PENIPUAN

KARANGAN DESKRIPTIF

Siang itu, tepat pukul satu siang, aku telah selesai mengerjakan kewajibanku untuk melaksanakan shalat dzuhur, aku duduk sebentar disebuah kursi yang berada di ruang tamu. Tidak lama setelah duduk, handphone yang dari pagi kuletakkan di atas lemari yang terletak di ruang tengah itu tiba-tiba berdering dengan sangat keras. Aku bergegas mengambil handphone itu dan aku melihat seorang temanku bernama Sukma sedang menghubungi. Aku segera mengangkat telepon dari Sukma. Dalam pembicaraan yang singkat itu Sukma hanya mengatakan bahwa dia ingin sekali mengunjungi temannya yang bernama Rensy dan dia ingin aku ikut pergi dengannya.

Aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bersiap-siap. Aku segera berpamitan dengan orang tuaku. Setelah mendapat izin, aku langsung pergi ke rumah Sukma dengan mengendarai sepeda motor. Setelah sampai di rumah  Sukma kami berbincang-bincang sebentar sekedar untuk menghilangkan rasa lelah. Setelah lima belas menit berlalu, aku dan Sukma segera meminta izin pada kedua orang tua Sukma dan setelah kami mendapatkan izin, kami segera pergi menuju menuju rumah Rensy.

Kami membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai ke rumah Rensy. Tetapi ketika di tengah jalan, kami sungguh tak menduga akan terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan. Motor yang kami tumpangi tiba-tiba mogok di tengah jalan. Kami sungguh kebingungan karena kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Di tempat itu sama sekali tidak ada pemukiman warga. Di sepanjang jalan itu hanya ada sebuah gedung yang telah tua dan terlihat sangat kotor, rasanya tidak mungkin ada satu orang pun yang mau menempati gedung setua dan sekotor itu. Sungguh malang nasib kami, karena di hari itu tidak ada seorang pun yang melintasi jalan itu. Lalu kami memutuskan untuk menuntun sepeda motor yang kami tumpangi itu.

Setelah beberapa menit kami menuntun sepeda motor itu, ada seorang pengendara motor yang melintas melewati kami. Dia adalah seorang laki-laki paruh baya bertubuh ramping dan berambut ikal. Tiba-tiba dia berhenti mengendarai motornya dan menghampiri kami.

Laki-laki itu bertanya kepada kami apa yang telah terjadi, kami tidak menjawab pertanyaannya. Laki-laki itu menatap kami kemudian memperhatikan sepeda motor kami yang mogok. Laki-laki itu memeriksa sepeda motor kami dan kami melihat dia sedang berusaha membersihkan busi yang ada pada sepeda motor kami. Lalu dia mencoba menghidupkan sepeda motor kami dengan memencet starter pada motor kami itudan ternyata sepeda  motor kami bisa kembali normal. Kami mengucapkan terimakasih pada laki-laki itu.

Saat kami mengucapkan terimakasih pada laki-laki itu , dia menjawab dengan sangat ramah. Sambil tersenyum pada kami, dia memberikan sebuah pertanyaan pada Sukma, sungguh kami tak menduga laki-laki itu mengetahui segalanya tentang Sukma dan memang semua yang dikatakan laki-laki itu dibenarkan oleh Sukma. Kami tidak menaruh rasa curiga sama sekali pada laki-laki itu, karena laki-laki itu terlihat sangat ramah dan bersahabat.

Beberapa saat setelah kami berbincang-bincang , laki-laki itu malah mengajak kami mencari tempat yang teduh karena dia mengatakan pada kami kalau dia akan membicarakan sesuatu hal yang penting mengenai Sukma. Aku pun ikut menemani Sukma karena tidak mungkin aku meninggalkan Sukma dalam kondisi seperti itu. Lalu kami mengikuti laki-laki itu berjalan ke arah pohon beringin yang terletak di pinggir jalan itu, lalu kami bertiga duduk.

Aku duduk bersebelahan dengan Sukma dan menghadap pada laki-laki itu. Setelah duduk, seketika aku dan Sukma langsung terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki muda yang sangat menyukai Sukma dan lelaki itu nekat melakukan apa saja untuk mendapatkan Sukma. Kami sebagai anak yang masih polos dan tidak tahu apa-apa saat itu langsung mempercayai apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Lalu laki-laki itu dengan cepat mengatakan kalau dia bisa mencegah apa yang akan dilakukan oleh lelaki muda yang menyukai Sukma.

Laki-laki itu mengatakan akan membantu tetapi dengan syarat-syarat tertentu. Laki-laki itu menyebutkan beberapa syarat yang dimintanya, tetapi Aku dan Sukma sama sekali tidak mengetahui satu pun syarat yang disebutkan oleh laki-laki itu.

Kami terlihat kebingungan, tampaknya laki-laki itu dapat membaca raut wajah kami. Dia pun mengatakan kepada kami, kalau dia yang akan mempersiapkan semua syaratnya, kemudian dia meminta sejumlah uang pada kami, lalu kami pun mengatakan kalau kai tidak mempunyai uang sebesar itu, kami harus membicarakan hal ini pada kedua orang tua kami terlebih dahulu, tetapi laki-laki itu melarang kami untuk membicarakan hal ini pada kedua orang tua kami. Laki-laki itu beralasan bahwa dia sendiri yang akan membicarakan hal ini pada kedua orang tua kami, karena dia telah mengetahui dimana tempat tinggal kami berdua.

Kemudian laki-laki itu meminta sebuah perhiasan berupa kalung yang dipakai oleh Sukma. Karena kaget mendengar laki-laki itu meminta kalung yang dipakai Sukma, Sukma langsung memegangi kalungnya, dia terlihat keberatan untuk memberikan kalungnya pada laki-laki itu. Aku juga langsung menolak permintaan laki-laki itu, aku bertanya mengapa laki-laki itu meminta kepada Sukma untuk memberikan kalungnya dan mengapa kalung itu harus diberikan sekarang. Laki-laki itu terus merayu Sukma dan dia menyuruh Sukma untuk melepaskan kalungnya di tempat yang jauh dari keramaian  dan laki-laki itu tidak memperbolehkan aku untuk ikut dengan Sukma.

Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga aku menuruti perkataan laki-laki itu agar aku tidak ikut dengan Sukma. Sikap Sukma terlihat aneh, Suka terlihat sama sekali tidak keberatan untuk memberikan kalungnya pada laki-laki itu. Setelah Sukma memberikan kalung itu, kami hanya terdiam dan laki-laki itu segera berpamitan untuk pergi.

Aku dan Sukma sungguh merasa tidak berdaya sehingga kami tidak bisa untuk berkata apa-apa lagi di depan laki-laki itu. Lalu laki-laki itu menepuk kedua pundak kami secara bergantian.

Aku dan Sukma sungguh bingung, beberapa menit setelah laki-laki itu pergi, kami seakan baru menyadari apa yang telah kami lakukan. Kami menyesal telah memberikan perhiasan itu pada laki-laki yang tidak kami kenal. Tak terasa air mata ku menetes membasahi pipi dan melihat aku meneteskan air mata, Sukma pun ikut menangis.

Kami sungguh takut untuk pulang. Kami takut orang tua kami mengetahui semua yang telah terjadi, kami takut mengadapi kemarahan orang tua kami. Kami menyadari kalau sepandai-pandai kami menyembunyikan kejadian ini pada orang tua kami, pasti akhirnya akan ketahuan juga.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak pergi ke rumah Rensy dan kembali pulang ke rumah kami masing-masing. Setelah memarkir motor di halaman rumah Sukma, tetapi setibanya di depan pintu kami berhenti. Kami sungguh tidak berani menghadapi orang tua Sukma. Kaget bukan main rasanya, jantung kami seakan mau copot saat Ayah dan Ibu Sukma tiba-tiba menegur kami dari dalam rumah dan mereka pun ikut terkejut melihat tingkah laku kami yang seperti itu lalu mereka bertanya apa yang terjadi pada kami sehingga kami hanya tegak di depan pintu.

Lalu orang tua Sukma menyuruh kami masuk ke dalam rumah. Setelah duduk, Sukma memberitahukan pada orang tuanya kalau kalungnya telah hilang. Kedua orang tua Sukma menatap kami dengan tatapan yang tajam. Lalu mereka melontarkan banyak pertanyaan pada kami tapi kami hanya bisa menangis.

Setelah dicecar dengan banyak pertanyaan akhirnya aku memberanikan diri untuk menceritakan kronologi kejadian itu. Orang tua Sukma hanya bisa diam lalu mereka memeluk kami secara bergantian dan mereka memaafkan kami.

Orang tua Sukma marah bukan hanya karena kalung itu hilang, memang orang tua Sukma mengatakan bahwa  mereka kecewa karena kalung itu adalah hadiah ulang tahun Sukma dari mereka, dan saat memberikan kalung itu mereka berpesan pada Sukma untuk selalu menjaga kalung itu. Tapi pada kenyataannya kalung itu telah hilang. Selain itu orang tua Sukma marah karena kecerobohan kami dan karena sikap kami yang tidak hati-hati pada orang yang tidak kami kenal. Tapi alhamdulillah mereka telah memaafkan kami.

Setelah kami sedikit lega karena telah menghadapi orang tua Sukma, kini giliranku menghadapi orang tuaku. Aku segera berpamitan dengan orang tua Sukma untuk pulang, tapi pada saat aku berpamitan, Sukma juga ikut berpamitan untuk ikut dengan aku.

Aku langsung menolaknya, tapi Sukma cepat-cepat mengatakan bahwa dia tidak tega membiarkan aku untuk menghadapi orang tuaku dan Sukma mengatakan bahwa mengatakan hal ini pada orang tuaku adalah tanggung jawab bersama, aku segera menjawab kalau aku mampu menghadapi orang tuaku. Aku segera berpamitan untuk pulang.

Setelah sampai di rumah, aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Sungguh jantungku serasa berhenti berdetak, nafasku terasa sesak dan aku sama sekali tidak mempunyai nyali untuk menghadapi orang tuaku. Tapi tidak ada pilihan lain selain aku menceritakan kejadian itu pada orang tuaku. Memang bukan perhiasanku yang telah hilang, tapi aku telah terbiasa sejak kecil selalu menceritakan apapun yang terjadi pada diriku kepada orang tuaku.

Saat aku terdiam, tiba-tiba suara Ayah dan Ibuku terdeengar menjawab salam yang telah aku ucapkan. Kakiku sungguh terasa berat untuk ku langkahkan masuk ke dalam rrumah. Setelah masuk aku langsung duduk di sofa di ruang tamu kami dan orang tuaku duduk berdampingan di hadapanku. Aku menghela nafas panjang dan mulai menceritakan kronologi kejadian penipuan itu.

Kedua orang tuaku memberikan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan dari orang tua Sukma. Aku menjawab pertanyaan itu dengan tenang. Setelah mendengar ceritaku akhirnya orang tuaku memaafkan aku dan memberikan nasehat-nasehat padaku agar peristiwa seperti itu tidak terulang lagi.

Aku dan Sukma menjadikan peristiwa penipuan ini sebagai pelajaran yang sangat berharga, supaya kami tidak ceroboh dan selalu bersikap hati-hati pada orang yang tidak kami kenal.

 

By Pipin Merlita II C

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: