KISAH KASIH LEWAT HANDPHONE

 

Pertama aku mengenal dia handponelah yang menjadi saksi perkenalan antara aku dan dia. Disore hari sekitar pukul 15:00 WIB, tiba-tiba terdengar getaran dret…dret…dret… dan bunyi lagunya Armada Band yang berjudul Buka Hati Mu yang aku jadikan untuk nada sms di hp aku. Dengan santainya aku buka sms yang masuk itu lalu kubaca dengan isi,”Hai, met sore lagi ngapain?” Boleh kenalan gak?

Karena aku tidak begitu memperhatikan sms itu, tidak lama kemudian hp yang tadinya aku kantongi di dalam celana bergetar lagi dan dilengkapi dengan anda pangilan M2M yang berjudul THE DAY YOU WENT AWAY…! Kemudian aku ambil hp dari dalam kantong celana lalu ku angkat dan terdengar suara seorang cowok dengan sapaan:”Halo selamat sore.Lalu aku jawab”iya, sore juga, ini siapa ya?” Katanya,”nama aku Anggit, aku tinggal di Lampung.

Diapun tanya balik sama aku,” Kalau kamu sendiri? Nama aku Lena, asalnya dari Belitang. Kamipun saling bertanya dan berbagi pengalaman meski baru pertama dengar suaranya.Dan ternyata dia masih kuliah di Palembang tepatnya di UNIVERSITAS PGRI yang kebetulan sama sam seperti aku. Kamipun cukup lama ngobrol lewat hp, lalu aku mengakhiri dengan ucapan salam,” Met sore, dah dulu ya aku dipanggil mama ku suruh beres-beres rumah lain waktu disambung lagi. Dia menjawab” Okelah kalau begitu..met sore juga..

Setiap hari dai nelpon dan sms untuk menanyakan keadaan ku apa baik-baik saja. Lagi ngapa dan sudah makan belum, he…mmm…pokoknya dia perhatian banget deh…walaupun kami belum pernah bertemu. Setelah lama kami berkenalan lewt hp, kami menyempatkan untuk ketemu secara langsung dan berjabat tangan sambil menyapa satu dengan yang lain. Kamipun ngobrol, bercanda, dan tertawa bersama.

Tiba-tiba ku lihat jam di hp sudah menunjukkan pukul 13:30, sudah waktunya aku cabut dari kampus untuk pulang dan jemput ayuk di KM 7. Dengan tergesa-gesa lalu aku pamitan sama Anggit dan aku melangkahkan kaki dengan cepat kearah parkiran motor yang tidak terlalu jauh dari tempat duduk kami.

Setelah itu kami berkomunikasi lewat hp. Suatu malam ku lihat ada panggilan yang ternyata dari Anggit. Lalu langsung ku angkat dan kami ngobrol seperti biasanya .Tetapi sebelum Anggit menutup telpon dan mengakhiri panggilannya, Anggit sempat menyatakan dengan bahasa Jawa katanya,” Aku Tresno Kowe.” yang artinya Aku Cinta Sama Kamu.

Karena aku sudah cukup lama mengenal Anggit maka, ku katakan padanya bahwa uku mau jadi pacarnya, tapi aku memberi kan persyratan supaya dia mengucapkan kata-kata itu didepan aku secara langsung.Diapun mau melakukan apa parintah ku. Kami menjalani hubungan dengan santai.Tapi aku sempat kecewa karena dia tidak jujur dan terbuka sama aku yang jelas-jelas sudah resmi pacaran, aku merasa dia mengangap aku sama seperti orang lain.

Dulu aku curiga sama dia karena awal pertama ketemu keadaan atau kondisi badannya selalu tidak sehat. Aku coba bertanya,” mengapa kakak kok semakin hari semakin kurus. Tapi dia selalu menutup-nutupi apa yang terjadi pada dirinya dan mencoba untuk menenangkan aku supaya tidak berfikr yang macam-macam tentang dirinya.

Dia pamitan dengan aku katanya ingin pergi ke- Yogyakarta untuk berlibur mencari udara segar atau rekreasi bareng keluarganya dan itu adalah hal pertama untuk pertama ke- Yogyakarta. Kamipun sering berkomunikasi lewat hp yaitu telpon dan aku juga sering mengingatkan supaya dia menjaga kesehatan, serta jangan lupa makan. Karena keluarganya sudah mengetahui kindisi badannya yang semakin hari semakin kurus dan tidak dapat berkembang seperti anak muda yang lain, maka dibawanya ke Rumah Sakit yang paling terkenal dan terbagus di Yogyakarta yang mereka kunjungi. Dia menjalani pemeriksaan yang tidak begitu lama kira-kira satu jam. Kemudian hasilnya pun sudah diberikan kepada pihak keluarga yang kebetulan ibunya yang mengantar ke Rumah Sakit itu, maklum dia lebih dekat dengan ibunya ketimbang bapak.

Lalu ibunya membuka hasil pemeriksaan itu, dengan kaki yang gemetaran dan dicampur hatinya yang berdetak sangat kencang dag…dig…dug.. ternyata anaknya positif terkena penyakit Paru-paru ganas. Dia terpuruk ketika melihat asli pemeriksaan oleh dokter yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Pihak rumah sakit pun menyatakan bahwa dia tidak banyak waktu lagi untuk hidup di dunia karena penyakit Paru-paru ganas susah banget untuk untuk disembuhkan dan obatnya sush dicari. Satu-satunya cara agar dia lebih tenang dalam menikmati hidupnya yang tinggal beberapa bulan lagi adalah perhatian, dukungan, dan kasih sayang dari orang-orang terdekat.

Pihak keluargapun memberi tau kepada ku bahwa Anggit telah melakukan pemeriksaan tentang kesehatan dan hasilnya adalah positif terkena Paru-paru ganas. Saat mendengar itu lewat hp yang dikatakan ibunya, hati ku rasanya ingii menangis dan memeluknya. Aku tau apa yang sekarang dia rasakan yaitu kesakitan, walaupun kit jauh antara Sumatra dan Jawa tapi hati hati kita tetap satu. Ibunya juga berkata kalau aku harus memberi perhatian dan dukungan pada Anggit supaya dia tidak begitu terbebani pada hidupnya.

Setiap hari aku menelpon kalau enggak sms untuk memberi dukungan dan untuk mengetahui kondisinya serta jangan lupa minum obat. Waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba dia pulang ke Belitang bersama keluarganya. Aku merasa senang karena bisa melihat keadaannya secara langsung. Sudah cukup lama aku merasa ada kejenggalan dari dalam diri Anggit. Setiap aku bertanya pasti jawabanya sama damn tidak mau jujur. Dia terkena Paru-paru ganas, karena sering minum-minumam keras dan merokok. Itu adalah pengaruh dari lingkungannya.

Tapi sayangnya selang beberapa hari setelah dia pulang dari Yogyakarta, ternyata Tuhan memiliki rencana lain. Penyakit Paru-paru ganasnya kambuh dan langsung dibawa ke Rumah Sakit. Kemudian ditangani oleh dokter ahli lalu selang beberapa jam jantungnya tiba-tiba berhenti dan dokter dengan wajah yang cemas keluar daari ruangan dan berkata pada pihak keluaraga bahwa Anggit tidak bisa diselamatkan lagi atau meninggal dunia.

Pada saat itu aku masih di rumah, terdengar bunyi Hp dan ternyata panggilan dari pihak keluarga Anggit, lalu cepat-cepat ku angkat dan terdengar suara tangisan yang begitu dasyat lau aku bertanya,”ada apa bu”? Lena…Anggit telah tiada. Dia sudsah meninggal dunia. Dengan rasa tidak percaya aku langsung datang ke Rumah Sakit untuk membuktikan bahwa itu benar atau tidak.

Sesampainya di Rumah Sakit ku dapati dia dengan keadaan terbujur kaku dan tertutup kain kapan. Saat melihat itu aku merasa tidak percaya dan tidak rela bahwa dia telah meninggalkan ku sendiri. Pertama aku mengenal dia lewat Hp dan pertama bertemu aku berfikir bahwa dia adalah sosok penuh semangat dan optimis. Tapi dibalik semua itu ternyata ada hal yang tidak aku ketahui. Mungkin itu jalan terbaik menurut Tuhan. Aku hanya bisa berdoa supaya dia diterima disisi Allah.

 

By Magdalena II C

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: