TEMAN CURHAT

Karangan Deskripsi

Waktu  terus berjalan, andau dapat ku putar kembali aku ingin mengulang saat yang dulu. Masa-masa SMA yang indah bersamanya.

Cowok kelas X1 IPS itu benar-benar baik dan pintar. Dia memiliki kelebihan dibidang seni. Ketika kukatakan bahwa dia mempunyai bakat bernyanyi, dia hanya tersenyum, lagi-lagi menggerakkan ekor matanya. Aku kagum padanya. Kenangan terindahku bersamanya tak terlupakan. Apalagi ketuka ku putar kembali lagu laroca yang berjudul Teman Curhat. Seakan-akan dia hadir kembali di hatiku.

Viki nama cowok berusia 17 tahun itu adalah adik kelasku. Ia sering menelponku. Setiap kali menelponku, ia tak pernah lupa menanyakan kabar. Dia cowok humoris. Dimana ada dia, suasana menjadi seru dan ceria.

Aku mengenal Viki 2 tahun yang lalu waktu SMA. Saat dia mengikuti lomba baca al-quran. Mula-mula hanya kenalan biasa namun lama kelamaan kami makin akrab. Bahkan aku sering kangen dengan humor-humornya yang lucu dan segar.

Sering keluar kata-kata dari teman yang tidak enak untuk didengar. Ih…………Bronis! Emang nggak ada yang lain apa? Lagian si dia mau di kemanain?. Duh rasanya malu banget dapat ejekan dari mereka-mereka apalagi diwaktu aku bersama Viki. Mereka selalu jail, padahal aku dan Viki tidak mempunyai hubunga lain selain berteman.

Selama aku berteman dengan Viki banyak sekali pengaruh dan kesan positif darinya. Walaupun dia adik kelasku, ia mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang luas,

Di siang hari yang cerah HPku berdering. Viki menelponku ia pun tak lupa menanyakan kabar. Kmi bercakap-cakap tentang aktivatas di sekolah. Walaupun ku dan Viki satu sekolah namun aku jarang ketemu. Apalagi dengan kondisi kelasku yang berjauhan dengan kelasnya.

Aku termenung mendengar pertanyaannya. Aku merasa ada yang berbeda pada diri Viki. Tapi kenapa ketika aku mendengar pertanyaan darinya hatiku berat untuk menjawab. Ya Tuhan kenapa ketika dia bertanya statusku aku tak sanggup mengatakan kebenaran padanya. Salahkah aku bila menyimpan rasa ini padanya.

Viki sudah lama berhubungan dengan Vina dan aku yakin kalau Viki juga sayang padanya. Pertanyaan dia barusan pasti tidak ada maksud yang lain.

“ Ayuk”. Terdengar suara Viki di HP.

“ Astaga kenapa aku termenung memikirkan hal itu”.

“ Ayuk kenapa ditanya kok diam saja”.

“ Sudahlah untuk apa adik Tanya hal itu”. Aku mengalihkan pembicaraan padanya. Seketika itu muncul panggilan kedua di HPku. Aku terkujut ternyata kak Rian memangil. Aku bingung dan panic. Bagaimana kalau kak Rian tahu tentang kedekatanku dengan Viki. Kak Rian adalah cowok yang baik. Selama aku menjalin hobungan dengannya dia selalu perhatian bahkan dia selalu ada disaat aku butuh pertolongannya.

Komunikasiku debgan Viki terputus. Mungkin karena jaringan yang tidak mendukung. Aku langsung mengangkat telpon dari kak Rian. Kak Rian yang biasa menyapaku dengan suara lembut kini tak lagi melainkan dengan nada berubah menandakan sikap marahnya.

Aku berbohong padanya. Tamar teman kelasku yang barusa menelpon. Dia bertanya tentang pelajaran tadi pagi. Karena suaraku yang gagap dan kata yang terbatah-batah membuat kak Rian semakin curiga padaku. Ia terdiam, menutup pembicaraannya lalu mematikan pembicaraannya.

Hari ke hari telah berlalu, sudah seminggu lebih Viki tidak menghubungiku bahkan dia selalu menghindari telponku padahal biasanya hamper setiap hari dia mengontak HPku dan mengirim SMS.

Dering SMS membuat aku tersentak dalam lamunan. Viki mengirim SMS. Betapa sedih hatiku setelah membaca SMS darinya.

“ Ayuk. Maafin aku, mingkin mulai sekarang aku tak lagi menghubungimu. Jujur aku memang suka padamu. Namun tak pernah terlintas dibenakku aku akan merusak hubungan kalian. Tidak pernah……………………………!

Hatiku hancur seakan aku telah berpisah dengan orang yang begitu berarti dalam hidupku. Pikiranku terjurus pada kak Rian. Mungkinkah dia yang melakukan semua ini. Aku mengeluarkan HP dalam tas lalu menelpon kak Rian. Aku tak pernah berpikir kalau kak Rian begitu kecewa padaku, ketakutanku  selama ini telah terjadi. kak Rian telah mengetahui semuanya entah darimana ia tahu, tapi sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti suatu saat akan tercium juga baunya. Aku mearasa bersalah. Selama ini aku telah berubah padanya apalagi sejak kenal Viki. Aku seakan-akan lupa pada kak Rian, bahkan aku selalu beralasan disaat dia menelponku. Entah sibuk banyak tugas dan sebagainya.

Keesokan harinya dipagi yang cerah, aku duduk didepan kelas, sembari menunggu kedatangan teman-teman. Tiba-tiba seorang cowok dengan postur tubuh tinggi, rambut lurus dengan membawa gitar berdiri di sebelahku.

“ Viki?”. Aku memanggilnya dengan terkejut. Dia hanya tersenyum lalu duduk disampingku. Ini kesempatanku untuj meminta maaf kepadanya.

“ Tidak perlu meminta maaf, ini semua bukan salahmu tapi aku yang terlalu berharap?”. Ujar Viki padaku.

“Maksudmu?” aku yak mengerti dengan kata-kata Viki.

“Kak Rian beruntung mempumyai cewek yang baik seperti ayuk?”.

“ ah, kamu ini dad-ada saja Viki”. Tak kuasa aku menahan senyum.

“ Kapan aku bias bersamamu?”.

Napasku seakan berhenti mendengar ucapan itu, seolah semua itu tak mungkin terjadi baaikan pungguk merinduka bulan.

“ kita tak mungkin bersama karena ada dua hati yang terluka jika kita bersatu”.

“ Yah aku tahu ayuk menyanyangi kak Rian. Mungkin kak Rian memang yang terbaik untuk ayuk”. Raut wajah dan suara Viki begitu memelas.

“ Viki aku tak mungkin menghianati cinta kak Rian. Dia terlalu baik padaku biarlah takdir yang memisahkan kami. Viki juga tidak sendiri tapi ada Vina yang setia menemani. Lagian kita lebih akrab sebagai ayuk dan adik”. Aku berusha menghiburnya.

“Ayuk tidak tahu semuanya mungkin hanya tuhan yang tahu untuk siapa perasaan ini?”

“ sudahlah aku tahu perasaanmu hanya untuk Vina, iya kan?”.

Sebenarnya aku melihat ada sesuatu yang disimpan di benak Viki sepertinya ia ingin mengatakannya namun ia tak sanggup.

“Ayuk mungkin saat ini kita tidak dapat bersama tapi aku berharap suatu saat nanti Tuhan memberikan kesempatan kepadaku, untuk bisa bersamamu. Aku memejamkan mata, manarik napas panjang mencoba menenangkan batinku. Viki memetik gitarnya lalu bernyanyi.

 

Ku tatap wajahmu, saat pertama kita bertemu

Terasa bergetar jiwaku saat kau tersenyum padaku

Menawan indah aku, bibirmu seakan mengisyaratkan

Dekaplah padaku………..ooooooo

Semua hilang seketika saat dia berkata

Aku sudah ada yang punya.

Dia bukan milikku, dia hanya kenangan indah

Yang melintas dimataku

Aku bukanlah kasihmu aku hanya teman curhatmu.

 

Aku tak kuasa menahan air mata ketika Viki menyanyikan lagu itu. Viki begitu mendalami syairnya. Ia memandangku denga mata elangnya. Sorot matanya begitu lembut, aku tak mampu malihatmu.

Bagiku Viki adalah sahabat yang baik. Walaupun sekarang jarak telah memisahkan kami, namun komunikasi tak pernah putus. Dia masih sering menelponku. Aku terharu mendengar Viki tak lagi berhubungan denga Vina.

Sampai saat ini, Viki masih mengharapkan cintaku. Namun kesempatan iu tak pernah ada untuknya. Dua bulan yang lalu aku telah menjalin kembali hubunganku dengan kak Rian. Setelah 9 bulan kami berpisah. Aku tak bias membohongi perasaanku, kalau aku masih saying padanya. Mungkin Viki ada bukan sebagai kekasih untukku melainkan sebagai teman curhat.

 

By Saliyah II C

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: