekku. Walau bagaimanapun aku harus bisa menerima kenyataan ini. Yahh nenek telah pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya.

Langkah kaki ku semakin terasa gemetar setelah aku sampai didepan rumah nenekku. Semua orang ramai berdatangan. Tetesan air mata itu masih bercucuran menetes dengan sendirinya. ketika aku memasuki rumah nenek, ibu langsung memelukku dengan erat. Begitu banyak yang menenangkan ku ketika itu.  Sedangkan ayah sudah dikabarkan oleh ibu, dan saat itu pula ayah langsung bergegas pulang. Tidak lama kemudian juga ayahpun tiba dirumah nenek. seluruh tubuhku masih begitu lemas, aku mencoba untuk tegar dan akupun terdiam duduk dihadapan jenazah nenek. Lalu ku buka kubuka kain panjang yang menyelimuti sekujur tubuhnya itu, dengan tangan yang begitu berat rasanya aku tak sanggup melihat orang yang ku sayang itu.

Lahan perlahan aku membuka kain itu, yaahhhh..ia betul nenekku orang yang paling dekat denganku. Hatiku mulai kembali berbicara “tuhan jika ini suratan takdirmu dan jalan terbaik untuk nenek dan kami semua, aku rela dan ikhlas nenekku pergi. Semoga nenekku dapat engkau tempatkan disisi mu yang paling indah”. Kemudian aku mulai menyium wajahnya lalu aku bisikkan ketelinganya “ nenekku tersayang maafkan aku jika aku pernah berbuat salah denganmu. Semoga nenek dapat tersenyum indah disurgaNya”. Lalu kututup kembali jenazah nenekku itu.

Aku terus setia disampingnya, aku terus berdoa untuknya, tidak terasa jenazah nenek akan dimandikan, aku mulai gelisah, saudara ayahku belum juga tiba, padahal nenek sudah selesai dimandikan. Beruntung, sebelum di kafan kan semua saudara ayahku yang diluar kota akhirnya tiba juga. Mereka sangat terpukul begitu cepat nenek pergi tanpa disertai dengan sakit yang begitu parah. Aku, ibu dan semua keluargaku berkumpul dihadapan jenazah nenek. Aku terus berusaha menenangkan tanteku yang masih saja menangis. Detik- detik terakhir satu persatu mencium nenek untuk terakhir kalinya. Ya..nenek…nenek you always my heart.. Tidak terasa jenazah nenek sudah akan dimakamkan. Ayah dan semua saudaranya sudah mengikhlaskan akan kepergian nenek.

Mentari sore tenggelam dengan sendirinya dan aku pun masih tidak menyangka saja apa yang telah terjadi pada hari ini. Lalu aku, ayah, ibu, dan kakakku pulang kerumah. Kami semua masih bisa terdiam didalam kesunyian, tidak terasa hari sudah larut malam itu mengisyaratkan kami semua untuk beristirahat..meskipun masih diselimuti kabut duka…

 

By Era Tri Utami II C

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: